Ta_man Pen_elit_i_an

Ta_man Pen_elit_i_an

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sekolah sebagai taman adalah salah satu hal yang diimpikan oleh Ki Hajar Dewantara. Taman di sini saya artikan sebagai tempat bermain di mana ilmu pengetahuan yang dingin (seperti sains) diajarkan semenyenangkan Budi bermain prosotan. Seasyik Ani bermain bandulan. Sebuah pendidikan yang tak sekedar ngopyok untu di dalam kelas, tetapi juga kebebasan bepikir, berimajinasi, dan berekspresi.

Tak kurang di Indonesia telah berdiri 3000-an Perguruan Tinggi, negeri dan swasta. Namun di antara banyak Perguruan Tinggi itu sangat sedikit yang berperan sebagai “taman-taman baru untuk mahasiswa”. Model pendidikan yang sembrono mempengaruhi produksi reproduksi pengetahuan suatu kampus, khususnya penelitian. Produksi penelitian hanya bergantung pada dosen, jika dosen tak memberi tugas (misalnya) riset, kegiatan meneliti sedikit sekali kemungkinannya dilakukan. Penelitian dalam isitilah Hegel belum menjadi geist (gairah) dan naluri yang harusnya menjadi tanggung jawab pribadi siapa saja yang menyebut dirinya sebagai kaum intelektual. Riset di sini saya artikan dalam termin yang lebih luas, baik riset sains mau pun sosial.

Hal ini berdampak juga pada produksi riset yang dihasilkan oleh peneliti-peneliti Indonesia. Di Perguruan Tinggi Indonesia riset belum menunjukkan eksistensinya yang berarti. Kinerjanya lambat. Yang telah mentradisi, penelitian dilakukan hanya untuk sekedar mengisi daftar nilai atau kalau dosen sekedar untuk persyaratan kenaikan pangkat. Andai dari sekitar 3000 Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini membuat publikasi per universitas 50 penelitian saja dari banyaknya civitas academica yang dimiliki, akan terkumpul 150.000 publikasi—tertinggi se-ASEAN.

Di samping itu, dana penelitian kita kurang 1% dari APBN, di LITBANG masih berkecimpung di < 0,1 % GDP. Dana pun berakibat pada output-nya yang rendah. Di negara-negara maju seperti Inggris dan Jepang, mereka membangun negaranya lewat perekonomian berdasarkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Yang dikembangkan dan diteliti secara terus menerus. Kita perlu pemetaan yang jelas penelitian kita akan diarahkan dan dikembangkan kemana? Apa target jangka pendek dan jangka panjang yang ingin dicapai? Sehingga Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian tahu apa yang akan diteliti. Juga pemerintah akan lebih mudah dalam memberikan kebijakannya.

Baca juga  Mobil Merah di Pojok Kuburan*

Masalah akut lainnya di Indonesia, sedikit atau bahkan tidak ada tindak lanjut setelah penelitian itu usai dilakukan. Hal ini tentu berbahaya karena akan terjadi pemangkrakan. Coba kita tengok saja nasib berjuta-juta skripsi, berapa yang mangkrak? Tindak lanjut ini berkaitan dengan aplikasi apa yang bisa digunakan dan ditawarkan untuk masyarakat? Untuk negara? Tidak jauh-jauh, setidaknya peneliti tahu apa manfaatnya untuk dirinya sendiri? Hal ini juga untuk menekan pemborosan yang terjadi selama proses penelitian dilakukan. Karena kita tahu sendiri biaya penelitan itu tidak sedikit dan kita perlu alokasi yang benar dan menekan hal-hal yang tak perlu. Fokus yang jelas akan mempersempit ketidakefektifitas tersebut. Dan sebaliknya, semakin penelitan tidak fokus, pemborosan pun akan terjadi. Kesia-siakan mengejar.

Dari desa

Saya teringat dengan salah seorang teman saya yang berasal dari Cilacap, Jawa Barat. Teman saya ini mempunyai mimpi ingin membangun sebuah sanggar di desanya. Dalam pikiran saya, sanggar berarti juga taman. Sanggar itu teman saya rintis sejak dari sekarang. Dia bukan orang berada, tetapi dia seorang pekerja keras. Pekerjaannya menjual es jamu dengan gerobak di halaman kampus, mencari rongsokan, kadang juga jadi loper koran pagi mau pun koran siang.

Di desanya, teman saya diwarisi tanah oleh orang tuanya di pinggir jalan. Tempat itulah yang nantinya akan dibuatnya sanggar. Ia ingin menjadikan tempat itu sebagai kamp konsentrasi. Sebagai pusat belajar ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dari ekonomi, politik, filsafat, seni, musik, teater, jurnalis, keterampilan, dan lain-lain. Ia sendiri sudah memeta-metakan siapa yang akan mengajar di sanggarnya. Ajaibnya, yang mengajar ia ambil dari koneksi-koneksinya sendiri di Cilacap maupun teman-temanya di Yogyakarta.

Baca juga  Pendidikan di Kampung Code Kurang Perhatian

Sayangnya, teman saya belum menemukan teman yang ahli dalam informatika. Yang kelak bisa mengajari penghuni sanggarnya belajar IT, mengelola blog, dan lain-lain. Di masalah inilah saya sadar, sedikit peneliti IT yang mendekati desa. Kebanyakan dari mereka lebih tertarik bekerja sebagai programmer  di perusahaan bonafide di kota-kota besar, bahkan sampai luar negeri—untuk mengembangkan atau software tertentu misalnya. Ini baru IT, belum ke bidang yang lain. Desa seperti menjadi bagian yang subaltern, terasing dan jauh. Peneliti Indonesia pun saya pikir demikian seperti pemikiran para programmer-programer IT tersebut. Padahal, di lingkup desa sendiri memiliki keanekaragamanan dan kekayaan yang besar. Desa kiranya perlu diolah oleh para mahasiswa, peneliti, dan siapa saja yang lahir di ‘desanya’ sana.

Dari cerita teman saya itulah sebabnya saya menginginkan sekolah berbentuk taman penelitian. Seperti sanggar impian teman saya. Sekolah tak boleh memposisikan diri sebagai simbol hegemoni yang memaksa orang di dalamnya untuk begini dan begitu. Di mana para gurunya adalah tenaga-tenaga akademik yang bisa membawa angin segar bagi para murid-muridnya. Yang bisa membangun atmosfer akademik dalam sekolah atau kampus. Dan murid-muridnya datang tak hanya sekedar untuk absen. Kita menciptakan yang baru atau kita memanfaatkan yang sudah ada dengan improvisasi-improvisasi yang lebih menarik. Sebab pada akhirnya, pendidikan seperti halnya kenangan. Terkait apa yang kita ingat saat yang lain terlupakan.[]

Isma Swastiningrum
(anggap saja saintis muda)

Sumber foto: www.gedepangrango.org

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of