Gadis Kecil Menunggu Telolet

Oleh: Risen Dhawuh Abdullah*

Aku pun juga tidak tahu menahu penyebab timbulnya kehebohan yang lumayan dahsyat ini. Siapa yang memulainya? Dari daerah mana asalnya? Aku benar tidak tahu. Bagiku fenomena konyol ini tidak hanya menghebohkan, tapi juga menakjubkan. Dunia pun gempar. Para orang-orang luar negeri penasaran. Tidak tanggung-tanggung, tidak sembarang orang yang penasaran dengan fenomena. Sejumlah artis papan atas dunia, penasaran. Dan membuat di media sosialnya, bertanya, apa itu “Om telolet om” dengan bahasa sana.

Para pemain sepak bola seperti Ronaldo tidak ketinggalan ikut menghebohkan fenomena ini. Di akun fesbuknya, ia menuliskan “Om telolet om” pada sebuah gambar yang di-upload-nya. Entah ia tahu atau tidak maksudnya “Om telolet om” penulis juga tidak tahu.

Konyol jika direnungkan. Hanya gara-gara anak kecil di pinggir jalan menyerukan kepada bus besar yang lewat agar membunyikan klaksonnya—mungkin bunyi klakson itu unik, atau apa tepatnya, penulis tidak tahu, atau anak kecil hanya menggoda sang sopir. Aku yakin pada awalnya bukan menggunakan panggilan “Om” untuk memanggil sang sopir. Tapi “Mas” atau “Pak”—yang penting bukan “Om”. Hanya mungkin ada orang yang menyelewengkan menjadi “Om”.

Suasana di jalan sangat ramai sekali dengan gerombolan anak-anak kecil yang membawa potongan kardus, triplek, kain, serta kertas-kertas, yang bertuliskan “Om telolet om”. Begitu ada bus lewat, mereka mengangkat properti masing-masing yang mereka tulis dengan huruf tidak rapi. Saat bus membunyikan klakson mereka tertawa keras. Tapi saat bus bersikap sombong mereka meneriaki dengan “Huuuuu”.

Aku pun termasuk salah satu dari mereka yang ikut memeriahkan kekonyolan ini.

Aku menepi saat awan enyah dari hadapan matahari. Begitu panasnya matahari membakar, hingga membuat aspal pecah-pecah, lalu timbul lubang di sana-sini. Aku menyeruput es teh yang baru saja kubeli dari pedagang keliling.

Baca juga  Pemberontakan Kaum Budak di Negeri Budak

Tenggorokanku berdenyut-denyut. Haus sungguh menyiksa. Temanku bernama, Malena—ia perempuan, umurannya seumuranku, tiga belas tahun, dengan rambut tidak pernah rapi—kuhampiri. Ia adalah pengamen. Senasib denganku yang menjadi sampah masyarakat.

“Kamu tidak ikut lagi?” tanyanya dengan polos. Ia duduk di sampingku. Matanya yang bulat menatapku dengan tatapan penuh.

“Sudah capek aku.”

“Sama.”

“Mau minum?” aku menyodorkan es tehku. Tanpa berkata dan mengangguk, Malena langsung menyerobot es tehku. Lehernya yang polos berdenyut-denyut. Setelah puas, ia mengembalikan lagi padaku.

Sebuah bus lewat. Ia berhenti di depan gerombolan anak-anak kecil. Sopir tampaknya tahu mereka menanti kedatangan sebuah bus. Lalu terdengar suara klakson bus berkali-kali. “Telolet… Telolet… Telolet.” Para anak-anak kecil tertawa.

Aku pun ikut tertawa.

***

Matahari menyapaku di tengah-tengah kota yang manusianya mulai bangun dari tidurnya. Bunyi deru kendaraan terdengar dari jalan. Samar-samar tercium bau pesing. Apa lagi saat aku sadar sepenuhnya. Bau pesing itu amat terasa di hidungku. Aku terkejut. Ternyata, temanku, Salem ngompol. Dengan ketakutan, aku segera beranjak dan meninggalkan gubuk kardus. Aku tidak peduli dengan teman-temanku yang lain, yang terpaksa harus merasakan dahsyatnya bau pesing yang bersumber dari Salem.

Beruntung aku tidak tidur berjejer dengan Salem. Jadi bajuku aman-aman saja tidak terkena ompolan Salem. Hanya saja baunya apek. Tapi tak apa. Itu sudah menjadi ciri khasku. Aku mendekati Malena yang terduduk di pinggir trotoar. Aku tahu, ia pasti menunggu bus.

“Menunggu telolet?”

“Iya, dari tadi aku menunggu, tapi mana? Bus tidak juga ada.”

“Mungkin belum bangun,” kataku asal-asalan.

“Ehh, coba kamu lihat Mbak-mbak berbaju merah di seberang. Kayaknya nikmat sekali, pagi-pagi seperti ini dipeluk.”

Baca juga  Puisi-Puisi Risen Dhawuh Abdullah: Kesalahan Manusia

“Nikmat?”

“Iya. Andai Mbak-mbak berbaju merah itu akk….”

“Cukup!” kataku memotong.

Walaupun baru berumur tiga belas tahun, Malena sudah tahu yang namanya laki-laki-perempuan. Lebih matang dari anak seusianya.

“Kamu masih mau menunggu?”

“Mbak-mbak itu?”

“Bukanlah. Kamu tidak nyambung!”

“Nah?”

“Buslah. Masa Mbak-mbak. Untuk apa ditunggu?”

“Kali saja ia dermawan, memberi uang kepada kita.”

“Tidak mungkinlah kalau kamu hanya diam saja. Kecuali kalau kamu meminta padanya. Mungkin akan diberi. Itu pun rasanya sulit.”

“Oh, iya-ya. Betapa gobloknya aku.”

“Dari dulu kamu memang goblok.”

“Hahahah, dasar!”

Aku pun terus menemani Malena menunggu bus yang lewat. Untuk menghilangkan bosan, kami pun bercanda. Beberapa kali terlihat Malena memukul-mukul pundakku karena kesal. Beberapa saat kemudian kami pun diam kecapekan. Malena menoleh ke kanan. Tidak juga ada bus yang melaju. Aku bisa menangkap matanya tampak sedang kawatir.

“Sana kamu pulang saja, barangkali Ibumu sudah masak.”

“Aku tidak mau.”

Malena tidak pernah tahu, akupun juga, bahwa di perempatan sana ada pengalihan jalur yang membuat bus tidak melintas di jalan ini. Kami duduk. Menunggu. Menunggu kehampaan entah sampai kapan.

Bantul, 24 Desember 2016

 

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Sedang menimba ilmu di SMA N 2 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pelajar yang suka membaca dan menulis cerpen. Alumni bengkel bahasa dan sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Salah satu murid penyair Jogja, Evi Idawati. Karyanya pernah tergabung dalam antologi cerpen “Ssst Argentavis” berjudul “Hilangnya Senja” yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Alamat sekolah, Glondong, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend