Prolog dan Epilog Tentang Kematian
- Kematian yang kita kutuk itu.
Begitu dingin datang mengendap-endap
Menyerbu tanpa ragu dengan taring yang tajam
Berkilat, menatap aku lekat dan mendekat.
- Kematian yang kita kutuk itu
Telah resah menunggu restu Tuhan
Untuk menebas nyawa dari tubuhmu
Tanpa daya, kecuali tujuan: surga atau neraka.
- Kematian yang kita kutuk itu
Membawa aroma yang sebelumnya tak
Pernah kau hirup, sekalipun dalam mimpi
Indah saat dirimu bersama kekasihmu.
- Kematian yang kita kutuk itu
Terlalu cemburu pada cinta dan kehidupan kita
Yang mengalirkan hening, tampak mempesona
Kematian hanya bisa terpana: memenggal nyawa.
2017
Upacara Bendera di Neraka
Kita susun bagai batu-batu bara, bagian bab-bab yang hilang
usah lagi kenang, lemparkan saja ke lorong-lorong gang
pengap, tempat derita beranak pinak dan sengasara
berkembang biak:
Neraka.
Selamat datang, kaum-kaum nista mari berpesta
kenakan perhiasaan nestapa, yang kau pungut dari
dunia; dunia hina, dunia fana, dunia hampa, dunia luka
Kita khidmat dalam pengibaran bendera berlambang
Dosa.
2016
Muhammad Husein Heikal, penulis kelahiran Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Berbagai karyanya termuat The Jakarta Post, Horison, Analisa, Waspada, Mimbar Umum, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Lampung Post, Riau Pos, Haluan, Sumut Pos, Suara Karya, Rakyat Sultra, dll. Serta termuat dalam buku Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Riau Pos 2015), Perayaan Cinta (Puisi Inggris-Indonesia 2016), Perempuan yang Dipinang Malam (Negeri Kertas 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara 2016), Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016), 1550 MDPL (Pesta Puisi Kopi Dunia 2016) dan Cinta yang Terus Mengalir (Ta’aruf Penyair Muda Indonesia 2016).
Ilustrasi: gugahjanari.blogspot.co.id