Marah
Telah kau panggil harimau ke hadapanku
Pada sore yang bisu dengan awan yang berak-arak antusias
Aku kendalikan waktu dengan mataku
Mengejarmu dengan waktu yang kumiliki
Tak peduli apakah waktuku melaju dengan kecepatan cahaya atau kecepatan awan
Aku hanya ingin hatiku yang terbakar mencekik jantungmu
Hingga pada menit tertentu aku tersenyum
Akulah yang benar dalam masalah ini
Dan kau telah layak disebut kotoran kuda
Karena tingkahmu yang hina lebih dari binatang yang paling hina
Bantul, 23 Januari 2017
Diam
Bajuku ditarik sepi
Langit pun sunyi
Teringat saat kau mengutuk hujanku
Menyumpah kesalahanku
Menyayat bajuku
Hingga membuatnya menangis
Kini kau digilas serpihan waktu
Diam seperti batu
Bantul, 2017
Tidak Terima Kasih
Kutuklah aku seperti kau mengutuk hujan
Dasar kancil tidak tahu diri
Masih ingatkah dengan sebongkah tolongnya dan tolongku yang tersimpan rapi pada buku belajarmu?
Mulut waktu berbalut ludah berlari
Meninggalkanmu yang tak sadar diri
Yang ditolong oleh hujan pada saat kemarau panjang mencekik lehermu
Bantul, 25 Januari 2017
Rindu Ibu
Rindu bau pisau dapur
Di tengah hujan yang mengibas gembira
Aku ingat masa kecil
Ketika dipetiknya kasih sayang dari langit
Dibaurkan dengan pohon-pohon
Yang membuatku menjadi segar
Bisakah waktu dan ruang dipersempit?
Aku ingin terlepas dari hujan
Ingin segera di peluk tangan kerinduan
Tunggulah kedamaianku
Aku akan segera melumuri dinding dapur
Dengan bahagia dan tawa
Yang pernah kau ajarkan
Bantul, 21 Januari 2017
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Â Sedang menimba ilmu di SMA N 2 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pelajar yang suka membaca dan menulis cerpen. Alumni bengkel bahasa dan sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.
ilustrasi: hiburan.dbagus.com