Rush Money 25 November: Untung Atau Rugi

Oleh: Sagitaria Saputri*

Belajar dari rush money yang terjadi pada krisis moneter 1997/1998, di mana Bank Central Asia (BCA) dihantam oleh nasabahnya yang secara tiba-tiba menarik uang mereka secara besar-besaran. Hingga akhirnya BCA kolaps dan harus mendapat suntikan dana segar dari Bank Indonesia. Setelah kejadian krisis ekonomi tersebut, berlanjut dengan krisis politik dan sosial hingga berujung dengan tumbangnya rezim pemerintahan Soeharto.

Seruan rush money atau keadaan saat masyarakat menarik simpanan uang di bank secara masal kembali muncul ke permukaan, yang mana dimanfaatkan oleh oknum yang berkepentingan untuk mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia. Selain itu dimanfaatkan sebagai momentum dari adanya aksi keberlanjutan demo 4 November 2016 yang menuntut agar Basuki Tjahja Purnama alias Ahok ditetapkan menjadi tersangka kasus penistaan agama. Di mana aksi tersebut merupakan aksi tebesar pertama di Indonesia, dari sepanjang sejarah negara ini merdeka sejak tahun 1945. Seruan tersebut sudah ramai diedarkan oleh sejumlah tokoh agama di media sosial dan dapat berpotensi menggetarkan stabilitas ekonomi, politik, dan sosial.

Target rush money 25 November yakni menguras cadangan uang di bank sebesar 100 triliun rupiah, padahal bank hanya mencadangkan 5 sampai 10% saja dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Untuk mencapai target tersebut, pengusaha besar muslim diminta menarik uangnya di bank dalam jumlah besar. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah dianjurkan menarik uangnya di bank dua juta rupiah per orang.

Apabila mereka benar-benar melakukan hal tersebut pada 25 November 2016, maka yang akan rugi ialah dirinya sendiri. Kekacauan di perbankan tidak dapat dihindari, Bank Indonesia kewalahan mendistribusikan dana ke perbankan dalam waktu yang bersamaan dan dalam jumlah besar. Selain itu kondisi psikologi nasabah juga akan tergoncang, nasabah akan panik dengan kondisi yang kacau tersebut.

Salah satu alasan rush money ramai diserukan inilah untuk melawan kapitalisme yang telah merusak sendi-sendi ekonomi Pancasila. Akan tetapi para pengusaha besar pun tidak akan serta merta menuruti seruan rush money tersebut. Para pengusaha pastinya jeli dalam melihat kondisi ekonomi yang ada saat ini, dan dalam keberlangsungan perusahaan mereka. Lantas setelah para pengusaha ini menarik uangnya dari perbankan konvensional, akan dikemanakan uang mereka yang bejumlah puluhan bahkan ratusan juta tersebut? Akan riskan apabila menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di dalam rumah.

Perbankan syariah, mungkin mereka akan lari kesana. Tapi semudah itukah? Dampak yang akan terjadi, siapkah perbankan syariah mengelola uang yang secara mendadak dan berjumlah banyak tersebut? Tidak mudah dalam proses penyaluran dana, yang mana diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan modal kepada UMK, akhirnya dapat menaikan pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% per tahun. Semua itu butuh proses panjang, Bung!

Dampak lain yang terjadi, jumlah uang beredar pun akan meningkat. Hal ini tentu senada dengan teori kuatitas uang oleh Irving Fisher, dan dapat dirumuskan sebagai MV=PT.  Di mana M adalah jumlah uang beredar, V merupakan perputaran uang dalam satu periode (biasanya satu tahun), P adalah harga barang atau jasa, dan terakhir T yang merupakan volume transaksi. Apabila jumlah uang beredar naik maka harga pun akan naik tentunya berimbas pada inflasi yang dapat mencapai hyperinflation.

Dengan menganalisis berbagai kemungkinan yang terjadi dan tentunya yang akan rugi ialah masyarkat Indonesia secara keseluruhan. Pertanyaanya siapa yang akan diuntungkan dari adanya rush money? Perbankan yang mengalami rush money akan meminjam ke perbankan yang tidak mengalami rush money dalam bunga yang besar. Oleh karena itu perbankan yang tidak mengalami rush money diuntungkan, selain itu cadangan bank yang dimilikinya akan tetap terjaga. Untuk itu katakan NO pada rush money 25 November. Sebaiknya masyarakat dan para akademisi lebih jeli dalam menyerap informasi atau isu yang belum tentu menguntungkan dan telah meracuni setiap kepala melalui teknologi.[]

*Penulis mahasiswi jurusan Ekonomi Syariah angkatan 2014, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of