Refleksi: Resolusi Jihad dari Masa ke Masa

Oleh: Ilham Rusdi*

Tanggal 22 Oktober 2016, berbagai kota di seluruh Indonesia telah menyemarakkan dengan serentak perayaan “Hari Santri Nasional”, yang hampir semuanya berbalut tema refleksi atas penyadaran konkrit terhadap relasi antara santri, bangsa, dan negara Indonesia.

Di tengah teriknya panas di sepanjang jalan menuju Tugu Yogyakarta, tampak beriringan sorakan dan sentakan menyuarakan perlawanan terhadap kebejatan imperialisme, kolonialisme, terorisme, dan kapitalisme. Pada spanduk yang membentang bertuliskan “Dirgahayu Santri Nusantara” dilakoni oleh segerombolan orang-orang yang  mengatasnamakan dirinya sebagai Aliansi Santri Adab (ASA). Megaphone yang berganti dari tangan ke tangan menyatukan perspektif untuk melihat objek (realitas sosial) yang terjadi di lingkungan negara.

Mengutip perkataan Didi Manarul Hadi yang merupakan salah satu massa ASA, dalam orasinya, “Santri dan perlawanan terhadap negara Indonesia itu tak bisa dipisahkan relasinya, sebab santri telah menyatakan dirinya ikut andil dalam perlawanan terhadap para kolonialisme dan imperialisme di masa lampau. Maka dari itu, santri harus mampu melihat bahkan mengawali negara terhadap kejahatan hari ini yang bereaksi secara konkrit maupun abstrak di tengah pergulatan zaman sekarang ini”.

Tentu, jika ditarik kesimpulan dari apa yang dikatakan orator tadi. Secara historisitas, memang sumbangsih santri dalam bentuk perlawanan dan pengawalan untuk merongrong Indonesia hingga merdeka, itu tidaklah bisa kita nafikan. Sebab, para santri bersama guru terdahulu (ulama) memiliki keterlibatan yang hampir selalu hadir eksistensinya di berbagai medan peperangan melawan penjajahan. Seperti pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang juga menjadi gencatan senjata yang paling mengerikan dalam catatan sejarah Indonesia. Dalam pertempuran tersebut, telah melahirkan dua tokoh besar yaitu, Bung Tomo dan K.H Hasyim Asy’ari yang menjadi lakon terhadap perlawan Inggris pada saat itu. Dari pertempuran itulah, kedua tokoh tersebut memobilisasi massanya dengan menggerakkan kalangan santri, pasukan bersenjata, hingga rakyat sipil sekalipun. Setelah pecahnya pertempuran tersebut, alih-alih korban yang berjatuhan (pendapat mayoritas sumber) tercatat lebih dari 10.000 korban dari pihak Inggris maupun Indonesia, terutama mereka yang banyak gugur adalah kalangan santri.

Mengapa santri dan ulama ikut andil dalam melakukan perlawanan terhadap kesewenangan imperialisme dan kolonialisme? Sejarah telah mengikat spirit para santri dan ulama pada pertempuran 10 November 1945 dikarenakan telah tertanda sebelumnya bahwa pada tanggal 22 Oktober 1945, K.H Hasyim Asy’ari beserta ulama terkemuka lainnya (termasuk para santri) telah menyatakan perlawanan terhadap penjajahan di zaman Belanda. Dari sinilah gerak antusiasme para ulama dan santri terhadap perlawanan imperialisme maupun kolonialisme secara sah telah dituliskan di atas secarik kertas. Dengan disahknnya bentuk perlawan tersebut, maka dibentuklah identitas formal yang dinamai Resolusi Jihad.

Resolusi jihad dan tantangan zaman

Resolusi Jihad pada masanya (zaman penjajahan), memang menjadi signifikan sebagai gertakan dan aungan dari para ulama dan santri untuk melawan segala bentuk penjajahan di Indonesia. Sebab, musuh yang dihadapinya konkrit dan jelas, bahwa segala yang berbau imperialisme maupun kolonialisme harus dimusnahkan. Tapi, jika Resolusi Jihad ditarik dalam konteks saat ini, imperialisme dan kolonialisme secara konkrit (seperti romusha, rodi, dan sebagainya) sudah tidak menjadi halangan berat untuk meneriakkan kata merdeka. Teknik penjajahan sudah beralih menjadi abstrak. Musuh negara kadang tak terlihat dan bereaksi di balik layar. Alih-alih, terkadang musuh negara adalah negara kita sendiri, seperti halnya mereka yang duduk di istana negara dengan bertopeng ke-Indonesiaan berjiwa kapitalis.

Bagi saya, ‘kapitalisme’ inilah kejahatan abstrak yang dimaksud oleh Didi Manarul Hadi (massa ASA) dalam orasinya. Oleh karena itu, Resolusi Jihad dalam konteks saat ini, harus perlu untuk terus dikembangkan cakupan dan kepekaannya terhadap realitas sosial dari masa ke masa tanpa harus merubah esensi dari konsep tersebut. Entah dengan menuntut para ulama dan terlebih kepada santri untuk selalu peka atau menanamkan sensitivitas dalam melihat kejadian-kejadian di sekitarnya. Maka dari itu, perlu untuk mengkontekstualisasikan konsep Resolusi jihad di era sekarang ini. Tentunya, kalangan santri butuh penyadaran yang kuat untuk mengimplemntasikan hal tersebut.

Pada umumnya, santri telah dibentuk oleh karakter yang cenderung berlatarkan seorang agamawan. Lebih banyak bergelut dengan kitab-kitab dan ayat suci (baik Al-quran dan Hadis) hingga pada petuah ulama sekalipun. Sehingga, mengkonstruk penyadaran untuk melawan ‘kejahatan abstrak’ (kapitalisme, eksploitasi intelektual, dan lain-lain) baik dengan cara memberontak atau merevolusi akan semakin rumit dilakukan. Pada akhirnya, santri akan dihadapkan pada persoalan dilematis ataupun ambiguitas (antara memberontak kapitalisme atau menerima takdir Tuhan). Barang tentu, kata ‘memberontak’ adalah bukan aktualisasi alternatif yang dianjurkan dalam ajaran agama. Sehingga, kecanggungan terhadap perlawanan akan terus menguat.

Seperti dalam konsep Paulo Freire (tidak akan dibahas jauh), tentang tingkat kesadaran masyarakat dibagi menjadi tiga yaitu, kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Melakukan penyadaran dengan mengkonstruk para santri ke tingkat kesadaran kritis adalah tawaran yang sangat menguntungkan. Sebab, santri kritis adalah mereka yang mampu menganalisa ketimpangan yang terjadi pada realitas sosial. Tingkat kesadaran inilah yang paling sensitif terhadap kejadiaan di sekitarnya, baik yang konkrit maupun abstrak. Santri kritis akan menggugurkan hal-hal yang naif dan magis dalam dirinya.

Maka dari itu, untuk menghadirkan kembali eksistensi Resolusi Jihad dalam konteks masa sekarang, maka dibutuhkanlah santri yang memiliki kesadaran kritis untuk melihat realitas sosial yang bergerak secara abstrak (baik itu kapitalisme secara struktural, ekspolaitasi intelektual, dan sebagainya). Sebab, jika konsep Resolusi Jihad hanya dimaknai berdasarkan konteks zaman dahulu (zaman penjajahan Belanda), maka Resolusi Jihad akan hanya memerangi musuh yang konkrit saja yaitu, imperialisme dan kolonialisme barat. Oleh karenanya, agar menghadirkan kembali semangat nasionalisme para santri seperti dalam catatan sejarah, santri dan Resolusi Jihad mestinya terus ikut andil melawan dan mengawal Indonesia hingga hari ini.

Adapun hal yang menurut saya perlu diperhatikan dalam catatan singkat ini, ialah mengkontekstualisasikan Resolusi Jihad dari masa ke masa bukan berarti mengobrak-abrik secara esensial konsep Resolusi Jihad tersebut. Tetapi, meletakkan penyadaran terhadap Resolusi Jihad di masa tertentu itulah yang perlu untuk dikontekstualisasikan.

Pada akhirnya, saya berharap bahwa santri tetap terus antusias dalam mengawal dan mepertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman imperialisme, kolonialisme, hingga pada ancaman kapitalisme, terorisme dan radikalisme sekalipun. Maka tak ada lagi slogan lain bagi mereka (santri) selain kata “Dari Santri untuk Negeri!”

Selamat merefleksikan Hari Santri Nasional!

*Penulis adalah santri Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri, Maroangin, Enrekang.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend