Mewujudkan Generasi Muda Yang Berkualitas

Mewujudkan Generasi Muda Yang Berkualitas

Oleh : Arsib Ritonga*

Pemuda adalah tumpuan masa depan umat/bangsa yang kaya akan ide, imajinasi, kritik, saran yang membangun serta mempunyai peran di dalam peristiwa kehidupan, perubahan, dan dinamika sejarah dunia secara umum, serta Indonesia secara khusus. Berdasarkan hal tersebut, pemuda sering disebut sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial (agent of change and agent control social). Tidak bisa dipungkiri, banyak peran yang sudah dilakukan oleh pemuda. Di setiap tranformasi sosial dan pembangunan bangsa-negara Indonesia. Sejak pra-kemerdekaan (jaman penjajahan) hingga saat ini.

Kaum pemuda yang dimaksud adalah individu atau kelompok yang mempunyai kualitas yang baik. Kualitas tersebut terlihat atau tercermin dari akhlakul karimah yang baik, kualitas diri yang baik (kualitas intelektual), kualitas pendidikan (bukan formalitas tamatan) dan kualitas nilai-nilai keyakinan yang sesuai dengan fitrah manusia yang ia miliki. Karena sebagai ciptaan Tuhan yang diberi kelebihan dan kelemahan, kiranya kita terus meningkatkan kualitas-kualitas tersebut, khususnya nilai keimanan pada sang Maha Pencipta alam semesta, Allah SWT.

Dalam hal persiapan untuk mencapai kualitas-kualitas dirinya, pemuda harus mempunyai kesadaran akan betapa pentingnya peranan yang ia miliki di masa mendatang. Dalam literatur sejarah membuktikan, untuk meningkatkan kualitas pemuda, haruslah terlebih dahulu mendapatkan proses atau pun suatu pendidikan. Proses yang dimaksud di sini adalah suatu latihan pencapaian kualitas diri untuk persiapan yang akan datang. Pemuda yang berkualitas atau pemuda yang luar biasa tidak lahir dari proses yang biasa, pemuda yang berkualitas bisa dipastikan lahir dari proses yang luar biasa kualitasnya.

Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas dan mempunyai kemampuan dan juga idealisme, yang disebut Tan Malaka adalah satu-satunya kemewahan pemuda, harus terus bersinar dalam dirinya dan tercermin dari pikiran dan perbuatan. Hal itu seharusnya dapat dipegang teguh. Dan tidak sepantasnya tergadaikan untuk kepentingan pribadi dan juga kelompok. Pemuda harus mampu menjadi pemimpin di masa mendatang demi menjaga keseimbangan perkembangan zaman yang semakin kompleks atau ke arah zaman modern.

Menjadi pemimpin adalah salah satu tanggungjawab pemuda, siapa lagi yang akan menggantikan pemimpin yang akan datang kalau bukan pemuda saat ini? Siapa lagi yang akan membangun bangsa dan negara ini di masa mendatang kalau bukan pemuda-pemuda saat ini, baik laki-laki maupun prempuan? Oleh karena itu, pemuda harus dilatih atau melatih dirinya sendiri menjadi pemimpin atau pembangun bangsa dan negara Indonesia kedepannya. Harapannya adalah terlahirnya pemimpin yang berkualitas, yang dapat menjawab tantangan jaman, pemimpin yang lahir dari proses luar biasa dan bukan pemimpin yang lahir secara instan.

Baca juga  SLiLit ARENA Edisi November 2013 Siap "Disantap"

Menjadi Pemimpin yang Berkualitas

Selektifitas masyarakat untuk mencari/memilih pemimpin sangatlah ditekankan, demi tercapainya kepemimpinan yang tidak sewenang-wenang, berjalan lancar antara masyarakat dan pemimpin. Dalam hal ini masyarakat harus memperhatikan bagaimana kualitas calon pemimpin tersebut. Dr. Fuad Amsyari, di dalam bukunya yang berjudul “Masa Depan Umat Islam Indonesia”, mengatakan : setiap masyarakat di mana pun dan kapan pun, selalu memiliki pemimpin yang berperan amat sentral dalam mengarahkan gerek masyarakatnya, pemimpin tersebut juga akan menentukan prestasi yang akan dihasilkan oleh masyarakat tersebut. Oleh karena itu, pembahasan soal kepemimpinan sangat penting sekali dan seyogianya setiap warga negara memahami peran pemimpin dan fungsi pemimpin.

Dari penuturan di atas hendaknya ada persiapan yang matang untuk mencari atau menciptakan pemimpin berkualitas. Pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan umat atau bangsa dari pada kepentingan pribadi atau kepentingan golongan/kelompok. Rasulullah saw dan generasi-generasinya (Al-Khulafa ar-Rasyidin) sudah membuktikan hal tersebut, dan seharusnya konsep-konsep kepemimpinan Rasulullah diterapkan dan dipakai bagi pemimpin yang akan datang.

Pemimpin yang berkualitas, harus mengetahui fungsi pemimpin dalam suatu sistem sosial. Seorang pemimpin harus mampu menjadi motivator, inovator, aspirator dan komunikator. Jika kita melihat khazanah tradisi Jawa yang dikenal dengan Hasta Brata, di dalamnya berisi delapan karakter utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sejati/berkualitas.

Karakter tersebut yaitu : 1. Seorang pemimpin mempunyai watak seperti matahari, seorang pemimpin harus bisa memberi semangat dan kekuatan bagi masyarakat, 2. Harus memiliki watak seperti bulan, pemimpin harus tampil dengan segenap rasa cinta dan kesenangan terhadap masyarakatnya, 3. Harus memiliki watak seperti bintang, pemimpin harus memberi pedoman kepada setiap orang yang dipimpinnya, 4. Harus memiliki watak bagaikan samudera, pemimpin harus mempunyai pandangan dan wawasan yang sangat luas, mendalam dan jauh kedepan (visoner), 5. Harus memiliki watak seperti angin, pemimpin harus mampu berlaku adil, 6. Harus berwatak seperti api, pemimpin harus mempunyai ketegasan dan kekuatan untuk melindungi yang dipimpinnya, 7. Harus memiliki watak seperti air, pemimpin harus berwibawa dan setiap saat harus bermanfaat bagi bagi orang banyak, 8. Harus memiliki watak seperti tanah, hal ini merupakan simbol kesabaran. Pemimpin harus mempunyai rasa kesabaran yang tinggi, pemimpin harus bersahaja, suci dan sentosa.

Untuk mengukur karakter pemimpin tidaklah cukup hanya dengan hal-hal diatas, banyak hal yang harus diperhatikan dari seorang pemimpin, termasuk nilai-nilai keyakinannya, karena hal ini sangat menentukan dalam proses kehidupannya dan jalannya kepemimpinan. Karena nilai-nilai keyakinan merupakan suatu kebenaran yang mutlak dan sesuai dengan fitrah manusia.

Baca juga  Mahasiswa Mendesak LPPM Mencari Alternatif Dana Stimulan KKN

Cikal bakal pemimpin yang berkualitas ini, yang akan menjadi panutan masyarakat telah lama diidam-idamkan oleh masyarakat. Pemimpin yang berkualitas telah memenuhi syarat belumlah terwujud setelah era reformasi berlangsung hingga sampai saat ini. Kerena langkah untuk menemukan atau mencetak seorang pemimpin yang berkualitas tidaklah sederhana.

Sangat disayangkan pada saat ini, pemimpin yang berkualitas, jujur dan peduli terhadap sekitarnya (baca: masyarakat) sudah berkurang. Beberapa contoh yang sering kita lihat di media. Tak sedikit pemimpin-pemimpin yang terjerat dengan berbagai macam kasus, mulai dari kasus korupsi, perselingkuhan, da beberapa kasus lainnya. Pemimpin, pada saat ini  tak sedikit yang terlahir secara instan. Hal ini karena demokrasi yang terbuka, yang lebih melekatkan diri pada partai kekerabatan, partai kekeluargaan, loby-loby partai, politik uang (money politic). Sungguh keadaan akan semakin buruk jika masyarakat dan pemuda tidak memperhatikan keadaan semacam ini.

Memanfaatkan Keadaan Demografi

Yang dimaksud dengan memanfaatkan keadaan demografi disini adalah dimana jumlah produktif umur 15-64 tahun akan lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan jumlah penduduk muda, di bawah 15 tahun dan lanjut usia 65 tahun ke atas. Keadaan demografi ini akan terjadi pada tahun 2020-2030. Keadaan demografi ini memberi peluang terjadinya pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan tertinggi dan penurunan angka kemiskinan.

Dari keadaan ini pemuda bisa memanfaatkan momentum keadaan demografi yang datang, Jika keadaan ini dapat terorganisir dengan benar, maka negara Indonesia mencapai puncak kemajuannya, dan itu ada ditangan para pemuda.

Negara Indonesia saat ini mempunyai ± 62,25 juta jiwa pemuda, artinya 25 % atau 1 dari 4 orang penduduk Indonesia adalah pemuda. Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, dikatakan pemuda apabila berusia 18-40 tahun. Dari jumlah data tersebut, pemuda harus mempersiapkan diri dan menempatkan keuntungan keadaan demografi sehingga pemuda dapat mengambil alih dan juga memiliki peranan penting untuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bahkan APEC nantinya, agar Indonesia dapat bersaing di abad 21 yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tulisan ini dapat disimpulkan secara singkat bahwa pemuda adalah agen perubahan dan agent pengontrol sosial yang menjadi generasi-generasi pengganti di masa yang akan datang. Setiap zaman ada masanya, setiap masa ada tokohnya. Pemuda adalah cadangan atau benih pemimpin yang berkualitas.[]

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum UISU Medan dan sekaligus pemuda yang terus mencoba menyadarkan diri akan peran fungsi seorang mahasiswa/pemuda.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of