Memanusiakan Orang Gila

Memanusiakan Orang Gila

Lpmarena.com, Sawang Sinawang, forum selapan malam Jumat Kliwon menggelar diskusi edisi perdananya bertema “Sinau Nguwongke Wong” (Belajar Memanusiakan Manusia) di Mbelinger Codai, Jl. Kebun Raya 43 Jogja, Kamis (23/06/2016). Menghadirkan Zuhridha Siregar, pegiat sosial di Yogyakarta.

Diskusi sawang sinawang ini diawali dengan perkenalan masing-masing peserta yang hadir satu per satu, sehingga tercipta suasana hangat saling kenal mengenal. Kemudian disusul dengan cerita dari Rut, begitu panggilan akrab Zuhridha. Orang Medan yang merantau ke Yogyakarta dan  ketika masih menjadi mahasiswa sudah melakukan kepedulian riil-nya terhadap orang gila.

“Di Jogja yang sedemikian luas, hanya sedikit yang waras. Kebanyakan kita sebenarnya orang gila, yang ketika bertemu dengan orang gila tidak ada interesting, sehingga kita selalu butuh dikasihani. Bu Rut dukunnya orang gila,” kata Sugito Ha Es, pemandu diskusi.

Seringkali kita menganggap, orang yang punya kekurangan itu tidak berguna, bagi Rut tidak. “Tahun 2004 saya ketemu orang gila, saya sapa, saya mandikan, saya ajak nyanyi, dan dia merasa diperhatikan, dia merasa dihargai,” kata Rut.

Cerita lain yang tak kalah menyentuh yakni kisah anak ibu kos (di mana Rut kos) memiliki anak laki-laki gila. Anak ibu kos yang gila tersebut sering ada di jalan, tapi tidak diurusi orang tuanya. Lalu Rut membawa anak tersebut pulang ke kos, Rut merawatnya. “Ibunya sampai bilang ‘kosnya siapa yang bayar?’ ibunya saja begitu, seperti (anaknya) tidak ada gunanya. Lalu, saya yang bayar kosnya,” kisah Rut. Keajaiban terjadi ketika anak ibu kos tersebut perlahan kejiwaannya membaik, karena bisa berjualan donat.

Di lain waktu juga ketika Rut berjualan di alun-alun utara (altar) Yogyakarta, ada orang gila yang sering meminta minuman padanya.  Rut memberikan minuman dagangannya asalkan orang gila tersebut mau menghitung jumlah bus yang ada di altar. “Lama-lama dia pintar berhitung,” kata Rut. “Kita belajar menghargai orang. Oh ya, punya kelebihan,” tambahnya.

Baca juga  Masyarakat UIN Menuntut Pemilwa Damai

Untuk melakukan pedekatan terhadap orang gila. Secara ringkas Rut memberikan tiga hal yang menjadi kekuatan. Yakni: doa, kasih sayang, dan berikan yang terbaik. “Doa itu kekuatan. Kita jangan takut dulu. Berikanlah yang baik, jangan berikan sisa,” kata Rut. Bagi Rut, ada satu kebahagiaan ketika dapat membantu orang. Satu prisnipnya, yaitu tidak ada kata putus asa.

Saat ini meski dengan keterbatasan finansial, Rut juga peduli terhadap gelandangan dan anak-anak jalanan. Hingga tercipta pendirian Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) oleh para relawan. Rumah belajar ini mendidik anak-anak yang terlantar, baik oleh keluarga atau lingkungan.

“Bukan mimpi saya, tapi mimpi bersama. Kita lakukan dengan rendah hati. Marilah membangun Indonesia dari bawah, dari anak-anaknya,” kata Rut ketika ditanya tentang mimpinya. Yang menjadi keunikan juga, Rut ketika diskusi ini dilaksanakan dengan malu mengatakan bahwa dirinya gemetar berbicara di depan. Menurut penuturan Sugito, ketika banyak orang yang berebut publikasi di internet atau di mana pun, Rut tidak mau dirinya dipublikasikan, ia menolak ketika ada yang ingin membuat profilnya.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of