Home - Bahasa Sains

Bahasa Sains

by lpm_arena

Seberapa primitif atau rusaknya suatu negara, ia akan tetap mempunyai bahasa. Lewat bahasa orang menyampaikan pesan, merangkai mitos, dan membangun komunikasi satu dengan yang lian. Bahasa memiliki tenaga yang menggerakkan, karena dalam bahasalah orang menyimpan semua rahasia, pengalaman, dan ingatan. Dari bahasalah sejarah apapun dimulai. Sampai Gadamer ahli hermeneutik Jerman mengatakan bahwa tak suatu pun ada, kecuali melalui bahasa.

Saking sakralnya bahasa, di negara Indonesia sendiri yang memiliki ratusan bahasa daerah sampai disumpah dan disatukan dalam poin ketiga Sumpah Pemuda, yakni “Berbahasa Satu Bahasa Indonesia”. Juga, setiap tahun jumlah lema yang ada dalam Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sebagai ganti dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terus mengalami penambahan. Dalam tiga dekade terakhir (1998-2008), ada sekitar 27.900 kata yang ditambahkan, dari 62.100 menjadi 90.000 lema. Berarti bisa dirata-rata, setiap tahun kosakata Bahasa Indonesia hanya bertambah 930 kata! Jumlah ini sangat kecil mengingat negara Indonesia yang menurut lembaga bahasa dunia Ethnologue, Indonesia yang memiliki 707 bahasa daerah ini  sangat belum banyak dieksplor. Apalagi dari ratusan bahasa lokal tersebut menurut data dari Badan Bahasa Kemendiknas, 139 terancam punah, dan 15 sudah punah.

Belum lagi di era globalisasi, teknologi menjadi kata kunci penting dalam perkembangan Bahasa Indonesia. Banyak istilah dan bahasa asing yang masuk, tergantung berasal darimana komoditas teknologi itu berasal. Salah satu bukti komoditas yang banjir dan menjadi endemik tersebut adalah gawai. Tak khayal, nama-nama negara seperti China, Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan negara pengekspor yang lain mulai tak asing kita temukan.

Perkembangan teknologi tak bisa dilepaskan dari perkembangan sains, karena sains hari ini adalah teknologi esok hari. Perlu disadari sebenarnya sains turut berandil besar dalam produksi reproduksi Bahasa Indonesia. Mari kita ingat semasa kita sekolah dari SD hingga SMA, pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) selalu menghadiahi kita kata-kata baru, baik itu dalam matematika, fisika, kimia, dan biologi. Diksi-diksi itu seperti geometri, transistor, oksidasi, heliks, esterogen, dan sekawanannya.

Hanya sedikit penulis Indonesia yang berani mengeksplorasi kata-kata beraroma sains. Beberapa mungkin ada, dalam ranah sastra misalnya banyak kita temukan dalam buku-buku fiksi ilmiah. Atau kita juga bisa mencari referensi fiksi ilmiah lain, seperti karya Djokolelono (Jatuh ke Matahari), Eliza V. Handayani (Area X: Hymne Angkasa Raya), Santopay (Anomali), Donny Anggoro (Seribu Tahun Cahaya), dan beberapa lainnya. Sedikit penulis Indonesia yang menggarap ini, bahkan menurut penulis Bali Nyoman Tusthi Eddy, Indonesia belum memiliki fiksi ilmiah yang mumpuni. Senada dengan Sandya Maulana bahwa fiksi ilmiah Indonesia baru berada di tahap-tahap awal.

Tak hanya di fiksi, dalam buku non-fiksi sebenarnya menjadi gudang diksi sains. Paling sederhana, coba saja tengok kamus kamus khusus kimia, kamus khusus biologi, kamus khusus kedokteran, kamus botani, sampai kamus khusus bahasa pemrograman komputer. Kita akan menemukan ribuan bahkan menurut judul kamus dengan judul menjual, ada milyaran lema, kata baru. Yang di situ orang belum banyak menjelajahi, penulis ogah-ogahan mengeksplorasi.

Diksi sains jika diibaratkan seperti lahan asing yang tak laku digunakan dalam tulisan-tulisan populer. Ia seperti anak kerempeng yang ketika ditaruh dalam sebuah ruang buku orang akan malas meliriknya. Lalu dengan nafas tersengal-sengal ia hanya menjadi konsumsi manusia semi alien di laboratorium-laboratorium (dan memang demikian takdirnya). []

Isma Swastiningrum, kolektor diksi.

Ilustrasi: mediaindonesia.com