Simulacra di Tengah Kedangkalan Hyperkonsumerisme

Simulacra di Tengah Kedangkalan Hyperkonsumerisme

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Sangat mudah untuk mengambil foto, tapi lebih sulit untuk membuat sebuah adikarya dalam fotografi dibandingkan dengan media seni lainnya” ─ Ansel Adams

Di ruang yang kurang lebih berukuran 4×4 meter, fotografer muda Alva Christo YW (20 tahun) memamerkan 23 karya fotonya. Pameran ini bertajuk “Simulacra”, yang diambil dari konsep nabi postmodern Prancis, Jean Baudrillard. Simulacra ditujukan Alva untuk membawa pengunjung pada persinggungan antara dunia nyata dan dunia simulasi. Pameran tersebut sekaligus menjadi kritik dan peringatan akan konsumerisme yang menjangkiti manusia saat ini, tak hanya di pola keseharian, tapi juga telah masuk sampai ke sel-sel tubuh.

Simulasi secara awam diartikan sebagai suatu model. Penciptaan model ini diambil dari kenyataan yang berkelindan dengan “mitos” ala Roland Barthes, yang mitos tersebut susah dibuktikan kebenarannya. Simulasi mewakili apapun akan idealitas seseorang, mulai dari konsep tentang pendidikan, seni, cinta, rumah, dan serupanya. Simulasi-simulasi tersebut sangat ideal, tapi ketika simulasi telah bercampur dengan kenyataan yang keduanya tak bisa dibedakan akan muncul fenomena: hiperrealitas. Di mana antara yang nyata dan tidak nyata menjadi remang-remang, sulit dibedakan.

 

av evaporate

Foto: “Evaporate” (sumber alvachristo.com)

Misal simulasi akan pengetahuan ditunjukkan dalam foto berjudul “Evaporate” dengan caption: Knowledge tends to be temporary nowadays, with shallow understandings and lightweight memory capacity. Because we received a lot of information everyday, sometimes we just skim through the information. Di foto ini Alva ingin bilang informasi itu ringan, per detik bisa jadi sudah ganti topik. Ini ditampilkan lewat sign model yang seolah bilang jika buku adalah jendela dunia. Terlihat soerang wanita muda melankolis dengan tatapan kosong melemparkan buku. Evaporate satu dimensi dengan foto berjudul Learn-loads. “Semua itu ringan, kayak minum kopi yang tidak kita endapkan langsung kita minum,” kata Alva saat berbincang-bincang mengenai Simulacra di rumah Kelas Pagi Yogyakarta, Rabu (20/7) malam.

Hiperrealitas membuat masyarakat sangat berlebihan mengkonsumsi hal-hal yang tidak jelas esensinya. Orang menkonsumsi, memakai, meggunakan sesuatu bukan atas keperluan (nilai guna) suatu barang, melainkan karena model-model yang telah diciptakan simulasi. Membeli dan memilih bukan karena butuh, tapi karena pengen. Lalu, masyarakat begitu lebai dalam menjaga pola-pola hidup dan nilai-nilai yang mereka junjung tinggi dalam simulacrum (tempat terjadinya simulasi) masing-masing. Di sinilah petaka konsumerisme yang menggedutkan para kapital. Ini dihadirkan misal dalam foto berjudul: Health Life, Expectations, dan Impress.

av diy

Foto: “DIY” (sumber alvachristo.com)

Konsumerisme yang bisa dikata telah hyper berefek pada kehidupan yang cenderung cepat dengan perilaku yang asosial, terlihat dalam foto berjudul DIY (Do It Yourself) dengan caption: Do it yourself. As everything is easier and efficient, we can do everything by our own. The industry is watching us while we are fulfilling our ego. We can make our own market, our own consumers. Foto yang mencoba berkata bahwa apa-apa bisa dilakukan sendiri. Alva melambangkan itu dengan musik dan wanita yang membawa piano mainan, yang diberi humor sentuhan mesin cuci di sampingnya sebagai simbol kecepatan.

Baca juga  Movie Day Out, Wujudkan Keseharian Menjadi Film

Kebanyakan simulasi dirancang oleh industrialisasi. Mereka menciptakan produk dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier yang kemudian disebarluaskan melalui media massa. Iklan, televisi, budaya cyber/internet menjadi aktor besar dalam simulasi yang menghadirkan realitas-realitas semu (hyperreality) tadi. Menariknya di sini Alva memperluas konsep Simulacra tidak sebatas pada dunia media massa, tapi digali dari diri individu meski beberapa ada yang dipaksakan.

av disapoint

Foto: “Dissapointment” (sumber alvachristo.com)

Hiperrealitas tak pelak juga menimbulkan frustasi, semisal dalam kumpulan foto berjudul  D.I.A.P (Dissapointment, Identity, Anxiety, Phobia). Dalam foto Disapointment tergambar penyesalan seorang wanita muda yang ditunjukkan dengan gesture-nya yang menunduk. Ditambah jika diperhatikan tirai di sebelah model wanita, di mana tirai yang lain lurus, di sampingnya ada tirai yang melenceng dan berbelok. Empat foto ini dihasilkan sepertinya dengan pajanan yang lama dengan aperture kecil sehingga mendapatkan kesan yang fokus, detail, dan tajam. Menampilkan kesan lembut dan persuasif manusia yang kecewa.

Apa yang dihasilkan oleh Alva dalam Simulacra merupakan simbol-simbol spontan nan literer yang kita tak perlu capek-capek mengartikannya. Terlebih dengan caption motivasi yang super sekali, yang bisa membuat orang merasa hiperbolis daripada kritis. Caption yang sangat lugas, ini sesuai dengan maksud Alva, “biar gak banyak mikir saya buat literal, foto juga literal. Digali dengan warna, komposisi, dan bentuk.” Mengingat Yogyakarta sendiri kota budaya yang menyajikan karya bersemiotik tinggi, pengakuan Alva ini lebih bernada pragmatis, bagi saya belum menantang olah pikir.

Sebelum menekan tombol rana, Alva sepertinya telah mengonsep foto-fotonya ini dengan short exposure, menghasilkan cetakan-cetakan yang cenderung close up. Beberapa foto juga dibuat dengan konsep hitam putih. Meski tak semua foto dilandasi oleh fotografi murninya Grup f/64 yang dipioneri fotografer Ansel Adams, Imogen Cunningham, Edward Weston, dan Willard Van Dyke yang membuat saya tertarik dengan manifestonya: “Fotografi murni adalah fotografi yang tidak memijam teknik, komposisi atau ide, tidak memiliki kualitas teknik, komposisi atau ide yang merupakan turunan dari bentuk seni lainnya.” Teknik produksi, pajanan, percetakan, hingga tata letak yang maksimal menghasilkan magnum opus.

Foto tentunya tidak asal memotret, ada wacana/tanda di balik itu. Juga tentang bagaimana agar foto dapat terasa oleh orang yang melihatnya. Lebih dalam, ini bisa dicapai dengan telaah kritis. Unsur sosial yang memihak kaum marjinal atau yang sosial bagi saya dalam pameran ini kurang. Padahal sebuah foto memiliki kewajiban sosial untuk menarasikan kebiadaban melalui seni, misalkan yang pernah dilakukan oleh fotografer Dorothea Lange dan Walker Evans yang memotret depresi ekonomi di Amerika Serikat kala itu. Di sini kebanyakan foto yang ditampilan nyaris semuanya adalah karya yang individual yang bisa dilihat dari pakaian dan ekspresinya sebagai kaum menengah ke atas.

Baca juga  Puisi-puisi Rudi Santoso

Alva belum menunjukkan potret-potret dari kisah-kisah tragis sosial atau penderitaan orang-orang miskin yang terlupakan, padahal mereka korban nyata konsumerisme. Mungkin bisa dimaklumi mengingat latar belakang Alva adalah seorang mahasiswa Fotografi yang kuliah di Florida, USA. Ia dikelilingi oleh budaya barat yang cenderung individualis dengan andalannya Do It Yourself tadi, yang berani memamerkan karya dengan blak-blakan tanpa takut digaruk oleh FPI, HTI, dan seorganisasinya seperti di Indonesia. Bahkan menurut cerita Alva, di Florida karya jelek pun masih diberi tepuk tangan. Tak heran pula, AS juga terkenal dengan gudangnya fotografer-fotografer handal, Alva sepertinya dipengaruhi oleh fotografer-fotografer AS seperti Alfred Stieglitz, Paul Strand, Minor White, dan sekomplotannya.

Terkait komunikasi massa, karya foto di Simulacra belum cukup komunikatif mempermainkan tanda. Alva belum membuat (setidaknya saya) larut dalam simulasi yang ia tawarkan. Saya belum mencapai, meminjam diksi Henri Cartier-Bresson akan Decisive Moment (momen kulminasi) guna menciptakan eyegasm. Meski ini proyek pameran tunggal pertama Alva yang diperuntukkan untuk publik, untuk ke depan komunikasi yang tak hanya mengurus soal individu bisa diseriusi lagi.

Sebab segala hal yang untuk publik bukanlah hal yang iseng-iseng!

Judul Pameran Simulacra │ Fotografer Alva Christo │ Durasi Penayangan 18-24 Juli 2016 (17.00-22.00)│ Tempat Kelas Pagi Yogyakarta, Jl. Brigjend Katamso GM II/1226 Prawirodirjan Yogyakarta

Isma Swastiningrum, fotografer amatir lahir dan batin, tertarik dengan jurnalisme fotografi. Suka klayapan dengan sepeda ke sudut-sudut gang untuk memfoto apa saja yang menarik, apa saja yang tidak direncanakan, apa saja yang mengandung pasal-pasal kemanusiaan.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of