Terjebak

Oleh: Khaerul Muawan*

Aku baru saja mendengar suara ibuku melalui telepon. Dia bercerita tentang sepupunya yang baru saja membeli mobil baru: warnanya merah cerah, agak kecil dari mobil kami, dan sepertinya hanya dua kelas. “Itu Honda Jazz!” tebakku. Ibuku mengatakan, “bukan.” Sepertinya ia sedikit lebih mengenal mobil dibanding aku meski usianya sebentar lagi menyandang gelar pensiun. Kami sempat berdebat soal mobil itu. Akhirnya aku mengalah, namun tidak percaya.

“Bagaimana kuliahmu?” adalah pertanyaan ibuku yang tidak pernah absen saat kami berbincang.

“Baik-baik saja kok, Bu,” adalah jawaban palsu yang harus kulontarkan.

Sebenarnya itu bukan sepenuhnya jawaban palsu. Aku mengatakan itu karena bagiku tidak ada masalah dengan kuliah. Kehadiranku di setiap mata kuliah hampir seratus persen. Aku memang sering menitip presensi atau menyuruh temanku membuat surat izin, bahkan kadang bolos, kemudian mengatakan “baik-baik saja” pada wanita yang membesarkanku. Apakah aku berdosa?

Perihal dosa atau bukan, hanya Tuhan yang tahu. Agama sekedar menciptakan aturan dan penganutnya menjalani. Adakalanya mereka menciptakan aturan baru berdasarkan zaman, sehingga dosa atau bukan, bisa dengan mudah diletakkan pada manusia. Agama juga mengajarkan penganutnya untuk munafik. Aku sering melihat itu di kampus. Kumpulan mahasiswa berpakaian Islami dan sering mengajak berbuat baik, saling berbagi, dan lain sebagainya, tapi toh masih banyak masyarakat di sekitarnya yang kelaparan. Mungkin misi mereka adalah surga, bukan masyarakat jelata. Ada juga tokoh-tokoh agama yang membawa misi menyejahterakan kehidupan bangsa, tapi malah menyejahterakan kehidupan keluarganya. Setidaknya, begitulah gambaranku tentang agama yang tidak pernah diajarkan oleh ibuku.

Aku masih ingat dongeng di masa kecil. Sebelum tidur, ibuku bercerita tentang kisah-kisah para nabi dan para sahabat. Semuanya tentang moralitas. Aku menggambarkan kehidupan di masa itu damai, tenteram, dan sejahtera. Aku pernah mencoba mengamalkan beberapa di antaranya, yaitu kesabaran dan sedekah. Di suatu hari, saat aku jalan-jalan sore, aku melihat anak seusiaku sedang melakukan atraksi angkat ban sepeda. Aku memujinya, namun ia mengira aku mengejeknya. Ia menghampiriku, lalu memukulku dengan sangat keras. Aku bersabar. Maklumlah, semasa kecil aku jarang didampingi ayah. Jadi aku tidak pernah diajarkan untuk melawan dan bertahan. Aku juga pernah mengamalkan perintah bersedekah. Saat itu aku dihampiri nenek tua peminta-minta. Aku memberikan semua uang jajanku. Alhasil, aku kelaparan selama di sekolah. Tapi aku selalu merahasiakan semua itu dari ibuku. Jika aku memberitahukannya, maka aku termasuk dalam golongan orang-orang sombong dan membangga-banggakan diri atau riya’.

Masa remajaku mengalami perubahan. Aku sudah sering berbohong dan mencuri uang ibuku. Dulu aku pernah meminta izin untuk liburan akhir pekan ke pantai bersama teman-teman, namun dengan tegas ibuku menolak. Akhirnya, setiap kali ada ajakan berlibur, aku meminta izin dengan alasan kerja kelompok di rumah teman. Aku juga pernah merusak barang berharga temanku. Dia menyuruhku menggantinya dengan yang baru. Saat itu, aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi takut kena marah. Jadi, terpaksa aku mencuri uang ibuku sendiri. Mungkin ia tahu. Tapi kenapa hanya diam?

Kedewasaan sudah terlihat saat aku menyandang status mahasiswa. Begitu pun dengan raut wajah ibuku yang mulai menua. Aku ingin menjadi anak yang diimpikannya, namun aku juga punya impian sebagaimana manusia berhak menjadi apa yang diimpikan. Ingin sekali kukatakan pada ibuku bahwa dunia ini tak seindah mobil Honda Jazz milik sepupunya dan dongeng-dongengnya tak sesuai dengan kenyataan saat ini. Namun dia ibuku: sosok yang tak boleh dibantah. Mungkin karena cerita Malin Kundang yang pernah diajarkan di masa kecil membuat anak-anak takut melawan, takut menjadi batu. Mungkin juga karena agama yang mengajarkan, “ridha Tuhan adalah ridha kedua orang tua.” Aku terjebak.[]

 

*Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of