Nasionalisme Harga Pertalite

Oleh: Imro’atussa’adah*

Layaknya mbak-mbak nge-hits yang bertambah usia, merayakan ulang tahun Indonesia adalah hal yang wajib. Setiap tahun, tepatnya tanggal 17 Agustus.  Masyarakat berbondong-bondong mengecat gapura. Menyulap desa menjadi pasar malam, penuh kerlap-kerlip lampu jalanan. Lomba kelereng, makan krupuk, dan panjat pinang juga tak pernah lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada bangsa yang merdeka sejak 17 agustus 1945. Berbagai perusahaan mendadak dermawan, mengobral promo dan diskon. Karena kurang pantas jika kemerdekaan Indonesia dirayakan hanya dengan meniup lilin. Mengingat kemerdekaan Indonesia dibayar dengan nyawa.

Sebagai BUMN, PT Pertamina tak kalah meriah dalam merayakan ulang tahun Indonesia yang ke-71. Pertamina memberikan promo cukup menarik, gratis pertalite di hari kemerdekaan dengan tiga syarat. Pertama, gratis 1 liter jika hafal teks proklamasi. Kedua, gratis 2 liter jika hafal pembukaan UUD 1945. Ketiga, gratis 3 liter jika hafal keduanya (teks proklamasi dan pembukaan UUD ‘45). Siapa yang tidak tertarik? Saya yakin, hampir semua rakyat tak sudi melewatkan rejeki nomplok tersebut. Ya.. itung-itung hemat uang bensin. Kan lumayan, uang bensin bisa dialokasikan untuk beli paketan internet. Bahkan, orang rela menghafal teks proklamasi dan pembukaan UUD ’45 secara dadakan. “Hanya dengan menghabiskan waktu 1-2 jam untuk menghafal, 2 minggu tak usah beli bensin”. Mungkin seperti itu yang mereka pikirkan.

Saya rasa, Kemurahan hati pertamina membebaskan biaya pertalite merupakan bentuk kekecewaannya terhadap nasionalisme bangsa Indonesia. Bukan sebagai ekspresi perayaan. Sudah jelas terlihat, syarat dan ketentuan berlaku. Mungkin tujuannya baik. Memupuk semangat nasionalisme di hari kemerdekaan Indonesia. Namun, pemupukan yang begitu dadakan, akan melahirkan rasa nasionalisme rasa mi instan, kenyang di saat itu, lapar kemudian.

Nasionalisme Momentuman, tumbuh hanya saat perayaan hari kemerdekaan. Wajar saja sehari menjelang hari kemerdekaan, kita sering menjumpai gapura desa yang awalnya usang mendadak menjadi kinclong warnanya. Jalan yang awalnya berlubang menjadi tertutup rapat tanpa celah. Andai hari kemerdekaan itu setiap hari, tak akan ada desa yang tak terawat.

Itu merupakan salah satu contoh kecil kesadaran nasionalisme belum mendarah daging dalam tubuh masyarakat Indonesia. Bukan sepenuhnya menjadi kesalahan masyarakat jika mereka belum mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Pemerintah juga turut andil. Beberapa tahun belakangan hingga saat ini, pemerintah begitu gencar melaksanakan proyek MP3EI. Menggusur lahan-lahan rakyat miskin untuk dijadikan hotel, mall, dan pabrik. Dengan dalih menyejahterahkan masyarakat. Seperti pada pembangunan Bandara Kulonprogo, pemerintah lebih memilih berpihak kepada investor daripada rakyatnya yang kehilangan lahan pertanian. Sumber penghidupan!. Parahnya, hanya 307 warga dari 11.000 warga terdampak bandara, bersikukuh mempertahankan lahan pertanian. Warga lainnya lebih memilih menjadi buruh. Membudakkan diri kepada kapitalisme. Perpanjangan kontrak freeport pada bulan juli lalu juga membuktikan asing masih diberi tempat yang cukup besar di ranah nasional. Berbeda dengan Soekarno yang dengan tegas menolak intervensi orang asing. Menjunjung tinggi nasionalisme bangsa Indonesia.

Jika program gratis pertalite hanya dilaksanakan saat momentum kemerdekaan, Pertamina tak beda dengan mereka yang sedang dilanda krisis nasionalisme. Hanya menunggu momentum. Tak lebih dari itu. Kalau pun pertamina benar-benar berniat memupuk jiwa nasionalisme masyarakat Indonesia, seharusnya mereka memberi tawaran yang lebih konkret, semisal memperbanyak subsidi BBM. Turunkan harga BBM. Supaya masyarakat percaya bahwa negara itu ada.

*Penulis adalah mahasiswa Ekonomi Syariah yang sudah jarang kuliah

Gambar: tempo.co

Beri Komentar

Send this to a friend