Tanda Tanya

Oleh: Aditya Priambudi*

Bulir-bulir peluh kembali mengaliri keningku, seraya aku berpikir keras. Segala fakta dan realita terasa begitu telak menghantam dada. Entah bagaimana semua mampu bergulir, bahkan telah sangat lama. Begitu lama hingga terasa seperti menelan pil pahit berulang-ulang kali, semua hanya demi mengulur pertemuan antara tubuh renta ini dengan ajal-Nya.

Meskipun, tetap saja, sang waktu tentu tidak akan pernah memiliki kemampuan untuk bertoleransi. Pun bahkan hanya untuk sekedar bercengkrama mengenai pluralitas dunia. Yang diketahuinya hanyalah; perintah dan jalankan! Sungguh tak ubahnya bagai seorang hamba sahaya, begitu mirip hingga aku sulit untuk membedakannya.

Namun di tengah kegamangan itu, aku merasakan ruhku terhempas dari tempat di mana seharusnya ia berada. Sesuatu, atau seseorang, menarikku ke arahnya. Keras! Dan cepat. Sangat cepat hingga benda-benda di sekitarku perlahan berubah hingga menjadi kumpulan garis-garis warna. Sejenak aku menengok ke belakang, menyaksikan jasadku terhempas di bawah pengaruh mesin pacu jantung, dan mereka…

“Apakah mereka menangis?” pikirku gamang.

Sekilas terlintas di kepalaku, sebagian memori dari saat-saat terakhirku menatap matanya. Namun lagi-lagi waktu tak mengijinkanku untuk rehat barang sejenak, ketika tiba-tiba aku terhempas menembus cahaya yang teramat terang. Aku terjerembab menghantam tanah. Sekonyong-konyong rasa sakit datang menerpa sekujur tubuhku. Tunggu dulu, sakit? Dan begitu saja, batinku bergejolak. Tergesa-gesa kubuka kedua kelopak mataku,

“Gelap,” ucapku heran.

Aku tidak mengerti. Bukankah seharusnya semuanya telah berakhir? Tapi aku tahu betul benda apa yang kupijak kini, tanah! Mengingat betapa kerasnya Ia menghantam kepalaku tadi, terlebih, sebagiannya tanpa sengaja masuk ke mulut dan tertelan olehku. Jadi aku tak mungkin salah. Lalu, pengalaman apa itu tadi? Perasaan melayang itu, cahaya kelewat terang hingga sekarang kegelapan tak bertepi. Bukankah seharusnya…

“Bukankah seharusnya apa?” kudengar jawaban yang membahana.

Aku terdiam.

Kutajamkan pendengaranku seolah-olah meyakinkan diri bahwa suara tadi benar-benar menjawabku. Menjawab pikiranku, lebih tepatnya.

“Ya anak-Ku, aku ada. Dan aku mendengarmu,” suara itu kembali berkumandang.

Seketika aku terkesiap. Dia memanggilku. Suara itu benar-benar berbicara denganku. Dan aku bahkan tak tahu siapa, atau bahkan, apa itu. Kutahu hanyalah suara itu terasa begitu jauh, seolah datang dari dasar palung yang teramat dalam. Meski begitu, suara itu terdengar jelas. Berkumandang membahana di seantero kegelapan ini.

Dengan mengumpulkan keberanian, yang rasanya sudah berceceran entah di mana semenjak aku meninggalkan duniaku. Aku mencoba membuka kedua bibirku dan berbicara padanya. Sekarang ini aku sungguh bingung. Otakku, setidaknya aku berasumsi otakku masih berada di tempatnya karena aku masih mampu merasa, menuntut jawaban atas segala kejadian aneh yang baru saja terjadi.

“Siapa kau? Lalu.., lalu.., apa yang terjadi padaku?” Aku tergagap.

Kudengar suara itu terkekeh. Kali ini terasa ringan, rupanya keberanian yang kubuat-buat itu telah menjadi ice breaker yang efektif. Meski tidak mampu menutupi nada lelah yang tersirat di dalam suara itu, kelelahan yang mengakar kuat. Seakan-akan Dia belum pernah tertidur selama berhari-hari. Sejenak aku mampu merasa tenang, karena untuk sebentar saja aku mampu berasumsi bahwa setidak-tidaknya Dia masih memiliki selera humor.

“Aku adalah impian terindahmu, sekaligus kenyataan terburukmu,” suara itu berujar dingin.

Seketika aku tercekat. Menghadapi kontradiksi logika berpikir primer seperti ini tentu rasanya-rasanya semua manusia akan bereaksi sama sepertiku. Ralat, manusia waras.

“Diam. Dan dengarkan!” perintah-Nya. Seolah-olah Dia mampu membaca pikiranku.

“Lalu, tentang siapa Aku… Hal itu bergantung dari caramu memandang-Ku, anak-Ku.”

“Memandang?” tanyaku heran. Sepertinya keberanianku mulai naik.

“Bagaimana caraku memandang jika tempat ini gelap gulita!”

“Tepat sekali!” jawab-Nya.[]

*Penulis perantau dari Indonesia yang sedang mengarungi Eropa dan rindu akan kotanya, Yogyakarta.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of