Aspek Lingkungan Pembangunan Bandara Kulon Progo

Lpmarena.com, Eksekusi rencana pembangunan Bandara Kulon Progo telah berjalan lima tahun. Penolakan dan perlawanan dari masyarakat sampai hari ini masih terus dikumandangkan. Di samping soal kedaulatan pangan dan ganti untung yang tak didapat, pembangunan bandara juga ditolak dari aspek lingkungan. Soal terakhir ini yang coba diangkat oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja dalam diskusi dan buka bersama bertajuk Menimbang Kembali Rencana Pembangunan Bandara Kulon Progo di Yogyakarta sebagai Pembangunan Berresiko Terhadap Lingkungan  pada sabtu, (25/06), di Cafe Cangkir 6 Joglo, Bintaran.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan diantaranya adanya patahan tepat di bawah lokasi pembangunan, sumber air di Kulon Progo yang akan sulit untuk memenuhi kebutuhan semua masyarakat jika dibangun bandara, dan ancaman sunami. Hal ini disampaikan oleh Eko Teguh, akademisi geologi dan bencana dari UPN Yogyakarta. Sebelum ini, Eko juga aktif dalam advokasi masyarakat-masyarakat terdampak pembangunan yang rawan bencana, seperti di Teluk Benoa Bali, dan pembuatan film pendek Belakang Hotel.

Watin, audience yang merupakan warga dari Parangkusumo turut berkomentar dalam diskusi tersebut. Menurutnya, pembangunan yang berdampak pada penggusuran warga bukan hanya di Kulon Progo, melainkan di kota jogja dan di tempatnya, Parangkusumo. Pembangunan semacam itu hanya kedok untuk menggandeng investor dan kepentngan pribadi. “Raono sejarahe rakyat di sejahterakan, mbelgedes!”

Komentar lain dilontarkan oleh seorang ibu yang juga dari Parangkusumo. Menurutnya semua elemen dari rakyat, intelektual, dan mahasiswa harus bersatu dalam menghadapi pembangunan-pembangunan kapitalistik ini. “Lawannya orang nomer satu di jogja, jadi kita harus bersatu!” Serunya pada peserta diskusi.

Reporter: Lugas

Redaktur: Subarkah

Komentar

komentar

Baca juga  Mahasiswa PMI, Mahasiswa Pemberdaya Masyarakat

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of