Pas saya kecil, ibu saya pernah bercerita pada saya jika orang kaya itu makannya roti, orang biasa nasi, orang miskin gaplek (sejenis singkong yang dikeringkan). Makanya, ibu saya pengen saya jadi orang kaya, agar makannya roti yang ditambah telur sambil dihiasi coklat dan kismis. “Panganane wong sugeh” kata ibu saya. Sejak saat itu saya meyakini keyakinannya. Apalagi setelah bertambah besar, kelas roti dan bukan roti memang benar adanya.
Pesta besar akan roti pun terjadi ketika hari raya, misal saat Idul Fitri. Tiap rumah yang didatangi untuk halal bi halal nyaris selalu menghadirkan roti sebagai kudapan wajib. Roti memiliki prestise tersendiri dalam masyarakat. Meski kadang pula di desa-desa kita sering tertipu, wadahnya Kong Guan, tapi isinya krecek atau krupuk gendar. Atau wadahnya wafer Nissin, isinya marneng. Ini bagian dari local wisdom pedesaan ketika lebaran, sebagai praksis imajiner masyarakat akan roti─sangat menggelikan, tapi kita memakluminya. Ya, apa artinya isi, jika wadahnya saja sudah mentereng? Ah, bukan begitu, wadah memang tak menentukan esensi, tapi wadah mendukung esensi. Wadah hanya berfungsi sebagai guna praktis, semisal darma dari kaleng roti ya bisa untuk wadah apa saja. Tak harus roti toh?
Roti tak hanya berpengaruh pada mood of “mbadog” suatu kelas masyarakat, yang lebih ganas lagi roti mempengaruhi selera kita akan seni keindahan, mood of “beauty”. Ini bermula dari jaman Belanda, kaleng-kaleng roti Belanda selalu ada gambar noni-noni cantik yang bertubuh sintal, memakai topi sambil mengendarai sepeda, dan dia membawa sekeranjang roti dalam sepedahnya itu. Mungkin dari sana imajinasi akan ‘cantik’ terbentuk, lewat sekaleng roti! Selera cantik kita adalah selera cantik kolonial.
Improvisasi akan menu roti pun beraneka. Dari roti basah, roti kering, wafer, pizza, sampai humberger. Peluang bisnis roti pun menjalar di mana-mana, baik nasional maupun internasional. Roti dipabrikisasi dan menjadi komoditas baru yang menyerang kelas menengah ke atas dan sedang merangkak ke kelas masyarakat bawah. Produsen-produsen roti berlomba-lomba agar produknya bisa booming dan menjadi viral untuk kemudian dilegendakan. Begitu pun dengan salah satu produk yang begitu booming di kalangan nitizen hari ini, Sari Roti.
Perkenalan saya dengan Sari Roti sangat sederhana, lewat jargonnya “roti, roti Sari Roti” (harap Anda tidak menyanyi saat membaca empat kata ini. Jika Anda menyanyi, berarti Sari Roti telah memasuiki relung-relung bawah sadar Anda). Diproduksi oleh PT. Nippon Indosari Corpindo, Sari Roti berdiri sejak tahun 1995. Pabriknya pun sudah mencapai 10 unit, seperi di Cikarang, Purwakarta, Semarang, Pasuruan, hingga Medan dan Makassar. Produk Sari Roti dapat ditemukan di mana saja, khususnya di ritel-ritel. Distribusi yang benar menjadi kunci pemasaran mereka.
Masalah bermula saat aksi 212 yang melibatkan jutaan umat Muslim tumpah ruah di Jakarta terkati isu dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Penjual roti keliling (hawker tricycle) Sari Roti memberikan roti gratis untuk para demonstran (“Gratis untuk Mujahid”). Lalu pihak Sari Roti memberikan klarifikasi di webnya, bahwa pemberian roti gratis di lokasi Aksi 212 merupakan kerjaan agen makelar yang ada di Jakarta dan Sari Roti menyatakan tidak ingin bersangkut paut aktifitas politik. Sari Roti menjunjung tinggi nasionalisme dan kesatuan NKRI. Baik memang niatnya, tapi oleh massa aksi yang marah mengartikannya tidak demikian. Massa aksi mengganggap Sari Roti (secara tidak langsung) telah menghina gerakan mereka sebagai huru hara politik. Yang lebih fatal lagi, aksi 212 seolah menjadi aksi yang bertentangan dengan nasionalisme dan keutuhan NKRI.
Alumni 212 pun tak terima dengan hal itu. Akhirnya, mereka melakukan serangan boikot Sari Roti. Labilnya lagi, pihak Sari Roti menghapus klarifikasi yang dibuatnya sendiri dalam lamannya. Tak selang beberapa hari, web resmi sariroti.com diretas oleh hacker yang menamakan diri sebagai “Hackerd By 0x1999. We are Indonesian code party. We Party In Your System.” Bencana ini lalu berdampak pada anjloknya saham Sari Roti di bursa efek. Sari Roti sebagai salah satu emiten yang stabil di pasaran, meraup pendapatan dan laba tahun 2015 sebesar 2,17 triliyun (databoks). Dan kasus boikot serta peretasan ini menjadi pukulan keras bagi pemilik dan para pekerjanya. Rupanya, Sari Roti harus belajar, jika netral adalah suatu pengkhianatan![]
Isma Swastiningrum, pribadi yang tidak begitu gandrung pakanan berbau roti. Hanya soal selera, tidak cocok di lidahnya.
Ilustrasi: food.detik.com