Gado-gado: Serumpun Percik Perlawanan

Pada mulanya sebongkah nalar nanar di dalam cangkang batok kepala seorang manusia. Hatta, ia lahir di pangkuannya menjelma bahasa kata. Menjadi cerita. Menjadi abadi dalam sejarah. Dari masa ke untuk massa.

Pramoedya Ananta Toer tak kuasa lagi membendung pengalaman-pengalaman campur aduk yang dikandung batok kepalanya. Sampai pada pembebasan semua tawanan politik oleh Belanda pada akhir 1949. Empat tahun pasca kemerdekaan Indonesia ia melahirkan serumpun karya cerita pendek dalam bungkus Percikan Revolusi Subuh. Ia menyebutnya gado-gado, yang juga merupakan salah satu cerita pendeknya. Nama gado-gado, ia dapati dari seorang tamu yang membawakannya makanan gado-gado saat di sel Bukit duri.

Dari sekian berpuluh karya Pram, Gado-gado merupakan manifestasi dari ragam potret situasi kondisi yang terjadi pasca kemerdekaan, yang dielaborasi dalam sebuah karya sastra. Dari ragam potret tersebut tersusun menjadi lanskap utuh bagian dari fakta sejarah perjuangan Indonesia.

Membaca Gado-gado, barangkali akhirnya kita tahu rupa perjuangan, pengorbanan, konflik yang tak berkesudahan sampai bau amis darah kesakitan. Ia adalah sebuah puzzle sejarah yang kemudian menjadi satu kesatuan utuh. Memberi cita rasa baru memandang sejarah kemerdekaan dari relung yang paling gelap. Gado-gado bagi Pram “adalah suatu rasa yang bertaburan sebagai awan berarak di tempurung langit kenangan kita”. Namun, pada akhirnya, ia mesti mengikhlaskan pula gado-gado pada mulut penikmatnya.

Pram mengajak kita tamasya ke dalam pengalaman lampau, paling campur aduk. Kumpulan cerpennya berkisar dari waktu 1945-1949, dimana terjadi beberapa peristiwa penting di dalamnya. Gado-gado, mencoba menyuguhkan landskap peristiwa-peristiwa lain. Ia menceburkan kita sebagai pembaca kedalam situasi real dan bukan sebatas imaji. Kita akan menjumpai peristiwa-peristiwa kecil seperti sebuah penyerangan di waktu subuh buta, ketika kopral Manap harus diamputasi kakinya. Atau saat peristiwa kegaduhan di ibu kota Jakarta, oleh kelompok pro kemerdekaan dan kelompok pro Belanda pada akhir 1945. Saat itu geger Nica di Jakarta. Pada 1 Januari 1946, Soekarno memindahkan para petinggi menggunakan Kereta Luar Biasa (KLB). Dalam potret lain, ia menggambarkan situasi itu dengan detil melalui cerpennya berjudul kemelut.

Baca juga  Cerita kepada Bintang Malam

Dalam pengantarnya, H.B. Yasin mengatakan tiap karya sastra mempunyai tiga macam anasir: nilai seni, nilai pengetahuan, dan nilai susila. Dimana dari ketiganya ada di dalam cerpen Pram. Di sisi lain, strategi tekstual merupakan pola negosiasi yang dilakukan oleh satu teks atau lebih. Walaupun di dalam rangkaian cerpennya tidak ada integral tektualitas antara teks satu dan teks lainnya, melalui tiga anasir tadi kita dapat menemukan sebuah fragmen keseluruhan berupa percikan-percikan perlawanan.

Adalah keniscayaan, dalam semesta imajinasi manusia, para sastrawan adalah Tuhan-Tuhan kecil yang selalu bergairah meniupkan nyawa dan mengalurkan hidup tokoh-tokoh ceritanya. Karya sastra terasa hidup karena ia memiliki dunia dan tuhannya sendiri-teks dan sang pengarang. Begitupun di dalam cerpen Pram, ia mencoba menghidupkan kembali tokoh-tokoh kecil sejarah kemerdekaan indonesia.

Dalam kritik kesusastraan, seperti apa dijelaskan Albertine Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra yang menjelaskan beberapa metode misalnya, telling (langsung), showing (tidak langsung), gaya bahasa (figuratif); simile, metafor, personifikasi, dan sudut pandang (point of view). Sejarah juga menjadi pondasi dalam memperkuat jalannya cerita. Sejarah adalah bumbu lain untuk memikat emosi si pembaca.Ia menjadi saksi dimana sejarah juga memiliki keterikatan melalui ruang dan waktu sebuah cerita dibangun. Dalam hal ini Pram mampu meretas batas itu.

Percikan Revolusi Subuh yang terbagi menjadi dua bab cerita yang terbangun dari 205 halaman — sebuah prestasi monumental, berada dalam tradisi realisme yang di Indonesia bermula sejak awal abad ke-20 dengan para sastrawan lain seperti Marah Rusli, Mas Marco, dan Mochtar Lubis. Sebuah karya yang tidak hanya menuturkan tokoh dan dunianya kepada pembaca, melalui bagian demi bagian yang tersusun-secara langsung atau tidak-menciptakan satu bentuk. Sebongkah perlawanan dalam sastra realisme sosial. Sastra sebagai suara kritik keadaan.

Baca juga  Seribu Malaikat Menabur Kunang-kunang

Pram, sebagai seorang sastrawan melalui karya-karyanya ia menghindari, apa yang disindir oleh Sengupta kepada rasyid Khalifa sang pendongeng salah dua dari tokoh dalam novel Harun dan Samudera Dongeng karya Salman Russhdie ”Kepalanya terpaku di udara dan kakinya melayang di atas bumi. Apa gunanya dongeng-dongeng itu? Hidup bukanlah sebuah buku cerita atau lelucon”. Maka, tak heran jika karyanya tak lalu dilahap waktu. ia abadi dalam sejarah. Dari masa ke untuk massa.

Judul Percikan Revolusi Subuh │ Penulis Pramudia Ananta Toer │ Penerbit Hasta Mitra │ Tebal xxi + 205 halaman│ Tahun Terbit 2001 (edisi asli Percikan revolusi 1950 dan Subuh 1951) │ Peresensi Robandi.

*Penulis beralamat di filsufilsafat@gmail.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of