Keluhkan UKT Terlampau Tinggi, Mahasiswa Sampai Mengundurkan Diri

Lpmarena.com, Rohandi, siswa asal Madarasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Binong, Kabupaten Subang terpaksa mengundurkan diri dari jatah kursi bangku kuliah UIN Sunan Kalijaga. Penghasilan orang tua yang hanya berprofesi sebagai buruh tidak mencukupi biaya yang harus ditanggung.

Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp. 2.000.000,00 dirasa memberatkan bagi keluarganya yang berpenghasilan rata-rata Rp 600.000,00 per bulan. “Pas tahu dapat UKT dua juta tak tanyain ke ibu, bilangnya nggak sanggup,” jelas Rohandi yang akrab disapa Han. Selasa (21/06/2016).

Rohandi sendiri terdaftar sebagai calon mahasiswa baru program studi biologi diterima oleh UIN Suka melalui jalur masuk SNMPTN. Setelah dinyatakan diterima, Han mendapat UKT golongan II. Akan tetapi, biaya yang dirasa mahal memutuskan harapannya untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Setelah alur pendaftaran tahap 1 itu ada pemberitahuan dapat golongan II. Pas tahap kedua aku nggak ikut. Soalnya itu disuruh bayar ke bank dulu. Aku nggak jadi nglanjutin,” terangnya.

Ketika dikonfirmasi soal pengajuan keberatan kepada pihak kampus, Han menjelaskan sudah dilakukannya. Tidak adanya pihak yang dikenal untuk nantinya dapat membantu masalah yang dihadapi membuat pengajuan tersebut tidak maksimal. Sudah beberapa kali Han mencoba menghubungi pihak UIN Suka melalui pesan elektronik (e-mail). Akan tetapi, pihak UIN Suka belum juga memberikan tanggapan sampai sekarang. “Aku udah ngirim e-mail ke bagian humas itu tiga kali. Terus juga ke bagian keuangan dua kali, tapi belum dibalas,” tutur Han.

Mahalnya tarif kuliah yang dipatok oleh UIN Suka dirasa banyak memberatkan mahasiswa yang baru mau masuk. Ketidaksesuaian penggolongan, kenaikan tarif di tiap-tiap golongan, dan ketidaktahuan prosedural pengisian menjadi masalah yang mengikuti.

Rahayu Tri Inawati, calon Mahaiswa baru asal Sleman yang terdaftar di program studi Ilmu Perpustakaan juga mengeluhkan perihal nominal UKT yang harus ditanggung. Biaya kuliah sebesar Rp. 2.250.000,00 tidak sebanding dengan penghasilan orang tua yang hanya rata-rata Rp 600.000,00 rupiah tiap bulannya. Apalagi Ina, sapaan akrabnya, hanya mengandalkan ibu semata untuk membiayai kebutuhan kuliah. Sempat ada keluhan dari ibunya soal nominal yang terlalu tinggi tersebut. “Sebenarnya UKT segitu ibu nggak  dukung. Ibu udah berulang kali ingetin aku buat suruh minta keringanan,” papar Ina.

Senada dengan Ina, Firdiansyah Hidayatullah, calon mahasiswa baru program studi Ilmu Hukum, juga terbebani dengan golongan UKT yang didapat. Nominal sebesar Rp 7.017.500,00 oleh orang tuanya dikeluhkan. Orang tua Firdiansyah masih juga menanggung biaya kuliah dari kakaknya yang berada di Malang. Sudah ada konfirmasi ke pihak UIN SUKA. Beberapa kali ayah Firdiansyah menanyakan langsung kepada pimpinan birokrasi UIN Suka melalui telepon seluler. Akan tetapi, tidak ada solusi pasti yang dapat meringankan beban UKT tersebut.

Ketika ditemui di depan Masjid Kampus UGM, Firdiansyah juga menceritakan soal pegawai UIN Suka yang berkomentar soal biaya yang ditanggungnya. Itu terjadi ketika proses penyerahan berkas administrasi tahap kedua.

“Pas nunjukin nota pembayaran itu petugasnya bilang, ‘loh mas bener nominal UKT-nya segini? Kok nggak di SAINTEK aja. Biasanya nominal segitu itu ya di SAINTEK. Paling mahal di sana. Tapi kalau mampu ya nggak apa-apa sih,’ begitu bilangnya,” terang Firdiansyah.

Reporter: M. Rouf dan Agus T.

Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of