Era Modern Peran Perempuan Dipandang Sebelah Mata

Lpmarena.com, Sering kita jumpai perempuan turut serta bekerja di sawah, kebun, dan menjadi nelayan. Mereka berusaha untuk membantu perekonomian keluarga dan  memenuhi gizi keluarga. Namun peran perempuan masih tidak diakui sebagaimana semestinya, bahwa mereka juga menjalankan peran penting di dalam rantai pangan. Pernyataan tersebut dilontarkan Nila sebagai pemantik diskusi pada acara pembukaan sosialisasi lomba Female Food Hero di Kafe Uwong Coffee, Rabu (24/08).

“Contoh kecil status dalam KTP, bagi para petani atau nelayan laki-laki pada kolom status tertulis nelayan atau petani. Hal tersebut berbeda bagi petani atau nelayan perempuan, pada kolom status yang tertulis adalah Ibu Rumah Tangga. Hal itu menandakan bahwa perempuan tidak diakui,” jelas Nila.

Akan tetapi realita bahwa perempuan berperan aktif dalam rantai pangan, misalnya dalam proses tanam padi sesudah tanah dicangkul, perempuan yang bertugas menanam bibit. Oleh karenanya petani laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan yang lain,  tanggungan petani laki-laki sedikit berkurang, sehingga petani laki-laki tidak merasakan lelah yang berlebih sehingga tidak jatuh sakit. Apabila sakit maka pengeluaran keluarga bertambah.

Hasil sensus pertanian tahun 2013 yang diselenggarakan Badan Statistik  tercatat petani perempuan sebanyak 7,3 juta  dan juga pada sistem agraria yang diakui hanya peran laki-laki saja. “Contoh saat diminta tanda tangan masalah waris atau kredit di lembaga keuangan yang diakui secara legal hanyalah tanda tangan laki-laki saja,” ujarnya.

Peran laki-laki dinilai lebih berat  yang mana paling banyak menghasilkan keringat sehingga peran perempuan dinilai tidak diakui. Disambung dengan cerita narasumber kedua yakni Suparjiyem yang berprofesi sebagai petani perempuan yang diabadikan dalam sebuah documenter. Diceritakan bahwa keseharian dia adalah sebagai petani perempuan setiap hari ke ladang untuk bercocok tanam makanan lokal. Suparjiyem juga berjuang untuk mengedukasi dan mengajak para ibu-ibu supaya mereka bisa berperan aktif dalam perekonomian keluarga, tidak hanya diam di rumah.

“Keseharian saya  memang berada di ladang untuk mengajak para ibu-ibu itu  tak semudah yang dibayangkan. Pernah saya dianggap sebagai provokator, karena hakikatnya seorang istri tidak boleh keluar rumah. Dengan berkebun bisa menikmati hasil ladang sendiri dan menghidupi keluarga,” ujar Suparjiyem.

Reporter: Dewi Anggraini

Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of