Terbunuh Kopi

Oleh: Ilham Rusdi*

Saat almanak memasuki Desember malam ini, bintang semakin dilahap gelap, dingin kian mencekik. Di sini, di kedai kopi Borju, kami bersua memecah rindu bersama seruput kopi. Amri dan Andi, teman-temanku di kantor media. Kami adalah gerombolan wartawan yang giat mengarungi malam dengan perahu buku. Berbicara tentang nakalnya otoritas penguasa, pandai berbicara marxisme, dan hampir semua jalan kami, menikung ke kiri. Yah, itulah kami yang mencoba menjadi aktifis jurnalis-kritis. Selalu saja mengkritisi kinerja pemerintah. Pokoknya serba salah.

Tetapi malam ini, cangkir kian menubruk keras. Jika kubayangkan, seperti kerasnya bedug atau nyaringnya lonceng di gereja. Aku tiba di sana, suasana menjelma tegang. Tak seperti malam-malam sebelumnya, kali ini sinis menyergapku. Entah, apa yang aneh padaku. Kucoba menilik kembali kesalahanku hari ini, tapi rasanya tak ada.

Kami masih saja diam, tak ada suara. Sepi dan sunyi menyayat pertemuan ini. Mengapa aku masih tegang? Andi pun menyodorkan cerutu padaku.

“Hisaplah, selagi masih sempat,” singkat Andi.

“Siap bung!” kataku.

Kunyalakan cerutu, lalu kuhisap sedalam-dalamnya hingga dadaku terasa sesak. Yah, kulakukan itu agar kegaduhan hatiku tertutupi oleh asap cerutu. Kami bergemul dengan asap dan bermain-main dengannya. Lalu kucoba menyapa Amri.

Gimana ri? Kelanjutan diskusi kemarin?” sapaku.

“Kan sudah selesai,” tukasnya.

Matanya beralih, menyaksikan para musisi yang sibuk menyulam lagu di panggung kedai. Mungkin itu cara agar matanya tak saling beradu denganku.

Suasana makin tegang dan kopi kian pahit saja. Kali ini, tak satu pun buku terlihat di atas meja. Ingin sekali rasanya aku mengadu pada Andi tentang kegelisahan ini. Apa yang salah di malam ini?

Saat Amri beranjak ke toilet, aku menarik kuping Andi.

“Ada apa dengan Amri?” tanyaku.

Andi pun berterus terang. Dia bercerita padaku tentang pertemuan sebelumnya. Kami memang berdiskusi dan bercerita banyak kemarin. Tentang revolusi, penindasan, hingga pencurian nilai lebih para buruh tani. Saat itu, kami berbicara tentang penindasan buruh tani. Mengenai petani kopi di samping kedai ini yang masih menggarap lahannya di malam hari. Aku mengklaim petani kopi itu sebagai orang yang sangat naif dan terlihat bodoh, lantaran pasrah saja hasil panennya dibeli murah oleh pemilik kedai ini. Padahal jadwal kerjanya begitu padat, namun uangnya tak memadat. Begitu juga, penjelasanku mengenai pemilik kedai. Ia sangat berjiwa kapitalis dan tidak pernah tahu kegelisahan rakyat-rakyat jelata, selalu saja ingin menguasai dan menindas. Pokoknya keduanya serba salah dalam pikiranku.

Yah, mungkin saja aku kecanduan kopi ala Guevara atau kesurupan hantu marxis. Sehingga berefek overdosis, lalu membuat kepalaku migrain dan selalu menikung ke kiri, seperti miringnya orang gila. Mungkin juga aku curiga dengan diriku yang terlalu teoritis dengan peristiwa seperti itu.

“Ssstttt,” Andi menyela.

Dia melanjutkan ceritanya. Wajahku kisruh sangat pucat dan kusut, saat kutahu bahwa ternyata pemilik kedai ini adalah pamannya Amri. Paman yang menghidupinya selama berkuliah di Yogyakarta, sekaligus menjadi salah satu tulang punggung keluarganya. Lagi-lagi wajahku tak mampu bersembunyi. Walaupun dilarutkan bersama kopi, tetap saja kesalahanku masih lebih pahit. Pantas saja hatinya tersayat dan berkecamuk. Aku telah mengatai dan terlanjur mengklaim pemilik kedai ini sebagai orang yang paling bangsat. Kata ‘bangsat’ yang hampir saja kuterjemahkan ke dalam sembilan belas bahasa, saking larutnya diriku dalam kebencian seorang penindas. Ah, rasanya aku ingin memasukkan teori-teoriku ke dalam botol dan melemparnya ke dasar laut, agar kelak aku tak sembarangan mengklaim lagi. Memang aku tak begitu mengenal Amri lebih dalam, tapi….

Kami berhenti bercerita. Amri muncul dari toilet. Ia datang membawa secangkir kopi lagi untukku. Tapi, wajahnya masih kusam dan sepertinya masih ada dendam yang menjamur di hatinya. Entah, bagaimana caraku menyampaikan kata maaf padanya.

Suasana semakin hening dan kantuk kian menyusup. Kuseruput kopi itu untuk melawan kantuk. Tetapi, malah semakin mengantuk. “Tidak, ini bukan kopi, memang bukan,” kataku dalam hati. Perasaanku menjadi aneh, semakin migrain dan mengambang. Dalam pikiranku, kulantunkan lagi ayat-ayat pembebasan untuk menumbuhkan gairahku. Tidak mempan rupanya.

Aku mulai sangat pusing dan tak mampu berucap. Aku masih bisa menatap wajah mereka berdua, mereka tersenyum, mengejutkan. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Tetapi mengapa pundakku semakin berat saja, seperti memikul dua karung biji kopi. Tak kubiarkan tubuh ini rebah. Aku adalah orang yang paling tangguh begadang di antara kami bertiga, tiga puluh ton kantuk pun mampu kupikul.

Tapi mengapa tubuhku kian rebah dan akhirnya terjatuh?

“Racun, Sianida?” pikirku.

Tak mungkin. Aku tergeletak dan mulutku berbusa. Apakah aku mati keracunan? Tidak. Mungkin aku terlalu banyak menonton berita di TV. Aku bukanlah Wayan Mirna yang mesti dibunuh oleh seruput kopi. Kasus seperti itu terlalu mahal bagiku. Mungkin tersangka harus membayar mahal pengacara untuk melarikan diri, lantaran sidang mesti dikaji hingga dua puluh tujuh jilid. Aku pun tak sanggup untuk menunggu pelakunya, mungkin saja perjalananku ke surga lebih cepat dari pengakuan pelaku.

Aku sangat tidak percaya. Kopi adalah kawan setiaku. Setiap malam aku selalu menyapanya dan mengadu kegelisahanku dengannya. Tapi mengapa ia begitu jahat dan menjebakku?

Tetapi kali ini, kopi di atas meja semuanya nampak berwana merah, memerah darah. Dia menyembunyikan warna hitamnya. Mungkin saja kopi bersembunyi agar kelak aku tak menuntut dosanya di surga, lantaran telah membunuhku.

“Namun, apakah aku benar-benar mati?” tanyaku pada mereka berdua.

Mereka tak menjawabku. Mereka sahabatku, Amri dan Andi tak memperdulikanku tergeletak mengarungi kegelisahan ini. Mereka terus bercerita seolah tak mendengar teriakanku. Mungkin aku sudah betul-betul berada di surga.

Tidak mungkin, sangat tidak mungkin. Aku bahkan tidak percaya pada diriku sendiri, jika ini konspirasi Amri dan Andi untuk menjebakku. Itu sangatlah tidak mungkin. Meskipun aku tak mengenali lebih jauh mengenai Amri, tapi setidaknya aku punya modal membaca karakternya. Amri, dia adalah orang Bugis. Walaupun hatinya tersakiti dengan ucapanku kemarin, tapi aku yakin dia bukanlah pendendam dan orang kasar, seperti yang orang-orang kenali. Dia juga berhati baik, sopan, santun, dan ramah, layaknya seperti orang lain yang hidup pada umumnya.

Yah, sudahlah. Aku memang mati. Tetap tergeletak dan tak berdaya. Aku hanya berharap jika di surga kelak ada sungai yang mengalirkan kopi, bukan susu saja. Tentunya kopi itu tidak berkhianat lagi padaku.

Sementara di atas meja, kopi selalu bertambah kian penuh. Gumpalan asap cerutu semakin tebal menghalangi pandanganku pada mereka. Karena aku tak lagi melihat mereka, mungkin secangkir kopi tumpah dan membentur bagian tubuhku. Aku merasakan itu. Kopi meluap dan membanjiri bajuku. Warnanya merah mengairi sela-sela jahitan bajuku. Sangat terasa luapannya dan begitu meresahkan, seperti berenang mengarungi samudera. Aku sangat kaget. Aku basah, basah, basah, dan berteriak keras.

“Baaaasaaaaaah!!!”

***

“Woy, mu tendang itu gelas, liat bajumu basah semua,” Amri menepuk pundakku, menyapa dengan dialeknya.

“Mimpi ka’?” kataku.

“Iya, dari tadi ko tidur itu. habis mi pembahasan ini,” tukasnya.

Aku lega, aku beruntung malam ini, kataku dalam hati. Kulihat wajah mereka baik-baik saja dan menampakkan keceriaan. Ringan dan tak ada masalah. Mungkin mimpi terlalu murah, sehingga dalam mimpi saja kita bisa berteori. Maka naiflah mereka yang ada di dunia nyata, tapi tak mampu berteori. Ah, sudahlah….

“Tidur malah akan membunuh inspirasimu, Bung! Banyak inspirasi di dalam secangkir kopi. Jangan lupa, minumlah kopi serindu sekali!” kata Amri, saat melihat cangkir kopiku masih penuh.[]

*Penulis bukanlah sastrawan. Hanya hobi dengan cerita yang absurd. Salah satu aktifis penggemar harapan palsu. Pengalaman buruk bulan ini, dikejar anjing saat pulang dari kedai Bjong. Dan ternyata, penulis bukanlah siapa-siapa.

 

Ilustrasi: fineartamerica.com/featured/tea-party-redlime-art.html

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of