Jamilah

Jamilah

Oleh: Wulan Agustina Pamungkas*

Banyak hal yang bisa kuceritakan tentang desaku yang terletak di lereng Gunung Arjuna. Sebuah desa kecil di mana sebagian masa kecilku kuhabiskan di sana. desa di mana kenangan yang lekat dengan perjuangan ibuku yang juga merangkap menjadi ayah. Desa di mana mimpi-mimpiku untuk menjadi perempuan tangguh seperti ibu terbentuk.

Tidak ada mall, yang ada hanya pasar tradisional yang tiap musim hujan akan menjelma menjadi kubangan lumpur yang membuat sandal jepit kami terasa lebih berat jika berjalan. Tidak ada taman bermain lengkap dengan segala wahana bermainnya, bagi kami cukuplah besenang-senang di kebun teh, berlari kesana kemari sembari membantu Mak Siti, Ibu Sari memanen teh.

“Tak semua perempuan seberuntung kau Mil, kau bisa bersekolah. Merasakan bagaimana Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, hingga kini kau mampu masuk universitas. Membaca buku, mempelajari apa yang kau suka. Sungguh, barangkali kaulah perempuan yang dikatakan merdeka itu,” ucap Sari, temanku sewaktu kecil kala aku masih hidup di antara hamparan kebun teh yang terbentang sepanjang pandangan. Sebuah desa kecil jauh dari peradaban yang kata manusia kebanyakan ia namakan “modern”.

“Lama tak bertemu, semakin cantik saja kau Mil,” ucap Sari lagi sambil sesekali menyuapi anaknya yang sedang ia timang di teras rumah. Dalam balutan kaos dan jarik yang terlihat lusuh senyum manisnya masih teringat jelas bahwa ia Sari yang dulu pernah kukenal.

“Kau kini sudah terlihat seperti selebriti. Mana kekasihmu, tak maukah kau kenalkan dia kepadaku?” sambungnya lagi.

“Ah, lelaki kota terlalu rumit untuk kupahami Sar, sampai saat ini pun aku masih betah melajang,” ucapku sambil tersenyum ke arahnya.

“Mana suamimu?” tanyaku kepadanya.

“Suamiku sedang bermalam di rumah isterinya yang lain.”

“Maksudmu?”

“Aku bukanlah satu-satunya perempuan yang ia peristeri Mil. Aku yang kedua, dari tiga isteri yang ia kawini… Barangkali memang beginilah nasib perempuan desa macam aku. Di usia keduapuluh tahun, aku dilamar oleh juragan Ramlan lelaki berusia tiga puluh tahun dari desa seberang.

“Emak merasa sangat beruntung waktu itu, aku yang cuma lulusan SD dilamar oleh seorang juragan yang disegani oleh orang-orang desa kami. Bagi emak, tak apalah aku jadi yang kedua, asalkan hidupku terjamin oleh si juragan.”

“Lantas, kau tak menolak Sar?!” tanyaku sedikit geram mendengar bagaimana Sari menceritakan.

“Bisa apa aku Mil, aku tak sekolah macam kau. Bekerja pun paling laku hanya jadi buruh di kebun teh. Aku tak punya keterampilan apapun. Barangkali menerima pinangan juragan Ramlan adalah jalan bagiku untuk sedikit mengurangi beban emak dan bapak. Juga hidup lebih nyaman dan bahagia.”

Baca juga  Mengingat Kembali Perjuangan Para Pahlawan

“Kau bahagia?”

“Tidak Mil,” jawab Sari. Sejenak aku berhenti mencecar Sari dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengganjal di mulutku. Apakah hanya perasaanku yang tiba-tiba menangkap raut wajah memelas dari Sari. Ataukah Sari memang tengah memelas membayangkan bagaimana pedihnya menjalani hidup semacam ini.

“Menyedihkan bukan? Aku telah berkawin, namun tak juga merasakan bahagia. Rupanya bayanganku sejak awal tak juga jadi kenyataan. Aku cuma membatin, barangkali inilah karma karena aku mau menerima lamarannya, sedangkan aku tahu ada perempuan yang tersakiti atas pernikahan aku dan Ramlan. Aku hidup dalam kepahitan Mil. Barangkali kau sendiri bisa membayangkan bagaimana kiranya menjadi isteri kedua.”

“Lantas, kenapa kau masih rela bertahan? Bukankah ini seperti menyiksa diri sendiri?” ucapku sedikit terbawa emosi.

“Aku tak punya pilihan. Aku bertahan demi anak-anakku Mil. Ketakutan selalu muncul ketika aku ingin melepaskan diri dari penderitaan ini. Aku takut anak-anakku akan terlantar, aku merasa tidak mampu berdiri di kakiku sendiri. Menghidupi ketiga anakku secara layak Mil. Beginilah nasib perempuan desa yang tak berpendidikan macam aku. Aku seperti berada diatas tebing yang dikelilingi oleh jurang. Melangkah berarti Mati.”

“Terkadang aku iri melihatmu, kau dan segala kebebasan dan pilihanmu.”

“Ah, dari tadi kita berbincang aku sampai lupa membuatkan saudariku ini minuman. Kau mau minum apa Mil?”

“Kau seperti belum mengenalku Sar, bukankah aku akan lebih dulu meminta ketika menginginkan, sebelum kau menawarkan,” jawabku. “Akan kubuat sendiri minumanku…” sambungku lagi sembari beranjak dari duduk melangkah menuju dapur. Sambil menunggu air dalam ceret mendidih aku membayangkan bagaimana kiranya hidup Sari bertahun tahun ini. Ia sadar bahwa dirinya menderita, ia sadar bahwa dirinya tersiksa, namun tetap memilih berada dalam posisi yang sungguh pelik itu. Zaman sudah berubah, namun rupanya penjajahan masih bisa ditemukan, bahkan dalam ruang-ruang sempit sekalipun. Ya Tuhan, rupanya kehidupan memang terasa kejam, apalagi untuk mereka yang tak mampu melawan dan bertahan. Mungkinkah aku akan masuk dalam lubang yang sama? Janganlah… Apa gunanya aku berilmu…

“Bermalamlah di rumahku, masih banyak yang ingin kudengar tentangmu,” ucap Sari ketika menghampiriku di dapur.

“Bagaimana dengan suamimu? Bukankah ia akan datang menjengukmu?” tanyaku.

“Entahlah…” jawab Sari.

“Baiklah, aku akan bermalam disini, namun tak ada kisah menarik yang bisa kubagi. Atau kau mau mendengar bagaimana cerita seorang perempuan dua puluh enam tahun yang masih melajang?” ucapku, ia tertawa sambil berkata, “Sepertinya itu akan menarik Mil…”

Baca juga  Perahu Kan’an

***

“Sudah kupenuhi segala maumu nduk, kau bebas mempelajari apa yang kau mau. Kau boleh menjadi apa yang kau inginkan. Hanya satu pesanku jadilah manusia yang berguna dan bahagia. Celakalah orang yang bahagia namun tak bisa memberi manfaat dan berguna bagi manusia lainnya. Dan menderitalah manusia yang berguna, namun tak pernah merasa bahagia.

“Kau sudah mengembara ke berbagai wilayah, berbagai cuaca, pun budaya. Bertemu bermacam macam jenis manusia. Tidakkah ada yang membuatmu jatuh cinta?” Entahlah, pertanyaan itu masih mengiang bahkan ketika aku sedang tak berada disamping ibu. Dalam lamunanku, tiba-tiba terdengar suara isak tangis seorang perempuan. Aku beranjak dari tidur, mendekati arah tangisan.

“Kalau kau tidak suka, silakan angkat kaki dari rumahku ini!” suara seorang pria terdengar dari balik kamar tidurku.

“Maafkan aku mas…, aku hanya ingin kau bersikap adil terhadap aku yang juga isterimu,” kudengar Sari berkata demikian.

“Jadi kau anggap aku berlaku tidak adil? Sudah kuberi kau sebuah rumah yang barangkali tak mungkin terbeli oleh keluargamu yang jangankan untuk membeli rumah, bahkan demi mengganjal perut saja rela menjual anaknya kepadaku.”

“Aku isterimu mas. Tega kau berkata seperti itu kepadaku?”

“Harusnya kau bersyukur kunikahi. Lihat kedua istriku yang lain walaupun mereka tak secantik kau, setidaknya mereka tak sebodoh dirimu. Mereka bekerja, mereka menghasilkan uang. Sedang kau? Bagaimana bisa menghasilkan uang, sedangkan membaca pun kau gelagapan. Andai kau tak secantik ini, tak mungkin kau ku pungut jadi isteri.”

Biadab, beginikah tabiat lelaki? Atau hanya lelaki ini yang barangkali tak punya tata dan krama dalam hubungan suami isteri. Tubuhku semakin panas mendengar setiap kata yang dilontarkan laki-laki itu.

Aku keluar dari kamar kulihat ada lebam pada wajah teman kecilku ini. Kupeluk Sari, sambil mengumpat dalam hati.

“Beginikah tabiat lelaki desa? Sudah sepintar apa kau hingga berani menghakimi isterimu dengan kekerasan semacam ini?”

Tanpa berkata-kata lagi, Sailendra meninggalkan kami. Masih terdengar isak tangis Sari di pelukanku.

“Kapan mau kau akhiri penderitaan ini? Aku yang sakit melihatmu begini Sar…” ucapku, Sari masih terisak di pelukku, sedang si Bungsu dan kedua kakaknya masih lelap tertidur di kamarnya.

Malam ini, lagi.. kulihat penjajahan terjadi pada kaumku. Siapa yang patut disalahkan dalam hal ini Ibu? Mungkinkah kami yang belum mampu memerdekakan bahkan diri kami sendiri? Ataukah? Ah, sudahlah.[]

*Penulis merupakan pengagum lelaki gondrong.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of