Merangkul Khuldi

ORANG BERAGAMA senantiasa menghindarkan diri dari hal yang tidak diridhoi oleh Tuhan. Menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua hal larangan-Nya menjadi tolak ukur ke-shaleh-an. Keberadaan surga dan neraka menyata sebagai acuan antara kebaikan dan keburukan. Tak ayal segala larangan yang datang dari-Nya merupa sebagai dinding pemisah kepada-Nya.

Begitu melegakan ketika membincang surga dengan segala keindahan dan segala kenikmatan tak terbayangkan, tidak terdefinisi. Lain hal ketika berbicara neraka yang menyimpan banyak kepedihan, keterpurukan, penyesalan, kesempitan. Jalan neraka menyajikan realitas senampaknya—terdefinisi—hingga membuat orang mudah untuk menerka apa-siapa itu neraka. Dengan demikian pada perjalanannya penghindaran neraka menjadi jalan untuk menuju surga, menjadi shiraat menggapai ridho Tuhan. Sebab neraka sangat mudah dikenali, karena neraka adalah larangan.

KHULDI SEBAGAIMANA cerita yang menyandingnya, merupa sebagai bentuk larangan yang melemparkan Adam dan Hawa ke bumi. Larangan ini sebegitu nampak, senyata-nyatanya sangat mudah terlihat apa yang menjeranya. Karena merupa sebagai bentuk aturan yang akan mengantarkan kepada keselarasan, kebaikan, keindahan sebagaimana angan segenap umat manusia. Menjadi sebab atas kita untuk senantiasa berporos pada aturan. Larangan yang dikabarkan langit menjadi patokan untuk bagaimana beribadah, bagaimana beramal, bagaimana berjihad serta bagaimana mencari keridhoan-Nya.

Fenomena khuldi dalam keber-agama-an merupa dalam larangan. Sebentuk aturan yang pada perjalanannya mampu memutar-balikan tujuan keber-agama-an, bukan tertuju pada apa yang di baliknya, bukan tertuju pada apa yang dikabarkan rasul tentang Tuhan sebagai pencipta larangan.

Setiap larangan mempunya maksud atas apa di baliknya, begitupun dengan khuldi memuat metafor seperti halnya buah simalakama. Sebuah petaka yang akan menjumpa pada siapapun yang memakannya begitupun yang tidak memakannya. Memiliki arti bahwa larangan bukan untuk dijauhi atau dihindari, bukan pula untuk dijamah atau dilakoni melainkan untuk dipahami. Tidak disangsikan adanya dunia adalah hasil imbas darinya. Khuldi, lahir sebagai keniscayaan. Merupakan bentangan yang akan mengantar pada angan utopia seluruh umat.

Khuldi, taklik kisah Adam dan Hawa menyikapi larangan seperti sebuah dinding yang menghalangi apa di balik larangan tersebut. Hingga berakhir pada penyingkapan dirinya—Adam dan Hawa—sesuatu yang digariskan oleh Tuhan; bahwa mereka diciptakan untuk tinggal dan menjadi khalifah fil ardl.[]

Sabiq Ghidafian Hafidz

______________

*obrolan liar bersama Abdul Ghofur di sanggar Teater ESKA.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of