Mengukur Kualitas Keberhasilan OPAK

Mengukur Kualitas Keberhasilan OPAK

Oleh: Pemoeda Bangsa*

Seksi mahasiswa perjuangan rakyat Indonesia, punya kebutuhan penting di ingkungan ini. Bukan untuk mengobral teori dan kesombongan sebagai pemasok kesadaran ke kepala buruh, tani, dan neayan. Akan tetapi untuk penghubung antara kegiatan pikiran dan kearifan mereka dengan fase-fase perjuangan menyusun kemerdekaan. Dan, sebagai kekuatan produktif, daya tahan juang ekonomi politik mereka yang akan menjadi gelombang besar pergerakan bersama kepemimpinan organisasi perjuangan yang siap sedia MENJADI MEREKA, bukan membawa mereka. (Manifesto politik NADEMKRA)

Barang tentu sudah menjadi ritualitas dalam dunia pendidikan. Bahwa awal mula masuk menjadi peserta didik harus menjalani proses pengenalan dunia akademik dan lembaga pendidikan yang terkait. Begitu halnya pada pendidikan tinggi, tak terkecuali di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Proses pengenalan akademik dan kampus dilaksanakan setiap kali penerimaan mahasiswa baru. Kegiatan tersebut di UIN Sunan Kalijaga dinamakan Orientasi Pengenalan Akademik dan Kampus (OPAK).

Pada tahun ajaran 2016/2017 ini, lebih dari 3000 mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta diwajibkan mengikuti OPAK. Diwajibkannya mahasiswa baru mengikuti kegiatan tersebut agar mahasiswa baru mengenali dunia akademik, lingkungan, serta budaya yang ada di dalam kampus. Ketika telah melewati kegiatan tersebut, mahasiswa baru diharapkan tidak kebingungan lagi dalam melaksanakan kegaiatan akademik maupun non-akademik di kemudian harinya. Paling tidak, mahasiswa baru nantinya bisa berproses secara maksimal di kampus. Pastinya, proses yang diharapkan dapat secara maksimal ditempuh oleh mereka adalah  pengembangan segala potensi yang dimilikinya. Hasilnya nanti mereka dapat melaksanakan tugas peran dan tanggung jawab intelektual, sosial, serta moral. Dan memang seperti itulah tujuan mulia pendidikan kita secara nasional yang coba direalisasikan melalui kegiatan OPAK salah satunya.

Membaca gesture tubuh OPAK

Sejauh dibaca ulang kegiatan OPAK di tahun-tahun sebelumnya, OPAK cenderung menggodok mahasiswa baru untuk secara maksimal mengembangkan kapasitas diri bagian non-akademik. Mengikuti organisasi daerah, organisasi pergerakan, Unit Kegiatan Mahasiswa serta komunitas-komunitas yang ada di kampus menjadi tawaran yang setiap kali pelaksanaan OPAK tidak terlupakan untuk ditanamkan pada diri pesertanya. Kecenderungan ini semakin kronik pada diri OPAK, ketika Sosialisasi Pembelajaran (Sospem) – kegiatan setelah OPAK – berkecenderungan mengarahkan mahasiswa baru untuk maksimal menjalani dunia akademiknya. Hingga ada istilah, OPAK adalah tesis dan antitesisnya berupa Sospem.

Kecenderungan yang diungkap tadi sejujurnya tidak perlu begitu dipermasalahkan. Sebab pada dasarnya, kedua kegiatan tersebut saling topang menopang dalam hal mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pun hari ini, jika melihat politikus nakal di atas sana, kedua kegiatan tersebut sekiranya layak didukung serta dikawal bersama-sama. Indonesia pada hari ini barangkali sudah memiliki banyak orang pintar, intelektual ulung, teknokrat, pun juga pemuka agama. Namun Indonesia hari ini masih krisis akan keberadaan seorang negarawan. Sosok generasi bangsa yang tidak sekedar punya kapasitas berpidato, berkhotbah, bersyair, berteori, berperang dan sejenisnya. Akan tetapi, sekaligus menyipan ruh kebangsaan dan kenegaraannya sebagai bagian dari rakyat Indonesia. Maka, ketika kedua kegiatan tersebut terutama OPAK terlaksana secara maksimal dan efektif, maka tak ayal, akan lahir 3000 lebih rakyat Indonesia yang memiliki jiwa negarawan, berperikemanusiaan, cerdas, berilmu pengetahuan luas, berakhlak mulia, dan penuh rasa tanggung jawab.

Baca juga  Seminar Nasional Jurusan Baru Akuntansi Syariah

Perlu evaluasi kualitatif

OPAK yang memiliki kecenderungan menanamkan perlunya (baca: wajibnya) pengembangan kapasitas diri non-akademik, selayaknya ada evaluasi yang tidak sekedar kuantitatif. Penggiringan alam sadar mahasiswa baru untuk mengarahkan diri kepada dunia non-akademik di kampus hingga hari ini jarang sekali diukur secara kualitatif. Padahal, saat prosesi OPAK, panitia OPAK sudah menghabiskan suara untuk teriak ke segala arah peserta supaya tertanamkan betul apa yang disampaikannya. “mahasiswa adalah agent of change, agent of social control, dialah yang mampu menggetarkan rezim penindas dan dialah pembawa perubahan jaman di masa yang akan datang bagi bangsa Indonesia. Revolusi! Satu komando satu tujuan”. Kurang lebih seperti itulah teriakan panitia OPAK demi terciptanya generasi bangsa yang memiliki jiwa negarawan.

Secara kuantitatif, hasil daripada pelaksanaan OPAK sangat mudah diukur atau dievaluasi. Bisa saja evaluasi kuantitatifnya berupa perkembangan jumlah, tingkat antusiasme dan intensitas mahasiswa baru yang kemudian ikut serta didalam komunitas-komunitas non-akademik, baik organisasi daerah, pergerakan maupun UKM. Namun dalam wilayah kualitatifnya, rasa-rasanya jika sudah ada yang mengevaluasinya, hal itu hanya menjadi obrolan ringan saat ngopi malam. Maka, dalam rangka turut mendorong keberhasilan OPAK, ukuran kualitatif begitu perlu diperhatikan.

Populisme, kritisisme, dan maju sebagai ukuran

Penanaman kedirian sebagai agent of change and social control tadi sekiranya bisa diukur dengan tingkat populisme yang dimiliki mahasiswa baru paska mengikuti kegiatan OPAK. Dengan populis, mahasiswa baru akan senang dan gampang bergaul bersama masyarakat terutama rakyat kecil (baca: tertindas). Sederhananya, dalam hal ini, ukurannya adalah seberapa jauh mahasiswa baru setelah mengikuti kegiatan OPAK mampu hidup, senang, bekerja, bergaul bersama masyarakat di sektornya masing-masing (buruh, tani, pedagang kaki lima, dan sebagainya). Kelihatannya sepele ukuran satu ini. Namun pada kenyataannya, bersanding bersama mereka sungguh tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya. Bahkan banyak di antara kita – mahasiswa – yang kesulitan bergaul dengan masyarakat sekitarnya paska ia lulus studi atau kuliah. Lantas jika demikian, ada yang salahkah dengan pelaksanaan OPAK yang diikutinya?

Baca juga  PUISI-PUISI BERNANDO J. SUJIBTO: MATA NAZAR

Selain ukuran populis di atas, kritis pula bisa dijadikan ukuran kualitatif dalam pelaksanaan OPAK. Pemecahan suatu masalah struktural yang dialami oleh masyarakat dan negara atau setidaknya kampus dan pendidikan secara radikal (mendalam) serta mampu menawarkan suatu tindakan solutif, itulah kritis yang dimaksudkan menjadi ukuran. Mengapa kritis perlu diukur? Jawabannya kembali pada teriakan panitia OPAK di atas. Menjadi changer maupun controller, tidak akan mudah jika tidak punya daya nalar pikir kritis yang tajam. Mungkin yang ada, jika keluaran OPAK tidak memiliki daya nalar kritis, ia tidak akan mampu melihat adanya persoalan (kondisi) yang perlu diubah dan dikontrol. Sehingga, tanpa disadari ia turut terbawa arus kondisi dan persoalan struktural yang dialami bersama masyarakat lainnya. Bahkan lebih celaka lagi jika keluaran OPAK yang seharus menjadi changer dan social controller tadi, malah ikut didalam proses pelanggengan persoalan struktural dan penindasan. Na’udzubillah min dzalik.

Dalam ukuran kritis ini, bisa saja diambil ukurannya berupa sebarapa jauh antusiasme dan intensitas keluaran OPAK (mahasiswa baru) pada saat membicarakan persoalan diri, lingkungan, masyarakat, negara, dan bangsa.

Maju adalah tawaran ukuran terakhir. Progresifisme atau maju ini haruslah ada dalam diri keluaran OPAK. Berkembang, menatap ke depan, memegang teguh harapan, dan terus menerus memeras keringat dalam rangka memutar roda sejarah ke arah kemajuan umat manusia dan kemanusiaan.  Seorang pembawa perubahan tidak akan mudah jika tidak memiliki jiwa visioner atau progresif (maju). Karena seorang pembawa perubahan, pastilah ia selalu lahir dari kondisi kemunduran, kegelapan, ketertindasan, dan kemandegan.

Untuk ukuran konkretnya, erat kaitannya dengan nalar kritis tadi. Jiwa-jiwa maju (progresif) selalu mampu memberikan tawaran solutif atas persoalan yang terjadi. Dengan bahan pembacaan yang luas, menatap jangka panjang dan melihat masa depan, solusi yang ditawarkan selalu mengentaskan kondisi situasi dari yang sebelumnya. POPULIS, KRITIS, DAN MAJU adalah bibit yang harus tertanam kuat dalam diri seorang INTELEKTUAL yang ingin benar-benar menjadi PEJUANG RAKYAT. []

*Penulis rakyat Indonesia, kuliah di UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of