Meninjau Ulang Kesastraan Bercorak Individual

Lpmarena.com, Sastra menjadi jalan alternatif yang digunakan seseorang untuk mengkritisi segenap kenyataan yang ada. Namun, sastra seringkali berpusat pada keunggulan atau narasi yang mengunggulkan “Sang Individu”. Individu dijadikan sebagai sumber dan sebagai solusi.

Konsep individualisme dalam sastra inilah yang coba dibongkar dan dikritik oleh Richard Fox, pengajar Institut für Ethnologie at Ruprecht-Karls Universität Heidelberg Jerman, sekaligus peneliti kajian budaya-budaya teks material di Asia Tenggara dalam acara diskusi Sastra Sebagai Kritik: Susah dan Kesusahan (Struktural).

Ada alternatif individu yang Richard kritik, kaitannya dengan modernisme. Modernisme merupakan proyek “enlighment” Eropa untuk mengkritisi tradisionalisme. Tradisi baru dari individualisme yang Richard tawarkan adalah bahwa individu sebagai agen yang progresif dan beda.

Ketua PKKH UGM, sekaligus guru besar pascasarjana UGM Faruk Tripoli menegaskan, Richard membandingkan dua kritik. Pertama, kritik ‘modern’ ke ‘tradisi’ yang berperan sebagai status quo. Kedua, kritik ‘tradisi’ ke ‘modern’ sebagai sesuatu yang progresif dan memproduksi penindas.

“Tradisi adalah belenggu. Kalau kita tak membedakan, akan jadi sesuatu yang inheren,” ucap Faruk di Pusat Kebudayan Hardja Soemantri (PKKH) UGM, Senin (5/12). “Yang kacau dibutuhkan sistem, tapi bukan pengacau. Setiap kekuasaan menciptakan other-nya,” tambahnya.

Jep peserta diskusi mengatakan, ekonomi membawa peran yang besar dalam corak individualisme bersastra. Saat ini kita ada dalam satu jerat yang sama, yakni kapitalisme. “Sekarang ada kecerendungan memunculkan solusi-solusi lokal. Jangan sok universal,“ katanya.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum     

Komentar

komentar

Baca juga  Dentingan Gitar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of