Meninjau Kembali Undang-Undang Anti Rokok

Lpmarena.com, Saat ini regulasi rokok diatur dalam peraturan pemerintah No. 109 tahun 2012 dan peraturan daerah di beberapa wilayah. 40% Perda membatasi agar tidak boleh merokok, menjual rokok, iklan, dan lain-lain. Produk hukum mengenai rokok di atas tidak ada yang membahas terkait nasib petani tembakau. Hal ini disampaikan oleh Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) dalam dialog publik dengan tema Politik Tembakau dan Etika Perokok: Regulasi Rokok Membunuhmu yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga di Teatrikal Perpustakaan, Senin (14/11).

Gungun El Guyani, penulis buku NU Smoker mengatakan hampir semua perdebatan dan diskusi tentang tembakau selalu menggunakan perspektif yang sangat tidak adil, yaitu perspektif dalam kesehatan. Maka sekarang adalah saatnya mengangkat forum ilmiah tembakau dengan menggunakan perspektif petani dan perspektif ekonomi-politik.

Arta Wijaya, ketua Dewan Mahasiswa menegaskan bahwa rokok merupakan penyumbang pajak terbesar di Indonesia dengan kisaran 187 triliun per tahun. Jumlah itu mengalahkan pajak tambang atau industri yang lainnya. Artinya ketika rokok dilarang maka kesejahteraan rakyat Indonesia akan menurun lebih khusus kesejahteraan petani tembakau yang ada di Indonesia.

AMTI mencatat ada sekitar 60 juta orang Indonesia yang ekonominya bergantung pada sektor industri tembakau. Peraturan yang seharusnya adil dan berimbang sehingga mampu menyejahterakan seluruh rakyat ini tidak terakomodasi secara nyata. “Hingga kini belum ada yang memihak petani,” terang Mahfud Syah, Sekretaris Jendral AMTI.

Suryopcoko, ketua komunitas Perokok Bijak, menuturkan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dari budaya merokok kita. Yang pertama, merokok merupakan suatu pilihan, bukan paksaan atau sebagainya. Kedua, seorang perokok harus beradab, beretika dan bermoral. Jadi seorang perokok tidak sembarangan, tahu aturan, dan tahu di mana harus merokok.

Baca juga  Menjadi Petani yang Mandiri

Magang: Lailatus Sa’adah, Akmaluddin, dan Hakiki

Redaktur: Lugas Subarkah

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of