Castro: Imperialisme Tak Punya Harapan di Kuba (Sebuah Wawancara Tahun 1961 Bagian I)

Di bawah kediktatoran Fulgencio Batista yang mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat, Kuba sarat dengan iklim penindasan, terutama bagi mereka yang hidup dan bergantung pada hasil pertanian. Keterbatasan lapangan kerja, tingginya sewa rumah dan sewa tanah serta penjualan aset-aset negara kepada kalangan swasta yang sebagian besar merupakan orang-orang Amerika, benar-benar membatasi gerak masyarakat petani Kuba. Selama 24 tahun kekuasaan Batista (1933-1959) rakyat Kuba hidup dalam kediktatoran dan kesengsaraan tak berkesudahan.

Adalah Fidel Alejandro Castro Ruz, jamak dipanggil Fidel Castro, tercatat sebagai aktor yang memimpin dan menggalang kekuatan massa melawan kediktatoran Batista lewat gerakan protes, pemberontakan bersenjata, serta konsolidasi kekuatan massa yang kelak mempertemukannya dengan Che Guevara di tahun 1956. Serangan Castro dan kawan-kawan ke barak militer Moncada di tahun 1953, misalnya, membuatnya dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Nota pembelaan Castro di pengadilan yang ia beri judul “sejarah akan membebaskan saya” justru ia gunakan untuk membeberkan ketidakberesan kondisi Kuba. Dua tahun berselang ia mendapat amnesti umum, kemudian dibebaskan pada 15 mei 1955.

Usai dibebaskan, Castro tak kapok melawan. Ia kembali memimpin gerilya hingga mencapai momen puncak saat ia dan pasukannya berhasil merebut Havana pada satu Januari 1959. Ia kemudian membentuk pemerintahan revolusioner menyingkirkan orde diktator Batista. Castro sendiri menjadi perdana menteri selama 17 tahun (1959-1976). Salah satu kebijakan penting Castro adalah mengubah aturan pertanahan melalui Undang-Undang Reforma Agraria yang dijalankan oleh Instituto Nacional de Reforma Agraria (INRA). Undang-undang ini berujung pada nasionalisasi perusahaan asing, dan melarang kepemilikan asing atas tanah pertanian. Setelah itu, Castro juga menasionalisasi perusahaan-perusahaan sektor komersil dan industril; nikel, tembakau, tekstil, tembakau dan listrik.

Tak ayal kebijakan tersebut memicu kemarahan Amerika. Amerika lantas membatasi kuota pembelian gula dari Kuba. Di tahun berikutnya, 19 Oktober 1960, Amerika menjalankan embargo ekonomi pada Kuba, diteruskan dengan memutus hubungan diplomatik antar kedua Negara pada 3 januari 1961.

Pasca embargo kondisi Kuba menjadi sulit. Kuba terbantu setelah Uni Soviet memberi  jaminan dan siap membeli produksi gula dari Kuba. Di tahun-tahun berikutnya, kerja sama bilateral ini kian menguat, ditandai dengan pengiriman minyak Soviet, bantuan perangkat perang modern dan pembangunan fasilitas peluru kendali jarak jauh Inter Range Ballistic Missiles (IRBM) di Kuba.

Langkah embargo dan aksi-aksi lain yang hendak menjatuhkan Kuba nyatanya tidak menyiutkan nyali masyarakat Kuba waktu itu. Di bawah Pemerintahan Revolusioner Fidel Castro Ruz, kondisi perekonomian dan kepenuhan hak dasariah masyarakat justru meningkat drastis, berbanding terbalik dengan masa kepemimpinan sebelumnya.

Castro baru saja meninggal dunia Jumat malam 25 November waktu Kuba di usia 90 tahun. Kematianya meninggalkan duka bagi seluruh kaum revolusioner dunia. Untuk menghormati sosok Fidel Castro kami suguhkan teks wawancara jurnalis Uni Soviet dengan Fidel Castro di tahun 1961. Wawancara ini diterbitkan di koran Moscow Kommunist tahun 1980 dengan judul “Great Power of The Revolution.”

Wawancara ini adalah terjemahan dari teks berbahasa Inggris, terdomentasikan di dalam portal Latin American Network Information Center (LANIC) yang merupakan perpustakaan digital Universitas Texas. Kami terbitkan teks Great Power of The Revolution menjadi dua bagian. Berikut bagian pertama.

Pengantar Jurnalis Uni Soviet

Pada bulan Desember sampai Januari tahun 1961, delegasi pertama wartawan Uni Soviet—mewakili PRAVDA, IZVESTIYA, TASS, radio dan stasiun televisi—mengunjungi Kuba untuk mengikuti perayaan Revolusi Kuba yang ke-dua. Mereka bertemu dengan kamerad Fidel Castro Ruz, Perdana Menteri Pemerintah Revolusioner Kuba, berbincang mengenai situasi ekonomi politik dan prospek perkembangan Kuba. Kala itu situasi sangat menegangkan: Amerika Serikat merusak hubungan diplomatik dengan kuba dan mengancam akan melakukan agresi.

Pertemuan di antara Jurnalis Soviet dengan kamerad Fidel Castro bertempat di sebuah pulau kecil daerah Cienaga de Zapata pada 19 januari 1961. Sang Perdana Menteri baru saja tiba dari gunung di Escambray, dimana kesatuan pasukan rakyat sedang melawan kelompok kontra revolusioner yang beroperasi di pegunungan.

Kantor perdana menteri memberikan kesempatan pada Jurnalis untuk melakukan wawancara ini, pembicaraan selama itu direkam. Seluruh tamu ikut dalam pembicaraan. Perlu ditegaskan, wawancara ini berasal dari seorang Jurnalis yang mewawancarai Fidel Castro menggunakan bahasa Spanyol kemudian diterjemahkan. Hanya sebagian pembicaraan yang dipublikasikan kelompok Jurnalis itu.

Hari ini, 19 tahun kemudian, saat kita (Uni Soviet) merayakan ulang tahun ke-20 perbaikan hubungan diplomatik antara Uni Soviet dengan Kuba, puberbitan wawancara ini tentunya menarik minat pembaca. Wawancara ini menunjukkan akurasi prediksi Fidel Castro yang telah terbukti dalam sejarah.

Perlu ditekankan, saat ini imperialisme AS kembali menunjukkan politik buruk yang mengancam, provokasi dan ancaman terhadap Kuba yang menambah ketegangan di wilayah Karibia.

***

Jurnalis: Saya memiliki dua pertanyaan. Pertama: bisakah anda jelaskan kepada kami kondisi politik di Kuba saat ini? Pertanyaan kedua ini cukup romantis: maukah anda memberitahu kami seperti apa gambaran Kuba dalam tiga atau empat tahun ke depan jika tak ada agresi?

Castro: kami melihat keaadaan politik secara optimis. Maksud anda kebijakan domestik, bukan begitu?

Jurrnalis: Ya

Castro: Sangat baik. Revolusi mendapatkan dukungan yang sangat besar dari rakyat. Selain itu, revolusi ini hampir sepenuhnya didukung mayoritas kelas pekerja.

Pekerja tak bisa memainkan peran yang menentukan saat menyingkirkan Tirani. Selama perang, alasan geografis dan militer membuat gagal usaha menghadapi mesin militer yang tiranik. Karena alasan ini, kami harus memulai perjuangan di area pedalaman. Represi paling keras terdapat di kota sehingga partisipasi aktif pekerja sangat dibatasi oleh perlakuan politik yang kejam terhadap kelas pekerja. Meski begitu, kemenangan penuh revolusi akhirnya bisa tercipta.

Imperialisme tak bisa membuat muslihat. Revolusi menggantikan Batista. Kelas pekerja yang mendukung revolusi lewat pemogokan umum, mengalahkan semua taktik imperialisme. Kekuasaan beralih kepada tentara pemberontak. Sesudah itu, untuk menguatkan dan mengembangkan revolusi, kelas pekerja memainkan peran yang sangat menentukan.

Sulit sekali mengkonsolidasikan revolusi dan mengatasi berbagai halangan yang diciptakan imperialisme di tanah kami. Ini lebih sulit daripada merebut kekuasaan. Saat ini revolusi bergantung pada dukungan rakyat pekerja—buruh dan petani.

Petani bisa diklasifikasikan dalam beberapa kategori yang cukup luas: anggota koperasi, Buruh tani, dan petani Gurem. Koperasi pertanian dan perikanan yang menyatukan 140.000 keluarga petani memberi dukungan penuh pada revolusi. Kehidupan 200.000 keluarga pekerja pertanian sudah meningkat drastis. Contohnya di ladang-ladang Pueblo de lo Pinos, El Rosario, dan El Corojal. Seluruh keluarga disana sudah bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya: perumahan dengan lampu listrik dan lain sebagainya. Sebaik orang-orang berpendapatan tinggi. Merekalah kekuatan utama yang mendukung revolusi di pedesaan.

Baca juga  Castro dan Politik Membentuk Rakyat yang Partisipatoris

Akhirnya, Kuba memiliki 100.000 keluarga petani kecil. Mereka menyewa tanah dan dieksploitasi oleh Tuan tanah. Mereka mendapat keuntungan dari revolusi: mereka tak harus membayar sewa lagi. Selain itu, tahun ini kami akan memberikan mereka pinjaman sebanyak 80.000 peso. Pinjaman akan diberikan pada 80% petani, petani miskin.

Koperasi-koperasi sudah dibuat di pusat produksi tebu. Produksi daging, ayam, babi, susu, beras, kapas dan tempat panen lainya, dan yang penting produksi makanan berada dalam pertanian rakyat.

Kelompok-kelompok yang saya sebutkan tadi—para anggota koperasi, pekerja di pertanian rakyat dan para petani kecil, mencapai 90 sampai 95% jumlah penduduk di desa-desa Kuba. Kebijakan pemerintah revolusioner berorientasi memberikan keuntungan langsung pada kelompok-kelompok tersebut.

Misalnya, saat anda mengunjungi koperasi nelayan Mansanilo. Nelayan itu dulunya hidup di dalam gubuk kecil yang kumuh dengan penghasilan kecil, sangat miskin… saya tak tahu apakah anda sudah melihat rumah-rumah mereka atau belum. Baru-baru ini 506 rumah telah dibangun. Rumah-rumah nelayan memiliki lampu listrik, ada sekolah, air, perahu, toko… mereka punya semua ini. Kondisi kehidupan mereka sebelumnya sangat berbeda dengan saat ini.

Jurnalis: kami sudah mengunjungi sebuah tempat yang terlihat sangat nyaman dan sehat.

Castro: Kami juga memperhatikan nelayan di perkampungan lainnya. Di bulan April nanti kami akan menyelenggarakan festival perikanan di Koperasi Perikanan Mansanillo. Kami akan kumpulkan seluruh nelayan dari seluruh koperasi untuk member tahu cara yang akan mereka lakukan.

Produksi ikan meningkat 25 persen setahun. Harga pembelian ikan yang lebih baik sudah ditetapkan dan semua nelayan dipekerjakan. Tahun ini tangkapan ikan akan meningkat dua kali lipat.

Bisa dipahami, nelayan yang hidup di negara yang sangat kemiskinan, diabaikan setiap orang, sudah siap mengorbankan hidup mereka untuk revolusi.

Anda mungkin sudah mengunjungi beberapa koperasi dan pemukiman. Misalnya, sudahkah anda kunjungi pemukiman dekat Mansanillo, di area persawahan? anda sudah kesana?

Jurnalis: Sudah

Castro: Sudahkah anda melihat pemukiman yang sedang dibangun di Mansanillo? sudahkah anda mengunjungi Grarima, Bartoloma Maso, serta peternakan rakyat? sudah berkunjung kesana?

Jurnalis: Sudah

Castro: Perumahan sedang dibangun di perkebunan rakyat bersamaan dengan sekolah-sekolah dan rumah sakit seperti yang anda lihat. Para pekerja ini tinggal di pondok yang begitu kumuh, sangat miskin. Mereka tidak memiliki pekerjaan. Hari ini, pekerjaan mereka terjamin. Coba lihat: upah sudah ditetapkan berdasarkan hukum, perumahan gratis, penerangan listrik gratis, air gratis, bantuan medis gratis, dan obat-obatan gratis; pakaian, sepatu, dan makanan untuk anak-anak mereka yang bersekolah juga gratis, dibiayai oleh ekonomi nasional. Nanti akan saya jelaskan ke anda seperti apa itu pertanian rakyat itu.

Apakah di sepanjang jalan anda melihat Koperasi Camilo Cienfuegos?

Para pekerja, hari ini atau nanti, akan memiliki semua hal yang dulunya dimiliki tuan tanah. Dulu bak mandi hanya ada di rumah tuan tanah, begitu juga air dan toilet. Hanya tuan tanah yang memiliki bangunan rumah dari semen. Hanya anak tuan tanah yang bisa menikmati sekolah berkualitas dan hanya tuan tanah yang menggunakan stadium olahraga dan fasilitas hiburan.
Jurnalis: bisakah kita katakan bahwa rakyat pekerja Kuba akan menikmati kondisi hidup yang sama seperti tuan tanah?

Castro: Kini, semua ini diperuntukkan bagi pekerja. Jika anda memiliki tujuh anak kecil berusia sekolah, anak anda akan mendapat sepatu dan makanan. Singkatnya, berapapun jumlah anak anda, gajinya akan mencukupi untuk keluarga besar itu. Perkebunan rakyat memiliki obat-obatan,  tenaga medis, semuanya.

Apakah menurut anda para pekerja ini, yang taraf hidupnya akan sama dengan tuan tanah dulu, mau membiarkan imperialis meyakinkan mereka agar meninggalkan semua ini? akankah mereka mulai melawan demi perusahaan-perusahaan Amerika, agar mereka kembali? Akankah mereka meminta tuan tanah kembali?

Jurnalis: Mereka sudah bilang hal itu pada kami, “Hanya ketika kami sudah mati.” “Kami akan melawan sampai mati ”

Castro: Baik, anda lihat, misalnya, tempat ini, Cienaga de Zapata. Ribuan keluarga pembuat arang menempati daerah antara Cienaga dan lautan. Mereka tidak memiliki kendaraan, para pembeli membeli arang mereka dengan harga yang sangat murah. Mereka tidak memiliki guru, tenaga medis, perumahan dan toko. Hari ini mereka sudah memiliki jalan, mereka memiliki guru dan tenaga medis, dan mereka menjual arang mereka dengan harga yang pantas, sejak terhapusnya kelas menengah. Mereka membeli kebutuhannya dengan harga yang sangat murah. Mereka juga akan memiliki perumahan.

Anak mereka banyak yang bekerja di pusat pariwisata. Dulu daerah ini sangat diabaikan. Sekarang tempat ini telah dikunjungi oleh puluhan ribu orang. Apakah anda percaya bahwa para pembuat arang ini akan melawan demi kepentingan Amerika dan tuan tanah?

Di sini, di pulau ini, terdapat 120.000 pekerja yang dulu dipekerjakan di perkebunan besar dan perkebunan tebu, bekerja 3-4 bulan, kelaparan, berbulan-bulan menganggur, dan, ketika panen tebu dimulai, jumlah hutang mereka sebanding dengan pendapatan mereka dari panen. Mereka tidak memiliki tanah untuk menanam tanaman pangan, dan mereka ataupun anak-anak mereka tak pernah memiliki susu.

Kini 120.000 keluarga ini adalah pemilik perkebunan tebu. Mereka memiliki lahan untuk menanam tanaman baru. Setiap Koperasi memiliki sapi perah lebih dari seratus. Seluruh Koperasi memiliki susu dan menawarkan pekerjaan tetap. Banyak area perkebunan tebu, sebelumnya tidak bisa panen, akan panen sekarang. Tuan tanah telah menyisakan 150.000 hektar lahan tebu sebagai cadangan, tak memanenya. Tahun ini tebu dari 150.000 hektar ini akan dipanen dan lahannya akan digunakan untuk menanam jagung dan tanaman pangan. Koperasi akan memberi pinjaman untuk membeli mesin dan membangun pemukiman, nantinya dilunasi menggunakan keuntungan mereka.

Kehidupan pekerja di koperasi tersebut telah berubah secara drastis. Dulunya, ia menjadi sasaran perlakuan ngawur manajer, tentara, dan para tengkulak. Dulu, dia terus-menerus dipermalukan dan selalu hidup dalam ketakutan. Hari ini, orang ini berjalan dengan senapannya, tak seorang pun menipunya, tak ada yang mencuri darinya, anaknya memiliki guru, mereka minum susu, sepanjang tahun dia memiliki pekerjaan dan akan memiliki rumah. Percayakah anda bahwa koperasi-koperasi tersebut akan mendukung dan mempertahankan lahan milik Amerika?

Petani kecil membayar sewa tanah 30, 20 atau 10 persen dari ongkos produksi mereka. Mereka yang tinggal di pegunungan tidak bisa membaca atau menulis. Mereka tidak memiliki guru. Hari ini banyak sekali guru di sepanjang pegunungan. Kami sedang membangun banyak rumah sakit di seluruh area pegunungan dan akan memberi pinjaman kepada setiap orang.

Baca juga  Castro: Pertanian Selalu Menjadi Basis Ekonomi Kami (Sebuah Wawancara Tahun 1961 Bagian II)

Sebelumnya petani itu juga tidak memiliki modal kerja untuk memanen tanamannya. Dia akan turun gunung menuju lembah, bekerja dengan gaji satu peso per hari, membeli garam, minyak, gula dan sayuran, seperti ubi kayu dan keladi, kembali ke gunung dan bekerja di sisa minggu itu menanam kopi dan pohon kakao.

Bagaimanapun, beberapa tanaman tertentu baru bisa menghasilkan buah saat sudah berumur tiga sampai empat tahun; di akhir pekan dia akan kembali turun ke lembah, sekali lagi bekerja demi mendapat satu peso per hari, dan kembali ke gunung. Penanaman kakao atau pohon kopi bertempat di sebidang tanah miliknya, tanah itu seringkali direbut darinya.

Pada tahun ini, petani itu juga mulai mendapat 40 peso per bulan, dipinjamkan padanya selama empat tahun. Dalam jangka empat tahun, kopi dan tanaman sudah bisa dipanen, dia bisa mengusahakan pembayaran utang. Dia bisa tinggal di tempatnya selamanya, tanpa perlu turun ke lembah untuk mendapatkan satu peso per minggu. Percayakah anda bahwa petani itu akan mempertahankan kepentingan imperialisme dan pemilik tanah?

Siapa yang tersisa? segelintir pemilik tanah dan para pedagang—kelas menengah—agen-agen politik dengan pekerjaan enteng, polisi pedesaan, para manajer dan tak seorang pun lagi. Mereka tak cukup kuat melawan revolusi. Politik mereka sangat jelas dan manfaat saat ini sepenuhnya jelas dan nyata. Mereka tidak dapat menggagalkan dengan menarik massa pedesaan kami, generasi muda, ribuan dan ribuan orang muda penyandang strata miskin, yang kami latih, organisir, dan disekolahkan dengan beasiswa.

Dulu, orang miskin tak bisa ke universitas. Sekarang mereka mendapatkan beasiswa universitas. Mereka adalah kekuatan lain yang setia pada revolusi.

Semua keluarga urban membayar sewa rumah cukup tinggi, menghabiskan sepertiga pendapatan mereka. Pemerintah revolusioner menurunkan sewa setengahnya dan memberi hak pada rakyat untuk membeli rumah mereka sendiri tanpa membayar sewa lagi. Dalam lima tahun, sebagian besar dari mereka tidak akan lagi menyewa rumah.

Dulu, sebuah keluarga bahkan tidak berani menancapkan paku di dalam rumah. Hal ini dilarang oleh pemiliknya. Penyewa tidak mau membayar kerusakan, demikian juga pemilik rumah. Sekarang semua orang bahagia.

Apakah sebuah keluarga mau menambahkan satu ruangan di dalam rumah, yang seperti itu boleh saja dilakukan. Semua perbaikan atau pembetulan boleh dibolehkan. Penghasilan yang sebelumnya dibayarkan pada Tuan tanah sekarang dibayarkan pada Negara untuk membangun lebih banyak rumah bagi keluarga Tuna Wisma.

Semua keluarga itu sangat bahagia. Apa anda pikir mereka akan melawan agar harga sewanya naik lagi atau agar terusir dari rumah mereka?

Seperti yang mungkin anda lihat, di semua tempat, kelas pekerja mendukung revolusi sepenuhnya. Para petani memberikan dukungan penuh untuk revolusi dan begitu pula kalangan muda. Apa yang akan imperialisme lakukan untuk memerangi revolusi? Mereka akan mengacaukan dan mendemoralisasi rakyat. Di Negara kami, bagaimanapun, rakyat sudah terorganisir, diluapi semangat moral dan dipersiapkan dengan sangat baik.

Iklim politik yang sangat bagus sudah berkembang.

Satu hal yang saya lupakan… ada 50.000 anak-anak yang bersekolah di tempat yang sebelumnya merupakan barak pemondokan. Selain itu, tahun ini tak akan ada lagi satu orang pun buta huruf yang tersisa di Kuba.

Orang-orang kulit hitam Kuba sangat perlu diceritakan. Sebelumnya, orang kulit hitam Kuba tak dipekerjakan di dalam industri. Guru kulit hitam tak diberi wewenang mengajar atau diperbolehkan pergi ke pantai. Kulit hitam hanya bekerja sebagai juru masak dan pelayan. Hari ini semua pekerja kulit hitam bisa bekerja di industri manapun. seorang pekerja kulit hitam bisa dipekerjakan di institusi apa pun atau pergi ke pantai mana pun. Diskriminasi sudah dihapuskan. Apa anda pikir bahwa orang kulit hitam Kuba akan melawan demi imperialisme, tuan tanah dan diskriminasi rasial?

Tuan tanah dan borjuasi menganggap perempuan Kuba sebagai objek pemuas nafsu mereka. Hari ini perempuan kuba memiliki hak. Perempuan memiliki organisasi sendiri dan bisa mengikuti aktivitas jenis apa pun. Mereka bekerja di industri, mempunyai akses ke segala hal, dan menikmati kesetaraan sosial. Akankah perempuan melawan demi imperialist dan tuan tanah?

Tak seorang pun di Kuba, kecuali segelintir orang dengan hak istimewa, akan menyukai restorasi orde sebelumnya (Orde Batista) dalam negeri. Kuasa revolusi kuat, sangat kuat, dan rakyat sangat optimis untuk masa depan. Anggapan dan kebohongan yang disebarkan imperialisme selama bertahun-tahun melalui film, surat kabar, jurnal, televisi, institusi kebudayaan dan pertunjukkan boneka, dan iklan-iklan telah disingkirkan.

Biar saya beri tahu hal ini: jika setelah 50 tahun kebohongan imperialisme tak bisa mencegah rakyat Kuba untuk menemukan kebenaran dan memahaminya, bagaimana mungkin imperialisme saat ini, yang tak memiliki Koran, stasiun radio, jurnal, mata-mata, organisasi kebudayaan, pertunjukkan boneka atau film, bagaimana mungkin imperialisme bisa membuat rakyat mempercayai kebohongan yang mereka sebarkan?

Hampir semua tuan tanah sudah melarikan diri. Hampir semua kapitalis sudah melarikan diri. Hampir semua tengkulak sudah melarikan diri. Hampir semua intelektual yang melayani Imperialisme sudah melarikan diri juga. Akhirnya, kedutaaan besar Amerika dengan semua mata-matanya pulang ke rumah mereka. Imperialisme tak memiliki kesempatan lagi di sini. Hari ini posisi imperialisme sangat lemah. Disini imperialisme tak memiliki intitusi seperti tentara professional, yang dulunya sering digunakan untuk menjaga kekuasaan dan menggebuk rakyat. Tidak ada pemimpin dari militer di kantor-kantor orang Amerika. Tidak ada misi militer. Tentara professional telah dihancurkan. Imperisalime tak lagi berkeinginan melakukan coup d’etat karena ia tak punya senjata untuk mengubah situasi politik di sini. Imperialisme tak punya harapan di Kuba.

Jurnalis: Semua hal yang telah kami saksikan sepanjang perjalanan mengitari pulau ini tak berbeda dengan ucapan anda. Kami sependapat dengan perkataan anda.

Diterjemahkan oleh Rifai Asyhari dan Khairul Amri. Berikut link teks wawancara Great Power of The Revolution: http://lanic.utexas.edu/project/castro/

Sumber gambar: cnn.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of