Kopata yang Menghidupi

Lpmarena.com, Menjelang petang, tiga Koperasi Angkutan Kota Yogyakarta (Kopata) terparkir di sisi selatan Terminal Giwangan. Sedangkan dua lainnya sedang berada di lajur pemberangkatan, keduanya sedang menunggu penumpang. Sopir dan kondekturnya sama-sama berteriak lantang, “Wonosari, Wonosari!” Itu menandakan jika kopata tersebut adalah jalur menuju Wonosari. Segerombolan penumpang dengan barang bawaan yang lumayan banyak menghampiri kopatanya.

Setelah Kopata jalur Wonosari itu berangkat, hanya ada satu Kopata yang siap berangkat berada di lajur pemberangkatan. Namun, tanpa sopir maupun kondektur. Tak berselang lama, datang seorang laki-laki dengan tubuh tinggi dan wajah yang kecoklatan. Bapak yang mengaku bernama Murgianto itu adalah sopir Kopata jalur Parangtritis. Ia duduk di tikar plastik yang sejak tadi ujungnya berkibar-kibar diterpa angin

Hari-hari Murgianto dipenuhi dengan jadwal narik. Jalan yang dilalui setiap pagi sudah ia hapal betul, pulang-pergi menuju terminal, dan pulang-pergi Giwangan-Parangtritis. Murgianto harus berangkat pagi-pagi supaya bisa mendapat antrean narik lebih dulu. Kesehariannya adalah rumah, terminal, narik, dan tidur. “Kalau ada uang ya jajan,” katanya. Setiap pagi ia berangkat ke terminal, sesampainya di terminal ia mesti antre terlebih dahulu dengan sopir-sopir jalur Jogja-Parangtritis lain yang sudah datang lebih dulu. Para sopir itu tak perlu pakai nomor antrean. Sudah jelas, siapa yang datang lebih dulu, dia narik lebih dulu.

Murgianto mengaku sering bangun kesiangan, sehingga nariknya pun siang. Dia menunjuk ke temanya yang sering bangun pagi dan selalu kebagian antrean pertama. Bapak itu bernama Untoro, Setiap hari mereka biasanya narik dua kali. Walaupun Murgianto sendiri bilang sering hanya narik satu kali karena sering bangun siang.

Bagi Murgianto dan Untoro, menjadi sopir kopata adalah pilihan satu-satunya, sebab tak ada pekerjaan lain yang bisa digeluti. Mereka bilang mencari pekerjaan lain itu sangat sulit. Sehingga meski sering tombok, pekerjaan itu tetap mereka lakoni tanpa keluhan. Bagi mereka, yang penting dapur bisa mengepul dan ekonomi keluarga berjalan lancar meski masih serba kekurangan. “Ekonomi keluarga ya bergantung ke ini,” ujar Murgianto.

Pendapatan sopir kopata memang menurun drastis jika dibandingkan dengan dulu. Perbandingannya, jika dalam sehari dulu mereka bisa menghadapatkan uang 500 ratus ribu, maka sekarang pendapapatan mereka mentok di angka 70 ribu. Jika penumpang sedang normal mereka bisa mendapatkan 110 ribu hingga 120 ribu dalam sehari.  Jika tak ada penumpang mereka harus nombokin. “Anjlok, seumpamannya nih ya dari atas langsung turunnya,” kata Murgianto sambil menggerakkan tangannya dari atas ke bawah. Berkurangnya penumpang kopata membuat para sopir seringkali tombok.

Baca juga  Merawat Sepeda di Semesta Jogja

Untoro mengungkapkan, berkurangnya penumpang sudah mulai dirasakan sejak lima tahun yang lalu. Sejak itu pendapatan mereka terus menurun dari waktu ke waktu. “sekarang itu susah, semakin hilang penumpange,” kata Murgianto. “Makin sepi,” Untoro menimpali. Menurut Murgianto hal yang paling berpengaruh terhadap berkurangnya penumpang adalah motor dan handphone. Orang yang biasa menggunakan kopata sudah memilih menggunakan kendaraan pribadi  ke mana-mana. Selain itu, handphone juga diakui berpengaruh. Sekarang orang yang mau bepergian atau mudik lebih memilih meminta keluarganya untuk mengantar atau menjemput di terminal daripada naik kopata hingga ke tujuan. “Iya dong. Kalau orang mudik pada minta di jemput,” ungkap Murgianto. “Tunggu ya sudah mau nyampek,” katanya sambil meniru orang sedang menelepon. Selain itu, perkembangan teknologi pun berpengaruh. Orang-orang mulai lebih suka menggunakan jasa angkutan yang bisa dipesan dengan hanya satu klik pada layar smartphone.

Menurut Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Provinsi Yogyakarta, jumlah kendaraan roda dua (sepeda motor) terus meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah sepeda motor di DIY pada Desember 2014 berjumlah 1.244.904 unit untuk sepeda motor berplat hitam. Sedangkan sepeda motor berplat merah berjumlah 8.356 unit. Jumlah itu meningkat di tahun 2015. Berdasarkan sumber data yang sama, jumlah sepeda motor per Desember 2015 mencapai 1.327.046 unit untuk kendaraan berplat hitam. Sedangkan untuk sepeda motor berplat merah mencapai 8.561 unit. Data ini berdasarkan jumlah kendaraan bermotor yang melakukan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan bermotor (BBNKB).

Selain pengaruh yang luar biasa dari kendaraan pribadi dan alat komunikasi, hal lain yang turut mempengaruhi adalah keberadaan bus-bus besar yang kini sudah mulai mengambil alih jalur mereka. ”Lawannya kan bus-bus gede,” kata Untoro.  Para sopir kopata pernah ditawari oleh Dinas Perhubungan untuk menjadi sopir Bus Damri. ”Cuma dulu mau dimasukin ke Damri,” kata Untoro. Namun mereka tidak diperbolehkan oleh pemilik Kopata. Namun, selain alasan itu mereka pun merasa berat jika harus berpindah ke Damri. “Kalau pindah ke Damri nanti mau makan apa ini,” ujar Untoro sambil menunjuk Kopata yang sedang parkir.

Baca juga  Seno: Hancurkan Berhala Kesuksesan

Penurunan penumpang yang berbanding lurus dengan turunnya pendapatan tidak membuat mereka berhenti menjadi sopir kopata. Sebab menjadi sopir sudah menjadi pilihan satu-satunya. Di luar sana mencari kerja itu susah. Daripada menganggur lebih baik jalani saja. Itu yang mereka pegang. Meskipun tak sedikit yang akhirnya memilih pensiun.

Sore itu (7/12), satu kopata parkir di lajur pemberangkatan menuju Parangtritis. Seorang kakek berpakaian cokelat dan bertopi sudah duduk di dalam Bus. Seperti juga sang sopir ia sedang menunggu penumpang lain datang untuk bisa berangkat ke tujuan. Sedang satu kopata jalur Jogja-Bantul-Srandakan-Terisik juga sudah parkir di lajur pemberangkatan, namun masih kosong. Seperti biasa, para sopir dan kondektur yang akan mengemudi maupun yang sedang antre duduk di atas dua helai tikar plastik di antara dua lajur pemberangkatan itu. sesekali sang sopir berdiri lalu mondar mandir mencari penumpang sambil meneriakkan tujuan akhir kopata.

Sekitar sepuluh menit kemudian, kopata tujuan Terisik mulai diisi oleh dua penumpang, seorang ibu dan seorang bapak, dan tak lama kemudian seorang ibu datang dengan membawa barang bawaan yang banyak. Seketika itu pula kopata berangkat hanya dengan penumpang tiga orang. Nasib kakek yang menunggu keberangkatan bus jalur Parangtritis itu sedang tak baik, hingga dua puluh menit berlalu, penumpang lain belum juga muncul sehingga kopata belum berangkat. Beberapa menit kemudian satu kopata maju dan parkir di depan jalur Parangtritis. Kakek itu diminta pindah ke kopata depan dan langsung berangkat dengan satu penumpang lain.

Di pintu Terminal Giwangan, penumpang bertambah dua, seorang bapak yang berperawakan kecil dan seorang perempuan muda. Kopata melaju dengan empat penumpang di antara deretan kursi-kursi kosong.  Memasuki jalan ring road penumpang hanya bertambah satu, sorang nenek penjual makanan yang hendak pulang. Sampai di jalan Parangtritis penumpang berkurang satu persatu dan tidak lagi bertambah.

Reporter: Nurul Ilmi

Redaktur: Lugas Subarkah

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of