Jurnalisme: Agama yang Terlupakan

Oleh: Ilham M Rusdi*

“Journalism is the closest thing I have to a religion, because I believe deeply in the role and responsibility the journalist have to the people of a self-governing community” (Bill Kovach)

Begitulah Bill Kovach (Jurnalis The New York Times) menganggap jurnalisme adalah sebuah agama (baca: Agama Saya adalah Jurnalisme). Saya pun merasa demikian.  Bukan semata karena saya ingin menciptakan agama yang baru atau murtad, melainkan jurnalisme harus dipahami sebagai kerja seorang hamba yang amat berat. Seolah-olah ia membawa tugas kenabian. Menegakkan ‘haq’(kebenaran)dan memerangi ‘namiimah’ (dusta) yang berkedok suci di balik sebuah fakta.

Bagi saya, dari situlah kita bisa memamahi bahwa jurnalisme sebagai agama bukan menampik adanya agama-agama yang telah diciptakan oleh Tuhan. Tetapi yang mesti kita lihat dari amalan seorang jurnalis ialah bagaimana ia mampu menyampaikan kebenaran kepada orang banyak (masyarakat). Sebab, ayat kebenaran-lah yang paling diprioritaskan dalam agama jurnalisme. Sekalipun ada hambanya yang bedusta atau menistakan fakta, tentunya ia sendiri yang akan mencatat dan menanggung dosanya. Sebab, agama jurnalisme tak mempunyai dua malaikat di sisi kiri dan kanan,yang terus mencatat setiap amalan seorang jurnalis.Memang tampak bebas dan tak ada penghakiman. Tapi bukankah dihakimi oleh dosa sendiri adalah suatu kehinaan? Maka dari itu, sanggupkah seorang jurnalis tetap istiqomah dalam menegakkan panji-panji kebenaran?

Entah apa yang saya pikirkan. Saya selalu mengandaikan jika seandainya jurnalisme betul-betul adalah sebuah agama, maka ia pasti memiliki seperangkat alat penghambaan. Seperti jurnalis adalah hamba, media (surat kabar, internet,dkk) adalah kitab suci, dan pers atau kantor redaksi adalah tempat ibadahnya. Memang sangat aneh, tapi hanya sebatas pengibaratan!

Bicara jurnalisme dalam konteks Indonesia, kini jurnalis terkadang kalap mengahadapi dunianya. Indonesia telah dilanda oleh bencana kebanjiran Hoax (berita palsu). Masyarakat terus saja bingung sana-sini bagaimana mereka harus memilah berita yang dapat dipercaya, lantaran bahasa berita sengaja dibuat-buat sebagai propaganda, provokasitif, bahkan adu domba. Oleh karena itu, banyak masyarakat saling lempar berita yang menghasut kepentingan individualnya.

Penyebaran isu-isu sentralistik di media sangatlah menggangu konstruk masyarakat. Sangat booming isu-isu yang ditampilkan, dan hampir semuanya terkontaminasi dengan alur politis yang seolah-olah mendikte masyarakat untuk berpihak kepada kepentingan tertentu. Entah itu,perang melalui berita atau opini yang berujung pada kebencian dan perselisihan. Dampaknya masyarakat saling mencaci maki di media sosial (seperti Facebook, instagram, dkk), karena dihantui oleh isu-isu SARA, pilkada, antar ormas, hingga penistaan agama, ulama, dan ideologi Negara.

Baca juga  Diskriminatif Media Terhadap Difabel

Siapakah yang berperan dalam pemberitaan hoax? Kita tak seutuhnya menyalahkan jurnalis, sebab yang mampu menulis berita (atau bisa jadi memanipulasi berita) bukan dari kalangan jurnalis saja,  mereka bisa saja dari kalangan masyarakat umum. Entah itu yang dekat dengan dunia tulis maupun tidak, siapa saja bisa terlibat.

Tetapi ironinya adalah ketika sebagian media mainstream yang berkeja sebagai pers, malah berperan dalam pemberitaan hoax tersebut. Bahkan kadang menjadi aktor utamanya. Transparansinya sangat jelas, misalnya ketika musim pilkada tiba. Media akan saling menghujat dan jurnalisnya giat memanipulasi fakta dan data. Seperti yang  kerap terjadi di televisi. Di satu channel ‘Tiiittt!!’ dengan channel ‘Tuuttt!!’ terkadang saling berperang data dari perolehan nilai pasangan pemilu andalan si channel tersebut (telah disensor). Atau pada suatu wawancara dengan menyudutkan narasumber dengan pertanyaan yang memihak tertentu? Mungkin ini hanya sebagian saja.

Artinya, jurnalis di tengah badai politik saat ini kiranya mesti bertafakkur lagi. Sekali lagi saya menuliskan fatwa Seno Gumira Ajidarma dalam tulisan ini, bahwa “Jurnalisme terikat seribu satu kendala dari bisnis sampai politik untuk menampilkan eksistensinya”, itu bukanlah suatu perkiraan semata. Hal itu nyata berpengaruh pada independensi seorang jurnalis. Jurnalis yang imannya lemah pasti mudah diombang-ambing oleh kepentingan politis. Mereka terlarut oleh bisnis dan bersembunyi dibalik amplop.

Oleh karena itu, haruslah kembali memperkuat keyakinannya yang diajarkan dalam agama jurnalisme. Kembali mengimani ‘kebenaran’ (fakta) sebagai tuntutan dakwah yang mesti diserukan, serta media (Koran, media online, dkk) sebagai kitab suci yang mesti dipelihara kualitas dan keotentikannya. Sehingga tak sebarispun ayat (data) yang termanipulasi. Lagi-lagi, ini persoalan keyakinan (independensi) seorang jurnalis bagaimana harus melewati suatu fase yang menguji keimanannya.

Mungkin sudah banyak jurnalis yang goyah keyakinannya. Lupa akan ajaran jurnalisme yang dianutnya. Sehingga menyalahi ajaran dakwah yang ditetapakan. Mereka telah menebar fitnah, kebencian, dan rajin berdusta. Padahal, mereka adalah umat khusus yang dispesialisasikan untuk membawa misi kenabian yang amat penting; yaitu menegakkan Al-haq (kebenaran).

Baca juga  Pegiat Difabel Butuh Media Alternatif

Kedudukannya sebagai umat khusus sangatlah berpengaruh dalam pembenaran berita di media. Sebab era sekarang, orang-orang telah mempercayai ‘media sosial’ seolah-olah sebagai indikasi kehidupan manusia. Dunia telah berpindah di dalamnya. Orang-orang sudah gampang saling mencibir dari jarak jauh, tanpa datang langsung mengetuk pintu rumahnya. Segala sesuatu mudah ditiru dari media, dan yang urgen adalah konstruksi media pada kehidupan sehari-hari. Seperti halnya media sebagai panutan dan pedoman social control.

Maka dari itu, signifikansi seorang jurnalis sangat dibutuhkan untuk menetralkan era ini. Konkritnya adalah jurnalis harus bersatu memerangi pemberitaan hoax, yang merugikan suatu pihak. Ia harus mencapai tingkat keimanannya yang paling tinggi. Ia mesti tampil kembali mengklarifikasi kesalahan-kesalahannya (tobat). Sebab, sekali mereka berkata benar akan menyelamatkan masyarakat dari konstruksi-konstruksi yang menyesatkan. Hal yang perlu diakui adalah jurnalis itu juga termasuk pengkonstruk terhadap realitas soasial.Dan kita pun sebagai masyarakat memang (pasti) dikonstruk!

Semestinya, agama yang mesti kita bela di tanah air ini adalah agama jurnalisme. Sebab, ketika urusan Pers ataupun media jurnalistik disiasati kepentingan politis dan sejenisnya, maka akan banyak masyarakat yang sesat. Masyarakat yang sesat pun bukan dari golongan agama, etnis, suku, ras saja, tapi kesesatannnya jauh lebih berdampak ke seluruh masyarakat Indonesia. Memang perlu jika kelak masing-masing pers (atau kantor redaksi) sebagai tempat peribadatan bisa memberikan ritual yang lebih untuk menigkatkan keimanan umatnya, Sehingga tak ada lagi jurnalis yang lupa akan ajaran agama jurnalisme yang dianutnya.

Sejatinya, tulisan ini hanyalah refleksi yang sangat singkat tentang pembacaan dinamika pers di Indonesia kemarin sore. Jadi tak akurat dan tak lebih sekadar ceramah agama. Jika pembaca merasa menemukan fakta atau realitas yang saya paparkan tidak sesuai kepetingan pribadi anda dan konteks saat ini, maka yakinlah kalau tulisan ini adalah hoax!

Selamat Hari Pers Nasional! Semoga para pegiat jurnalistik tak murtad dari agamanya.

#AksiBelaJurnalisme

 

*Penulis adalah Jurnalis pinggiran sungai Saddang di Enrekang, Sulawesi selatan.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of