Nobel Laureate: Sains untuk Perdamaian

Lpmarena.com – Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutannya di acara Nobel Laureate Lecture Series 6th ASEAN “Bridges” Events in Indonesia Bridges – Dialogues Towards a Culture of Peace Facilitated by the International Peace foundation mengatakan, sains dan teknologi merupakan suatu entitas. Sains menghasilkan pengetahuan dan teknologi menghasilkan alat.

Sains dan teknologi sangat berperan menciptakan budaya damai, tapi di sisi lain bisa juga merusak perdamaian. Ilmuwan menjadi faktor penentu, apakah akan menjadi manfaat atau mudharat. “Sejauh mana sains berperan untuk perdamaian,” kata Sultan, Jumat (10/2), di Grha Sabha Pramana UGM.

Diskusi internasional ini turut menghadirkan dua pembicara utama, yakni peraih nobel kedokteran tahun 1993, Sir Richard J. Roberts, dan peraih nobel fisika tahun 1979, Sheldon Lee Glashow. Acara dibagi menjadi dua sesi, sesi I oleh Sir Richard dan sesi II oleh Sheldon.

Di sesi I, Sir Richard Roberts memberikan kuliah bertema Why You Should Love Bacteria. Ia menjelaskan, dimanapun manusia berada, dia tak bisa lepas dari bakteri. Bakteri hidup di perut, di kulit, di rambut, di mulut, dan lainnya. Beberapa dari kita terbunuh karena bakteri tersebut, sehingga menjadikannya musuh. Bakteri berbahaya tersebut semisal vibrio chlorae, volvox, clostridium botulinum, rickettsia, treponema deticola, yersinia pestis, dan lainnya.

Di sisi lain, banyak bakteri yang sangat bermanfaat, seperti pada bakteri-bakteri prebiotik yang terkandung dalam lactobacillus, bifidobacteria, helicobacter, dan lainnya. Masalahnya, hanya sedikit ilmuwan yang mau mengkaji. “The bacteria is not necessary bad. We love them,” kata Roberts. “They really protecting us,” lanjut biolog molekuler asal Inggris ini.

Di sesi II, Sheldon Lee Glashow memberikan kuliah bertema How Basic Science Drives Technological Progress. Sheldon menjelaskan, suatu penemuan dapat diciptakan melalui dua metode, yakni secara ‘sengaja’ dan secara ‘kecelakaan’. Sheldon menyebut pendekatan ini sebagai Kantian approach vs Serendip approach.

Pendekatan ala Kantian dibuat berdasarkan rencana yang hati-hati dan matang, sedangkan pendekatan Serendip dilakukan oleh mereka yang melihat dan mendengar alam. Membuka pikiran, lalu menemukan sesuatu yang besar dari alam itu. Metode kedua ini lebih mengarah pada penjelajahan, seperti yang pernah dilakukan oleh Columbus.

Baca juga  URGENSI TRILOGI KERUKUNAN

Dikotomi sains selanjutnya, dalam praktiknya sains dibagai menjadi dua. Sheldon menyebutkan ada sains murni dan sains terapan. “Dedicated to social, commercial, or military needs,” ujar perintis elektrodinamika kuantum dari Amerika Serikat ini.

Reporter   : Isma Swastiningrum

Redaktur  : Wulan

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of