Lpmarena.com – Relasi antara musisi dan penggemarnya merupakan hubungan mikroskopik dari masyarakat. Relasi tersebut menjalin suatu komunitas (community in the making) yang memiliki kebiasaan yang membentuk kebudayaan. Praktik tersebut semisal terlihat pada simbol dari musisi atau fans, sampai pada atribut-atribut yang dipakai pada bendera, kaos, pin, serta merchandise lainnya.
Analisa inilah yang digunakan Suzie Handajani (antropolog UGM) dalam diskusi umum bertema “Terima Kasih Tuhan Kau Ciptakan Nabilah: Menelisik Relasi Musik dan Audience”, yang diselenggarakan oleh LARAS-Studies of Music in Society bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. Selain Suzie, turut hadir pula dua pembicara lainnya, yakni Zainal Arifin dan Yosua selaku fans dari JKT 48. Acara diselenggarakan di PKKH UGM, Kamis (9/2).
Zainal menceritakan alasan kenapa dari sekian banyak girl band ia memilih JKT 48. Zainal mengaku penasaran pada JKT 48 yang di panggung bermain dengan banyak orang (keroyokan). Lalu Zainal mencari dan bergabung dengan komunitas JKT 48 di Jogja. Bahkan di tahun 2013, ia berangkat ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan idolanya.
Sampai sana, tepatnya di daerah Sudirman, di markas teater JKT 48, ternyata tidak sesuai ekspektasi Zainal. Untuk bertemu saja harus melewati waiting list dari jam sepuluh pagi hingga jam tujuh malam. Zainal setia menunggu hingga ia dibuat terksima dengan penampilan JKT 48 yang saat itu membawakan 16 lagu. “Sebenarnya banyak lip sync-nya, tapi kenapa tetap suka ya?” kata Zainal bertanya.
Pengalaman lain Zainal sebagai fans, untuk bisa ngobrol bersama dengan personil JKT 48, pihak manajemen telah menyediakan bilik seluas 1×1 meter. Namun, pertemuan itu tidak gratis, penggemar harus merogoh kocek sebesar 40 ribu dalam waktu 10 detik. Hal ini dibenarkan Yosua. “Untuk ketemu juga unik, untuk jabat tangan aja harus bayar,” ujar Yosua.
Di bilik tersebut, para fans bisa mencurahkan perasaannya/curhat. Yang terjadi kemudian, forum tersebut bagi Suzie menjadi emotional territory. Apa yang dibicarakan merupakan hal-hal yang sifatnya personal, atau tentang hal-hal keseharian. “Jangan-jangan yang dijual bukan performance, tapi emosi,” kata Suzie skeptis.
Suzie juga mengibaratkan JKT 48 sebagai pemimpin negara yang diturut. Presidennya adalah Nabilah (salah satu anggota JKT 48 yang populer) dan DPR-nya adalah anggota-anggota JKT 48 lainnya. Komunitas fans itu juga punya garuda pancasilanya sendiri, lagu kebangsaannya sendiri, atau ritual upacaranya sendiri. Mereka menciptakan karakter mereka sendiri. Ketika ada anggota JKT 48 yang keluar, itu diibaratkan sebagai pemekaran suatu wilayah dalam negara. “Ada relasi kuasa yang bermain,” ujar Suzie. Bahkan di titik yang ekstrim, hubungan antara musisi dan fans bisa menjadi hubungan antara Tuhan dan umatnya.
Menjadi masalah lagi jika para fans bertemu dengan hater. Menariknya, menurut Wono salah satu peserta diskusi mengatakan, terkadang hater sengaja dibuat oleh manajemen musik untuk menciptakan dinamika kehidupan fans.
Reporter: Isma Swastiningrum
Redaktur : Wulan