Nalar Fisika untuk Ekonomi

Nalar Fisika untuk Ekonomi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Diksi ekonofisika pertama kali tercetus di Kolkata, India (1995) oleh H. Eugene Stanley  tentang makalah-makalah yang ditulis oleh para fisikawan untuk memberi penjelasan mengenai pasar. Kelahiran ekonofisika sebagai antitesa dari teori-teori ortodoks masa lalu untuk menyelesaikan masalah-masalah ekonomi yang miskin pemodelan.

Di Indonesia, ekonofisika dalam sejarahnya turut dirawat dan dibesarkan oleh fisikawan Yohanes Surya dan Rachmad Resmiyanto. Yohanes Surya semisal menggunakan fisika untuk menganalisa pemilu 2004, menganalisa stock market melalui teori inti atom, sampai prospek pemulihan ekonomi Indonesia. Sedangkan Rachmad Resmiyanto yang juga dosen fisika ini telah menuliskan dua buku ekonofisika berjudul “Nalar Fisika di Pasar Saham” dan “Ilusi Ekonomi Modern”. Dan tulisan ini lahir sebagai ulasan dari seminar umum yang dilaksanakan oleh prodi fisika UIN Sunan Kalijaga, Rabu (19/10) di Teatrikal Fakultas Sains dan Teknologi, dan mendatangkan Rachmad Resmiyanto.

Menurut Rachmad, fenomena yang ada dalam ekonomi bisa dijelaskan dengan fenomena yang ada dalam fisika. Dengan metode kias atau analalog (bukan cocokologi), Rachmad memerlukan waktu hampir sepuluh tahun untuk merumuskan teorinya tentang Hukum Kekekalan Uang. Dia mengaku hampir gila, karena mimpinya sampai dihantui grafik-grafik, dan dari sana memunculkan teori yang didapat dari pergulatannya yang panjang. Dengan keyakinan metafisisnya Rachmad memakai kesetaraan konsep: perilaku ekonomi = perilaku zarah; agen ekonomi = zarah/partikel; uang = energi; materi =partikel.

Berdasar pada buku Thermoeconomics (Termoekonomika) karya John Bryant, Rachmad menyatakan uang adalah energi. Tesis ini muncul dalam kerangka besar analitik dari gas ideal. Dari konsep gas ideal ini lalu Rachmad mencari data tentang jumlah uang yang beredar di Indonesia dan Amerika Serikat. Lalu data tersebut dibenturkan dengan konsep mengenai persamaan gas ideal yang dirumuskan PV=nRT dan di termodinamika PV^n=C (konstan). Dalam ekonomi, P menunjukkan daya beli uang, V jumlah uang yang beredar, T menyatakan Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan kata lain, PDB bisa didapat dari rumus: uang dikali daya beli barang, serta P dikali V hasilnya konstan. Dari sinilah Rachmad menemukan kelestarian tenaga uang. Yakni keadaan awal = keadaan akhir. Selain persamaan gas ideal, teori-teori yang ada dalam fisika statistik bisa menjadi analisis yang cemerlang untuk memodelkan keadaan ekonomi, bahkan sosial yang ada.

Baca juga  1400 Polisi Yogyakarta Amankan Hari Buruh

Rachmad juga membahas persoalan tentang sistem perbankan yang lebih luas. Ia terinspirasi oleh tulisan Vladimir Z. Nuri dalam Fractional Reserve Banking As Economics Parasites yang menggebrak dunia karena memberi pernyataan yang sangat radikal bahwa Bank Pecahan adalah parasit dalam dunia kita. Sebab, ketika  bank hadir di suatu negara, 90% tenaga uang dikuasai kartel perbankan. Efeknya, segenap teori-teori keuangan tentang pengentasan kemiskinan dinilai Rachmad masih sangat jauh dari harapan. Sebab kita didesain memperebutkan hanya yang 10% saja, karena 90% dikuasai perbankan. Mendengar ini, seolah-olah solusi-solusi ekonom klasik, dari Adam Smith, Say, David Ricardo, Stuart Mill perlu didaur ulang. Atau mungkin juga ekonom modern sekarang telah menelaah tentang perbankan tersebut, dan Keynes menjadi salah satu perintisnya.

Sitem moneter saat ini dunia dikendalikan oleh tiga hal, uang fiat, bunga uang, dan perbankan. Sistem moneter yang berlaku di dunia adalah sistem ekonomi ribawi. Sistem ribawi merupakan  sistem yang merugikan bagi negara. Rachmad menjelaskan konsep riba dengan analogi:  jika satu kambing ditukar dengan 10 karung beras, dua barang ini mempunyai nisbah. Ini juga terjadi pada pertukaran barang yang lain, akan selalu ada nisbah antar tiap barang. Nisbah teratasi dengan terciptanya alat pertukaran universal berupa uang. Namun, nisbah dalam uang pun ketika jatuh dalam konteks hutang, ia tak pernah putus. Sebab masih ada variabel-variabel lain yang turut berperan, yakni suku bunga (r), waktu (t), dan indeks politrofik (n) yang dirumuskan dengan persamaan Hf=Hi.e^nrt.

Depresi besar 1930 yang terjadi di Amerika atau Zimbabwe dengan hyperinflasi-nya (sampai-sampai 100 dollar Zimbabwe hanya dapat membeli tiga telur) bukan malapetaka alamiah, melainkan bencana ekonomi yang diatur (by desain). Inflasi pun menjadi keniscayaan. Konsekuensi berikutnya adalah ketakutan dan hutang negara yang menjadi besar untuk mengatasi inflasi. Sementara hutang selalu diberikan beban bunga, dan bunga hutang tidak pernah dicetak. Melalui perhitungan yang rumit, sistem ini menunjukkan kepada kita bahwa hutang tak pernah bisa dilunasi. Kalau hutang dihentikan kita akan mengalami depresi ekonomi. Ini yang dikatakan Rachmad sebagai sistem ekonomi destruktif, dan solusi yang ditawarkan adalah hapuskan bunga bank.[]

Baca juga  Tabir Gelap Kondisi Perburuhan di DIY

Isma Swastiningrum, mahasiswi fisika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of