Kuburan Bulan

Kuburan Bulan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Dyu Nannov*

Yogyakarta, 2007

Kukisahkan perihal pencarian, kejenuhan, juga kesepian yang bercampur menjadi satu. Kau pernah memakan sekotak es krim dengan tiga rasa yang berbeda bukan? Rasa dari kisahku mungkin akan seperti itu. Meleleh pelan-pelan, sadar-sadar bahwa es itu telah mencair. Manisnya hilang menguap di udara.

Petang ini di sebuah gang yang aku lewati untuk pergi setiap hari meninggalkan 2×3 M ruang menganga penuh serangga. Tempat yang ketika siang aku gunakan  untuk bermimpi dan untuk berpikir, walaupun lebih banyak aku gunakan untuk bermimpi. Aku harus cukup banyak bermimpi, mimpi-mimpi yang mungkin akan menjadi pertanda, petunjuk atau katakanlah pula firasat. Biar lewat mimpi aku dapat menentukan arahku, ke mana hendak mencari sang Bulan.

Hampir setahun ini, Bulan tak menampakkan diri di langit. Malam-malam seakan terasa lebih panjang, lebih pekat, meskipun malam di zaman sekarang selalu bersinar-sinar, berbinar-binar, akibat lampu-lampu di pinggir jalan yang amat banyak. Lampu dari gedung tinggi, lampu dari panggung-panggung musik yang hampir setiap malam menggelar nyanyian yang digemari banyak orang. Dataranku terang, namun langitku kelam. Ada bintang di sana, kau tahu saat ini aku sedang menunjuk ke arah Bulan biasa bertengger, di tengah hamparan angkasa yang sekarang malah dihuni gemintang.

Aku lemparkan sepatu agar bintang-bintang itu jatuh, atau setidaknya menjauhi tempat persinggahan Bulan. Selalu meleset, sepatuku melesat tak terlalu tinggi, jelas tak mengenai bintang. Byuurr, sepatuku malah jatuh ke selokan, mengagetkan tikus-tikus berekor panjang yang sedang berkerumun berebut entah apa, makanan basi atau mungkin jabang bayi yang masih melekat ari-arinya.

Lihatlah aku, berjalan mendongak sepanjang langkah; cuma bersepatu sebelah, berdasi miring dengan kemeja biru kumal, dan celana bahan yang aromanya sudah, ahh aroma surga.

“Bulaaaan kau di mana?”

Serak-serak setengah parau, kerongkonganku sudah seperti terowongan jalan raya saja, banyak dilalui suara. Suara teriakan-teriakan memanggil. Yah, hampir setahun ini aku selalu memanggil namun tak pernah dijawab oleh yang aku panggil. Bulanku, entah di mana.

“Langit suram tanpa kau, Lan. Bulaaaaan!”

Aku mencari-cari setiap malam, sampai sudut-sudut kota dan pinggiran desa. Aku mencari di seputaran Tugu Putih tak ada. Di Sayidan tak ada. Aku menyelam di Selokan Mataram pun tak kujumpai secuil jejak Bulan. Aku berjalan ke arah selatan, menuju Pantai. Kutanyai butir pasir satu persatu, hingga aku bingung membedakan mana pasir yang sudah aku tanya dan mana yang belum aku tanya. Aku marah. Seperti bom atom yang jatuh di Hiroshima, BUUUMMMM. Kutendang pasir-pasir itu. Aku maki-maki mereka. Aku pukul. Aku ludahi. Lantas aku bernyanyi teruntuk mereka, kepada pantai juga seisinya, laut juga gelombang, bahkan karang yang tak nampak.

Baca juga  Jalan Dialektikamu

Wahai malam kupanggil Engkau …

Bukan dengan rasa dendam.

Mataku meringis, rasanya seperti kemasukan air laut yang asin, ataukah ini kemasukan pasir yang hendak balas dendam pada ceracauku. Ahh, aku menangis, rupanya aku menangis sejadi- jadinya. Seperti perempuan hamil yang ditinggal mati suami yang amat dicintainya. Tetes-tetes berjatuhan, aku mendekat pada gemericik air yang manja. Basah, mataku basah, mata kakiku basah, langit juga basah. Sudah gelap, basah pula. Lalu hujan mengamuk hebat, seperti aku.

***

Sebenarnya sederhana saja, aku ingin bercerita tentang segala hal, perkara apa yang terjadi pada setiap titiknya tentang hari kemarin, kemarin lagi, dan kemarinnya. Lan, aku galau. Bulan, aku harus bagaimana setelah aku menceritakan semua padamu? Gempa tahun 2006 lalu meluluhlantakkan seluruh hidupku, rumahku, mobilku, orang tuaku, semua musnah. Lantas mengapa aku yang tersisa, aku yang disisakan sebagai mahluk sebatang kara. Maksudnya apa? Apa maksudnya Bulan?

Bulan diam, mencari jawaban yang pas.

Hidupku tak pernah sesepi ini, tak pernah seambigu ini, tak pernah, sungguh tak pernah. Dengarkan ini, Lan. Aku mau makan tapi malah ke kamar mandi, mau tidur malah main PS, mau bangun dari mimpi, tapi tubuh dan ruhku tidak pernah sanggup dan mau untuk bergegas. Aku harus bagaimana untuk lepas dari antah berantah ini?

Aku amuk sepi, rasanya macam mengamuk Tuhan saja. Aku amuk kesendirian, rasanya macam menggerutu pada takdir. Lalu aku mengamuk di depan kaca, aku maki, aku teriaki bayang-bayangku sendiri. Aku macam orang tak tahu diri, memaki sekeping Tuhan dan semesta dalam diriku sendiri.

“Aku di mana?” mataku mengerjap-ngerjap, lantas aku bangun dari rebah dan mengucek-ngucek mataku yang rasanya setengah buta.

“Kau tidak lihat aku ini seorang suster, tentu saja kau di rumah sakit, Tuan.”

“Ahh, aku ingin bertanya,” kataku.

“Apa?”

“Kau tau Bulan ada di mana?”

Suster itu mengernyitkan dahinya, alis sebelahnya jadi naik. Lucu sekali, tapi aku tak berhasrat untuk menertawakannya.

“Bulan ada di langit, semua orang tau itu,” jawabnya.

“Bukan Bulan dengan b kecil, tapi Bulan dengan B besar”

“Maksud Tuan?”

“Maksudku, bukan bulan yang bertengger di langit sana, tapi Bulanku, ke mana? Di mana dia?”

Baca juga  Di Hadapanmu, Kepenyairanku Mengabu

Sepintas muka Suster itu jadi merah padam, dijentikkannya jarum suntik yang sebentar lagi akan menusuk kulitku, menembus pembuluh darahku. “Tuan, anda mungkin butuh istirahat.”

“Suster, ini serius,” aku mengelak. “Di dalam diriku ini ada sebuah galaksi, ada semesta di dalam sini. Bulanku hilang, dan kehilangan Bulan membuat semestaku kacau!” aku menceracau sambil menunjuk-nunjuk dadaku. Kuperlihatkan padanya tempat di mana Bulan harusnya ada, ya di langit hatiku, dalam dada.

Cuss.. jarum suntik menembus kulitku, aku tak merasakan sakit atau sensasi semacam digigit semut, tapi hambar.

“Istirahat ya, tidur yang nyenyak,” kata Suster berbaju hijau.

Gelap, terang, gelap lagi, terang lagi. Gelap total!

“Tolong carikan Bulan, Bulanku…”

***

Aku banyak bermimpi akhir-akhir ini. Aku sadar, aku jenuh mencari, aku juga kesepian. Aku jenuh pada semuanya. Berapa hari sudah aku terbaring di rumah sakit? Suster baju hijau bilang sudah hampir tiga hari, dia juga bilang bahwa biaya perawatanku ditanggung oleh dinas sosial. Wah, aku sudah seperti gelandangan.

Seringkali aku berkicau tentang Bulan, aneh, menurut Suster itu. Di Bulan Maret tahun 2007, aku masih mencari Bulanku. Ahh, langit-langit hatiku kosong tanpa dia dan sinarnya. Tiap kali aku mulai banyak berbicara aneh tentang Bulan, tentang pencarian, tentang semesta gaib dalam diriku, Suster menyuntikkan cairan ngantuk di lenganku. Kusebut itu sebagai ramuan hambar yang membuat aku tertidur lantas bermimpi kosong, kosong, tak ada rasanya. Padahal tiap kali aku tidur, aku selalu memimpikan wajah Bulan. Sinarnya terang.

“Hei, Tuan, apa yang kau cari adalah Bulan Maharani?” tanya Suster pada malam ketiga aku dirawat.

Aku mengangguk antusias, “Ya, ya. Kau menemukannya?”

“Kau harusnya ingat, Tuan. 2006 baru tahun lalu, masih segar di ingatan semua orang tentang gempa 5,9 skala richter yang dahsyat itu.”

“Aku tidak peduli pada gempa, di mana Bulan?”

“Ini adalah rumah sakit yang sama tempat Bulan dirawat dulu.”

“Apa Bulan masih di sini? Ah ya, aku rasa dia ketakutan melihat banyak bangunan roboh. Bulan pasti menungguku di sini, antar aku kepada dia,” mendadak aku jadi antusias. Mataku yang aku bilang setengah buta jadi membelalak lebar, terang.

“Tuan, Bulanmu sunah tenang di kuburan. Sadarlah!”[]

*Penulis amat sering memikirkan hal yang tak ada di pikiran.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of