Peluncuran Buku Meraba Film dari Dalam

Lpmarena.com, Program Studi Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Atma Jaya Yogyakarta meluncurkan buku Meraba Film dari Dalam. Peluncuran dan diskusi buku berlangsung  di Bjong Ngopi, Sabtu (10/12). Hadir sebagai narasumber Filosofa Gita Sukmono, Mahasiswa Program Doktor Imlu Komunikasi Universitas Padjajaran, Raditya Kusumo, koordinator editor buku, dan dimoderatori Fajar Junaidi, dosen pengampu mata kuliah Film dan Sinema.

Filosofa mengapresiasi sekali seorang mahasiswa sudah bisa menyumbangkan isu-isu ilmu pengatahuan tentang perfilman yang memang masih sedikit dan sulit ditemukan. “Buku ini sudah cukup bagus karena telah memberikan pengertian bahwa film adalah arsip gambaran tentang tatanan sosial dan budaya, dan juga mengajak kita berfikir bagaimana minoritas, seksualitas, religi, nasionalisme bahkan bagaimana meraba penonton.”

Filosofa menjelaskan salah satu poin dalam buku ini melihat perbedaan dunia perfilman antara sebelum dan sesudah ‘98. Pada masa sebelum ’98, kritik-kritik sosial dari para seniman tidak dapat di salurkan, karena pada masa itu, wacana-wacana sensitif seperti minoritas, keberagaman, religi, dan budaya sangatlah di tekan dengan ancaman  pembredelan. Salah satu contoh filmnya adalah Kiri Kanan OK. Film ini sempat dibredel karena sebenarnya judul pertamanya adalah Kiri Kanan OK, kata “kiri” pada era itu sangatlah sensitif.

Sedangkan pasca ‘98 semuanya terungkap, kritik-kritik dapat dilontarkan melalui film. Era ini sudah berani untuk mengangkat isu-isu sensitif, semisal religi. Film religi pertama yang sangat monumental adalah  Ayat-ayat Cinta.  Film ini penontonya dapat mengalahkan Laskar Pelangi. Ada juga film yang mengambil konflik minoritas-mayoritas, seperti  Tanda Tanya, yang memperlihatkan brutalnya umat islam terhadap kaum minoritas.

Filsofa mengatakan sekarang film sudah banyak berbicara keberagaman, akan tetapi mempunyai efek negatif. Seperti halnya menceritakan wilayah timur Indonesia, namun masih dengan perspektif jawa. Sehingga yang terlihat adalah keterbelakangan. Hal  ini dipengaruhi karena sutradara yang membuat film tersebut tidak mempunyai perspektif tentang wilayah timur.

Baca juga  “Kiamat Kecil” Ditayangkan di Rumah Budaya Fadli Zon

Maka sangat diperlukan sutradara yang memang mempunyai perspektif tentang wilayah timur tersebut. Dengan begitu hasil dari film tersebut akan benar-benar menjadi arsip gambaran tatanan sosial dan keberagaman yang ada di wilayah timur.”

Magang: Aak Muyassaroh

Redaktur: Lugas Subarkah

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend