Paradigma Mahasiswa Terhadap Realitas Sosial

Oleh: Ibnu Arsib Ritonga*

Apa itu arti dari mahasiswa? Banyak orang mengatakan bahwa mahasiswa adalah status yang dimiliki orang yang sedang menjalani suatu pembelajaran dalam jenjang lembaga pendidikan yang lebih tinggi yang mengkaji teori di bidang kekhususan. Dalam hal ini kita akan membahas tentang mahasiswa yang kaitannya dengan paradigma. Sedangkan paradigma sendiri dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir dan bertindak.

Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin keintelektualan. Mahasiswa dipandang sebagai individu yang mempunyai energi dan kekuatan tersendiri yang membuat dia sangat berpotensi dan mempuyai pengaruh penting dalam kehidupan masyarakat. Yang terpenting, arti mahasiswa disini adalah mereka yang berdinamika dalam kehidupan dengan masyarakat yang juga ikut mewarnai corak kehidupan di dalamnya, karena ia berasal dari masyarakat dan kembali ke masyarakat.

Kaitannya dengan paradigma, mahasiswa dituntut memiliki sebuah kerangka berfikir sehingga mampu melihat realitas sosial yang ada secara keseluruhan, melalui kerja-kerja yang mengarah kepada perubahan untuk menciptakan suatu tatanan yang adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, demokrasi secara politik, dan partisipatif secara budaya.

Fase pasca kemerdekaan sampai pergeseran fase keindonesiaan dari orde lama ke orde baru. Mahasiswa dianggap sebagai agent of change di tatanan masyarakat, karena dengan kekuatan mahasiswa yang memiliki perspektif yang sama, guna mengubah pola suatu sistem di masa orde baru, mahasiswa mampu untuk berperan meraih reformasi di dalam negara Indonesia ini.

Tujuan ketika seseorang menjadi mahasiswa dan menerapkan tridharma perguruan tinggi, yaitu: pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, adalah mahasiswa mampu menempuh pendidikan dan juga mengabdi dengan seimbang. Dengan kata lain, mahasiswa tersebut dapat menganalisa baik dalam kehidupan sosial dan lain sebagainya. Sehingga , ketika mahasiswa tersebut selesai dari suatu perguruan tinggi, ia mampu menerapkan teori-teori yang telah didapat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat secara penuh, bukan sekedar mencari provide oriented semata.

Namun, jika kita amati, telah terjadi perubahan atau pergeseran paradigma mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dulu (di era orde baru). Mahasiswa sekarang dengan bangganya mengatakan bahwa dirinya berperan sebagai agent of change dan agent of control social, tetapi tidak mampu berbuat atas segala bentuk ketimpangan dan ketertindasan yang dialami rakyat. Karena, sebagian besar lebih memilih berjuang demi kepentingan diri dan golongannya.

Baca juga  Olah Rasa dan Upaya Menertawakan Kenormalan

Mayoritas mahasiswa seolah beranggapan, seakan-akan ketimpangan yang terjadi itu hanya menjadi urusan segelintir orang atau elit pemerintahan. Dan merasa tugas dan kewajibannya hanya masuk ruang kuliah, duduk, mendengarkan dengan baik dan mencatat dengan rapi apa yang disampaikan oleh dosen. Setelah itu pulang ke rumah/kos ,nongkrong, tidur, kemudian ke kampus lagi. Siklus itu berulang, sama setiap harinya.

Padahal di lingkungan kampusnya ada banyak persoalan dihadapi dan merugikan mereka yang tidak pernah di jawab oleh mahasiswa. Semisal biaya pendidikan yang mahal dan tidak terjangkau oleh kalangan bawah, sementara hak kita untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu, fasilitas yang memadai dan menunjang proses belajar mengajar, birokrasi kampus yang korup, pengambilan keputusan dan masih banyak lagi.

Sungguh naas nasib kita (mahasiswa) membiarkan diri dijajah dalam bentuk-bentuk baru dan halus. Sungguh konyolnya kita yang membiarkan hak-hak kita ditindas oleh orang lain.

Peran Penting Mahasiswa dalam Kehidupan

Mahasiswa adalah suatu kelompok pemuda yang diuntungkan oleh kondisi, dimana mereka dapat menikmati pendidikan tinggi dengan segala nilai-nilai akademis yang ada dalam pendidikan tersebut.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa sampai saat ini status mahasiswa masih menjadi status yang “mewah” dimata masyarakat (Indonesia), karena hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang dari kelas menengah keatas. Dan sangat sulit bagi masyarakat kelas bawah untuk bisa menikmati bangku perkuliahan.

Ketika ditanya “kenapa itu terjadi”? pasti jawaban klasik inilah yang muncul : “Biaya kuliah sangat mahal, sedangkan untuk makan saja kami pas-pasan”. Kebebasan akademis dikampus telah memberikan ruang kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan pola pikir melalui berbagai macam sarana, buku-buku, teori-teori yang diperoleh dari ruang perkuliahan, serta akses informasi seperti internet.

Pola pikir yang terbentuk menjadikan mahasiswa mampu merasakan, melihat, mengamati dan membedah setiap perkembangan realita yang terjadi di sekelilingnya.

Di negara yang kondisi masyarakatnya masih terbelakang secara ekonomi, politik, dan terbelakang dalam pendidikan seperti Indonesia, maka kelas mahasiswa dilihat sebagai kelas yang “Wah” oleh sebagian besar rakyat Indonesia. “Wah” dalam artian ekonomi karena cuma orang yang berduit banyak yang bisa kuliah.

Meminjam istilah Paulo Freire bahwa mahasiswa sudah mencapai kesadaran kritis. Sebagaimana kita ketahui bahwa Paulo Freire membagi tahapan kesadaran menjadi tiga yaitu : kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naïf (naival consciousness), dan kesadaran kritis (critical consciousness).

Dapat diuraikan bahwa kesadaran magis ialah saat rakyat tidak mampu melihat kaitan satu faktor dengan faktor lainnya. Dan mereka hanya melihat faktor diluar manusia (natural maupun supranatural). Dalam melihat kemiskinan maka kecenderungan mereka akan mengatakan bahwa ini adalah takdir atau sudah diatur oleh yang mengecat tembok. Maka cara mengatasi ini hanyalah pasrah dan berdo’a saja.

Baca juga  Kampus dan Matinya Kebebasan

Kesadaran naif lebih melihat aspek manusia sendiri yang jadi akar permasalahan, maka dalam melihat kemiskinan itu disebabkan oleh manusia itu sendiri seperti malas bekerja, bodoh, tidak mempunyai kemampuan (skill). Oleh karena itu untuk mengatasinya adalah enggan “Man Power Development”.

Sedangkan kesadaran kritis adalah melihat sistem dan struktur yang ada disekitar kita sebagai sumber masalah. Pendekatan ini menghindari “Blaming the victims”. Maka yang dilakukan mahasiswa sebagai kelas yang mencapai tahapan kesadaran kritis adalah melakukan kerja-kerja penyadaran (concretization) kepada semua orang terutama rakyat Indonesia yang saat ini masih berkubang pada tahap kesadaran magis dan naïf.

Membumi dengan rakyat adalah mutlak dilakukan mahasiswa dengan suka rela. Kondisi objektif saat ini di Indonesia masih membutuhkan banyak intelektual organic (meminjam istilah A. Gramsci) yang berani melakukan bunuh diri kelas demi penguatan rakyat. Hal ini mungkin terasa bodoh dan lucu sekali ( saya yakin ini ada pada perasaan mahasiswa saat ini).

Kondisi objektif saat ini, bangsa Indonesia berada dalam sosial yang penuh dengan ketidak-pastian dan segala kemungkinan yang unpredictable. Maka pemahaman akan kondisi sosial-politik bangsa Indonesia pada hari ini adalah mutlak diperlukan berbagai pihak, khususnya kaum intelektual, dalam hal ini tentunya mahasiswa.

Dengan posisi mahasiswa dalam perannya di masyarakat seperti terkemuka di atas, dikenal dua pokok yang selalu tampil mewarnai sejarah aktivitas selama ini. Pertama ialah sebagai kekuatan koreksi (kontrol) terhadap penyimpangan yang terjadi di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, kedua yaitu sebagai penerus kesadaran masyarakat luas akan problema yang ada dan menstransformasikan kesadaran itu untuk menerima alternatif perubahan yang dikemukakan atau didukung oleh mahasiswa itu sendiri.

Sehingga masyarakat berubah kearah kemajuan yang progesif. Hal itu berangkat dari kesadaran paradigma (pandangan dan tindakan) bagaimana melihat situasi dan kondisi realitas sosial masyarakat Indonesia saat ini serta di masa yang akan datang.[]

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum UISU Medan

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend