Dendamku

Dendamku

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Tira Nazwa Aliyyah*

Langit sudah gulita, binatang jalang melolong di balik jendela, dan kau tak kunjung datang. Hatiku menjerit, batinku melangit, dan mulutku tak bisa diam, berucap doa dengan gemetar. Ke mana kau pergi malam ini? Dari tadi telponku tak kau hiraukan. Mengapa, setiap kali aku lengah kau selalu saja bertingkah? Air mataku meleleh, meneropong bintang-bintang, berharap kau kembali pulang.

***

Minggu menyapaku dengan manis. Hari libur harus dimanfaatkan dengan baik, katamu setiap kali aku terbaring di minggu pagi. Aku tak pernah mengacuhkan perkataanmu, karena pesona tempat tidur jauh lebih menggodaku ketimbang ucapanmu. Berkali-kali kau mendatangi kamarku. Mulanya baik-baik saja, lalu kau sedikit menaikkan nada bicaramu, kemudian geram menghinggapi seluruh nafasmu, dan kau memutuskan untuk berhenti, seperti menyerah atau kau mulai marah? Aku tak pernah peduli dan seolah tak mau peduli dengan kerja kerasmu. Hatiku seperti membeku, keras, tak tersentuh sedikit pun oleh semua perlakuanmu.

Hening, beberapa saat berlalu, setelah kau selesai menyibakkan gorden-gorden di seluruh ruangan yang ada di rumah ini, setelah amarah melahap sisa-sisa kesabaranmu menghadapiku. Hening, benar-benar hening. Aku mulai kehilangan selera tidurku. Selalu saja begitu, gerutuku.

Keheningan rumah ini membuatku tersentak, dan aku terbangun dari keegoisan. Aku mulai menjatuhkan kaki-kakiku dan membiarkannya menggelantung sebelum dingin menyergap telapaknya yang telanjang. Mulanya berjinjit, lama-lama aku bosan menunggu dan mulai melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Kucari kau ke mana-mana, tetapi tak kutemukan sosok dinginmu di mana pun. Aku mulai lupa jika kau selalu seperti itu.

Badanku berbalik, kembali ke kamar kesayanganku. Seperti kecewa, tapi untuk apa? Aku sudah tahu kau tak pernah ada di rumah, setiap hari, setiap kali aku membukakan mata. Kurapikan kamar bertumpuk buku bekas bacaanku semalam, menemani pikiranku yang tak mau melelap. Kau selalu saja memenuhi pikiranku, memenuhi dadaku dengan semua rasa sesal, begitu sesak hingga membuatku kesulitan bernapas.

Baca juga  Akurat dan Tepat dengan Jurnalisme Presisi

***

Aku selalu saja mereka-ulang kejadian yang telah lalu, begitu usang, namun tak pernah luput dari memoriku. Matamu yang bulat, hidung lebar, bibir kering, dan pipi yang sama sekali tak tirus. Wajah itu, wajah yang selalu kurindukan. Wajah yang selalu ingin aku sentuh, merawat lekuk-lekuk keriputnya agar nampak lebih muda.

Letih tergambar jelas di wajah kusutmu, yang selalu kusut setiap kali kau datang membuka pintu. Kau selalu tergesa-gesa memasuki rumah dan menelusuri lorong kecil sebelum sampai ke dapur, mencari nasi dan lauk-pauk. Aku setia menyajikan kehangatan di atas meja kecil itu, berharap kau mau memuji masakanku. Ah, mengapa aku selalu banyak berharap, dan kau selalu berhasil mematahkannya.

Aku lelah, terlalu lelah dengan semua sikap dinginmu. Hingga suatu hari kuputuskan untuk berontak, pergi sesuka hati tanpa peduli waktu bergulir, tanpa berpamitan, dan tanpa meninggalkan apapun di meja makan. Kau tahu? Aku menunggu panggilanmu menjamah di layar kecil telepon genggamku. Tapi namamu sama sekali tidak muncul. Aku menangis di bawah langit yang mulai beranjak senja. Seharusnya sekarang kau sudah sampai di rumah, dan tercengang melihat rumah lengang tanpa hadirku. Mengapa kau selalu berhasil mematahkan harapan-harapan yang membumbung tinggi di dada.

Kumatikan layar kecil itu dan kembali meneruskan isakku yang begitu pedih. Ketika langit mulai menampakkan bintang-bintang, akhirnya aku tersadar dari segala lamunan. Mungkin aku terlalu menuntut, menuntut kau menjadi lebih hangat. Meskipun aku tahu, semua itu hanya akan menyisakan luka dan kecewa. Oh, mengapa aku keras kepala sekali.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, kakiku melangkah mantap menelusuri lampu-lampu jalanan yang sudah terang benderang. Wajahku tertunduk setiap kali melihat orang berlalu-lalang, menyembunyikan mata yang sembab. Entah, tubuh ini begitu lunglai berjalan lurus mendekati rumah, baru beberapa langkah sudah terhenti, terduduk dan melamun lagi.

Baca juga  Perlunya Mengkritisi Kebijakan pada Sistem Pendidikan

Sesampainya di rumah, tak kudapati tubuh kurusmu di mana pun. Rasanya aku semakin lelah. Kunyalakan semua lampu rumah, menatap sudut-sudut ruangan yang tak pernah dihiasi apapun olehmu. Berkali-kali kulihat pintu, berharap ia segera terbuka, menunggu detik-detik kedatanganmu.

Aku berjalan menghampiri jendela yang tertutup rapat. Kubuka jendela itu hingga menimbulkan bunyi menderit karena lama tak pernah dibuka. Angin menyambutku riang, berhamburan menerpa kulit wajahku. Kutarik kursi kecil di balik kaca rias kamarku hingga menghadap jendela. Aku terduduk di atasnya, menatap bintang-bintang yang menyala di kejauhan sana.

Langit sudah gulita, binatang jalang melolong di balik jendela, dan kau tak kunjung datang. Hatiku menjerit, batinku melangit, dan mulutku tak bisa diam, berucap doa dengan gemetar. Ke mana kau pergi malam ini? Dari tadi telponku tak kau hiraukan. Mengapa, setiap kali aku lengah kau selalu saja bertingkah? Air mataku meleleh, meneropong bintang-bintang, berharap kau kembali pulang.[]

*Tira Nazwa Aliyyah, mahasiswi Tadris Matematika IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Saat ini menjabat sebagai Pemimpin Umum LPM FatsOen.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of