Kaki-Kaki

Kaki-Kaki

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dalam sehari, berapa jauh kamu jalan kaki? Satu kilometer. Dua kilometer. Ah, paling mentok juga seratus meter. Itupun masih kurang jika aktifitasmu cuma kamar kos, kamar mandi, kampus. Bahkan sebisa mungkin kamu akan memangkasnya kian pendek dengan menunggang kendaraan.

Untuk manusia (sementara) kota seperti kita, sebenarnya kaki tidak banyak berguna. Kita punya rekan yang lebih siap dan tahan lama seperti Trans Jogja, sepeda motor, atau perkakas beroda lainnya. Kaki, sejauh ini, jadi cadangan saja.

Entah sejak kapan aktifitas jalan kaki ini kurang lekat sebagai laku keseharian. Ia lebih familiar sebagai sebuah agenda serius dan terencana yang berlabel keren seperti jalan sehat atau jalan santai. Tentu saja harapannya agar yang ikut jadi sehat dan lebih santai. Yang dalam arti lain, selama ini kamu agak sakit dan grusa-grusu.

Barangkali ini adalah peradaban yang tak pernah terbayangkan oleh kakek moyang kita sebelumnya. Bahwa jalan kaki adalah prestasi khusus yang dilakukan dalam sebuah agenda berpanitia, berjadwal, dan berhadiah. Tentu saja agenda semacam ini terlalu menye-menye untuk sebagian orang. Untuk orang keren macam mereka, ini ada tawaran yang cukup menantang.

Begini. Kemarin, Senin tanggal 5 Desember 2016, beberapa orang Rembang punya agenda jalan-jalan yang cukup besar. Mereka mau jalan ke Semarang. Orang banyak, terutama urban, menyebutnya long marc. Tapi yakinlah bahwa itu cuma salah satu nama lain dari jalan kaki.

Mereka memulainya dari Raudlatut Thalibin, artinya Taman Pelajar Islam, sebuah pesantren yang ada di kota Rembang. Padahal, jarak kampung orang-orang ini lumayan jauh dari garis awal tersebut. Sebab mereka berasal dari Gunem, sebuah kecamatan di pojok tenggara Rembang. Jaraknya ke kota Rembang sekitar sejam perjalanan dengan kendaraan.

Baca juga  Abul-A’la Al-Maududi: Meluruskan Konsep Jihad

Di sana mereka berdoa sekaligus meminta restu untuk kelancaran jalan kaki dari pengampu pesantren, Gus Mus. Pesantren itu berada 200-an meter sebelah selatan jalan Pantura. Jalan inilah yang nantinya dititi oleh rombongan menuju Semarang.

Kalau kamu mau menelusuri, ini adalah agenda keren yang kesekian dari mereka. Pernah mereka bikin tenda perlawanan. Yakni semacam kemah pramuka dengan durasi empat semester.  Lalu pada bulan April lalu, sembilan ibu-ibu menyemen kakinya di depan Istana Negara. Dan yang paling baru adalah agenda ini. Dan masih berhubungan dengan kaki.

Kalau menilik kondisi alam di Gunem, terutama daerah sekitar kampung Tegal Dowo, kaki punya peranan penting. Sebab di sana adalah wilayah pegunungan Kars yang sebagiannya digunakan untuk pertanian dan hutan jati. Jalan kaki adalah agenda keseharian bagi orang sekitar ketika meladang atau ke hutan.

Agenda kaki-kaki ini telah berlangsung turun temurun, mungkin sudah ratusan tahun. Hingga suatu hari, dengan terpaksa kaki-kaki ini mesti dialih fungsikan. Apa boleh bikin, ladang yang biasa dijamah kaki-kaki ini ditanami pabrik semen. Tanpa kesepakatan dengan pemilik kaki setempat, pabrik bernama PT Semen Indonesia itu berdiri begitu saja.

Jalan kaki yang sudah dimulai dari kemarin itu sekarang mungkin sudah sampai Juwana. Karena melalui jalan Pantura, kiranya rombongan tersebut tidak bisa ngebut. Tahu sendiri, di Pantura saingannya truk gandengan dan angkutan barang. Angin laut juga bertiup cukup kencang. Belum lagi sekarang musim hujan.

Andai kamu memang tertarik gabung, mestinya masih ada kesempatan. Meski cuma setengah jalan, cukuplah untuk meregangkan otot dan persendian. Karena setidaknya kamu bisa menghabiskan 100-an kilometer hingga Semarang.

Sayangnya, saya baru sadar. Ini kan bukan akhir pekan. Mana ada kaki urban yang mau jalan-jalan.

Baca juga  Hentikan Liberalisasi Pertanian, Wujudkan Kedaulatan Pangan!

Jamaludin A.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of