261 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ilham Roesdy*

Tanggal 7 November 2016, pada acara “Tadarus Puisi” di Taman Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, saya disuguhkan beberapa naskah puisi seorang maestro besar, WS Rendra. Sebuah gerakan “One Day for Rendra” lahir sebagai bentuk antusiasme sejumlah mahasiswa Fakultas Adab untuk mengenang perjuangan para sastrawan bangsa. Sebuah penyadaran yang sengaja dibentuk bertepatan dengan hari lahir sang sastrawan WS Rendra, yaitu pada tanggal 7 November 1935, sekaligus untuk mengenang jasanya kepada bangsa Indonesia.

Bersama dengan Anwar Noeris, saya mengutip poin dari pencerahannya. “Hari ini, kita mengenang para sastrawan bangsa sebagai refleksi atas perjuangan mereka terhadap bangsa melalui spiritspirit mereka,” katanya, selaku penyair muda yang pernah dinobatkan sebagai salah satu pemenang cipta puisi nasional.

Saya tertarik mendengar testimoni tersebut, bahwasanya saat ini kita perlu menelisik penyadaran ulang terkait pereinkarnasian spirit-spirit yang dilahirkan para sastrawan pendahulu. Dalam artian, spirit sastra yang diwariskan para pendahulu dari hari ke hari mulai buram dan tercemar fungsi maupun esesinnya. Terkadang sastra berakhir pada sebatas lidah yang tajam, tapi tak mampu menyentuh kekebalan ketimpangan realitas sosial. Padahal, sebagai seorang sastrawan mestinya mengikat kembali relasi antara fungsi sastra dengan realitas sosial.

Sastra, tidak hanya berakhir pada untaian kata yang mengaduk hati pembacanya. Atau sekedar fungsi rekreatif yang memberikan kesenangan sebagai alternatif hiburan pada sebuah pementasan drama maupun teater. Akan tetapi, nilai didaktif juga perlu ditonjolkan sebagai pengarahan yang mendidik pembacanya untuk lebih mengedepankan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Nilai kebenaran yang dimaksud di sini adalah kebenaran terhadap karya sastra fiksi ataupun non-fiksi atas realitasnya.

Dalam pendekatan sastra Marxis, sastra bukanlah semata-mata ekspresi estetik saja, tetapi sastra dan praktik sosial memiliki relevansi yang sangat erat. Sehingga, pendekatan sastra Marxis menganggap signifikansi antara isi dan realitas sastra tidak boleh dilupakan. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan para penganut strukturalis dan formalis, yang mengesampingkan isi atau realitas sastra, sebab mereka hanya mengedepankan isi, sedangkan realitas sastra itu tidaklah penting bagi mereka. Disinilah terdapat banyak perbedaan para sastrawan untuk menentukan fungsi sastra. Kecenderungan para penganut sastra Marxis, adalah menjadikan sastra sebagai mediator untuk melakukan protes terhadap realitas sosial. Namun, kaum strukturalis maupun formalis tidak melangkah sejauh itu. mereka terkadang hanya berhenti pada fungsi estetik semata, sehingga relasi Antara isi dan realitas dinafikan.

Saya teringat sebuah buku yang ditulis oleh Wijaya Herlambang, yang berjudul “Kekerasan Budaya Pasca 1965”. Di mana begitu banyak sastrawan kala itu yang meracuni fungsi dan esensi sastra. Buku yang orienstasinya lebih banyak menceritakan sejarah dan kisah para sastrawan anti-komunisme pada masa Orde Baru. Di dalam bukunya, para sastrawan anti-komunisme berperan sebagai sastrawan provokatif yang memanfaatkan sastra untuk melegitimasi kekuasaan. Entah itu pembodohan dan pembohongan sejarah maupun manipulasi sejarah melaui karya sastra yang dibentuk, seperti pemanfaatan cerpen, novel, film, hingga museum dan artistik peniggalan sejarah yang hampir semuanya dimanipulasi.

Barang tentu, ini persoalan pertarungan kisah G30S yang sangat kontradiktif kebenarannya hingga sekarang. Akan tetapi, saya tidak ingin membahas tentang peristiwa G30S. Saya hanya menarik suatu problematik yang terkait dengan peristiwa tersebut, yaitu bagaimana karya sastra dijadikan sebagai alat untuk memanipulasi sejarah. Terkhususnya, mereka peara sastrawan anti-komunisme yang mementingkan kepentingan individual saat itu. hanya segelintir sastrawan kala itu yang benar-benar masih menjungjung tinggi fungsi didaktif dalam setiap karya sastranya. Salah satunya adalah sang maestro WS Rendra.

Spirit perjuangan Si Burung Merak (julukan untuk WS Rendra) sangat berefek terhadap keberpihakannya pada masyarakat. Ia tak pernah sepakat dengan ketimpangan sosial yang hanya dikuasai oleh kepentingan sepihak semata. Salah satu dari sekian banyak sastrawan yang se-pendapat dengannya memiliki keberanian untuk keluar dan turun ke jalan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketertindasan dan hal-hal yang mendeskriminasi masyarakat, khususnya rakyat kecil. Tentunya, dengan perlawanan dan spirit perjuangannya tidak terlepas dari karya sastra yang dijadikan sebagai mediator dan alat protes terhadap praktik sosial saat itu. Oleh karena itu, mayoritas karta sastra Rendra bergenre perlawanan, baik itu dalam puisinya, prosa, maupun karya sastra lainnya.

Bagaimanakah kita menyadari spirit perjuangan para sastrawan dan mereinkarnasi kembali (sebagaimana yang dianggap banyak orang bahwa fungsi dan esensi sastra telah mati) relasi antara sastra dan konteks sosial? Memang hal ini tidaklah mudah bagi para sastrawan, apalagi bagi penyair-penyair muda. Pertarungan karya sastra terkadang hanya berujung pada fungsi estetiknya saja, sebab nilai karyanya lebih diutamakan sebagai sebuah bahan untuk diperdagangkan di pasar media. Tetapi, wajarlah jika spirit ini sebagai bentuk persuasif terhadap para penyair muda untuk memotivasi agar lebih giat bergelut dalam dunia literasi, apalagi dalam dunia kesusasteraan. Namun, sekali lagi sastrawan lebih dituntut untuk menyadari relasi sastra dan sosial. Sebab, karya sastra adalah alat yang strategis untuk menyampaikan hal-hal yang sifatnya aspiratif, yang tidak hanya mengandung satu fungsi sastra saja, tetapi juga berisi fungsi-fungsi sastra lainnya.

Pada tulisan singkat ini, saya hanya berharap jika para penggiat sastra kembali kepada spirit para sastrawan pendahulu yang betul-betul sadar akan pentingnya nilai kebenaran dalam karya sastranya. Tidak menjadikan karya sastra semata-mata sebagai alat manipulasi atau pembohongan publik seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Maka dari itu, sebagai sastrawan yang bijak cintailah sastra untuk menemukan esensinya dalam konteks bersosial. []
*Penulis adalah pencipta sajak usang dan peracik kopi pahit.