524 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Ibnu Arsib Ritonga*

Judul tulisan yang hendak kita diskusikan kali ini, terinspirasi dari seorang cendikiawan muslim Indonesia yang sangat banyak melahirkan karya-karya tulis berkualitas. Dia adalah Ahmad Tohari.  Sebelum saya membahas dan atau mendiskusikannya terlebih dahulu saya membaca tulisan Tohari pada bulan ramadhan yang lalu dengan judul “Berhala Kontemporer”. Dari tulisan beliau pulalah saya meminjam istilah “Berhala Kontemporer” atau berhala-berhala masa kini.

Apakah yang membedakan berhala-berhala dahulu dengan berhala-berhala masa kini? Sebelum kita membahas perbedaan keduanya, terlebih dahulu kita mulai dari mendiskusikan tentang berhala itu sendiri walau secara singkat. Berhala sering dijadikan kepercayaan, menyembah dan menyandarkan bahkan meminta sesuatu pada berhala. Penyembahan pada berhala tentunya sudah mengandung syirik, membuat kepercayaan lain selain Allah SWT. dan orang yang melakukan syirik itu disebut musyrik.

Berhala-berhala tempo dulu (seperti di zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW) memang begitu sederhana dan wujudnya konkrit. Sedangkan berhala-berhala kontmporer masa kini begitu canggih, rumit segala-galanya, abstrak wujudnya, halus luar biasa dan kadang punya daya tarik yang begitu merangsang. Dia (berhala-berhala) bisa datang sebagai isme-isme dari hedonisme (penyembahan nikmat terhadap barang-barang kelontong), sampai kehumanisme universal yang bercorak agnostik (memperdebatkan ada-tidaknya Tuhan) serta sederet isme lainnya. Sembahan baru lainnya adalah premis-premis, simbol-simbol dan norma-norma yang bertentangan. Sesembahan itu mengakar kuat dalam diri manusia. Demikian kata Ahmad Tohari.

Dahulunya di zaman jahiliyah (kebodohan), berhala dijadikan tempat pengaduan untuk kemaslahatan umat manusia. Patung-patung yang diukir mirip manusia, mirip hewan-hewan menjadi sesembahan dan memenuhi pada ruang di dekat Ka’bah-Mekkah sebelum itu dihancurkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan membawa ajaran tauhid yang benar dan jauh dari kesesatan. Yang mau berpindah dari menyembah berhala menjadi menyembah Allah SWT, dia akan selamat di dunia dan di akhirat. Bagi yang tetap menyembah berhala teruslah dia itu dalam kejumudan dan kesesatan. Lata dan Uzza adalah biang-biang dari berhala lainnya. Kedua berhala klasik itu mempunyai kedudukan tinggi di antara berhala-berhala lainnya yang berjumlah sekitar 350 patung. Kedua monster (Lata dan Uzza) beserta prajurit-prajuritnya (patung-patung yang lain) masih dalam bentuk yang sederhana dan wujudnya konkrit.

Berhala kontemporer di Indonesia

Jikalau Ahmad Tohari mengatakan berhala-berhala kontemporer begitu abstrak, sangat halus, rumit, canggih, dan dapat menarik manusia. Maka, hari ini dapat dilihat wujud itu,  walaupun wujudnya itu belum dapat dipastikan apakah dia berhala atau tidak karena berubah-ubah.

Indonesia di abad ke-21 ini, di masa modernisasi, pemujaan terhadap berhala kontemporer sudah begitu banyak dan bahkan sudah dianggap biasa-biasa saja. Contoh kecilnya adalah pemujaan manusia pada sarana-prasarana tekhnologi. Seolah-olah sudah menggantungkan hidupnya pada berhala-berhala itu. Padahal, alat-alat itu tidak lebih hanya sebagai alat untuk membantu manusia menyederhanakan pekerjaan.

Berhala-berhala kontemporer atau berhala-berhala modern ini berkembang di luar batas, hingga harkat martabat, etika, moral, norma manusia dan keimanan semakin lama semakin menipis habis. Semua sudah mulai diukur dengan alat-alat modern. Suatu kemajuan diukur dengan pemenuhan alat-alat teknologi, ilmu pengetahuan sains yang sifatnya material. Kita tidaklah menutup mata bahwa itu adalah suatu perkembangan yang pesat, tapi itu hanya masih secara fisik. Dalam berkehidupan sebagai menusia, tidak cukup dengan itu saja, harus ada yang lebih. Kita harus maju juga secara non-fisik, seperti moral, etika, norma, pendidikan, dan agama. Sebagai seorang muslim haru maju secara agama Islam, budaya Islam, dan pendidikan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam atau seseuatu yang lainnya.

Penyembahan umat terhadap berhala-berhala modern, kapitalistik, hedonistik, materialistik, ateistik, dan isme-isme sesat lainnya harus ditolak dan dimusnahkan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sudah menjadi realita saat ini dan untuk masa yang akan datang. Kita harus menjaga diri dari tipuan-tipuan setan yang akan menjerumuskan kita, baik itu setan yang terlihat maupun setan yang tidak terlihat. Kita jangan sampai terpedaya dengan kemajuan zaman. Jangan sampai kita menyembah yang bukan sepatutnya kita sembah. Jangan menyembah sesama manusia atau bahkan menyembah hasil buatan tangan atau akan manusia itu sendiri. []

*Penulis adalah mahasiswa UISU-Medan dan Pengelola Good Cadre Group (GCG)