Kesedihan Sarimin

Oleh: Daruz Armedian *

Pagi ini aku duduk santai di teras rumah. Mengamati bunga-bunga melati yang baru mekar. Wanginya semerbak ke mana-mana. Di samping itu, aku juga sedang membaca novel. Sambil ditemani teh hangat yang asapnya masih mengepul.

Ibuku sudah pergi ke pasar. Sementara ayah sudah dua hari tidak pulang. Katanya menginap di kantor, ada kerjaan yang secepatnya harus diselesaikan, dan siang nanti baru akan pulang. Hari minggu ini, sudah seperti biasanya, aku yang menunggu rumah. Tidak hanya itu, aku juga diberi tugas membersihkan halaman.

Pekerjaan telah selesai semua, sehingga waktunya bersantai-santai seperti inilah yang seperti biasanya aku lakukan. Kalau hari libur seperti ini, untuk sarapan aku hanya perlu menunggu gerobak burjo melintas di depan rumah. Gerobak milik Pak Sarimin yang seharusnya sudah bukan lagi pantas untuk jualan. Selain wajahnya yang keriput menandakan tua, tubuhnya sudah ringkih dalam mendorong gerobaknya. Tapi, walaupun sudah tua, aku memanggilnya masih pak. Bukan mbah.

Biasanya Pak Sarimin datang lewat depan rumahku sekitar jam tujuh. Sekarang sudah jam tujuh dan belum juga datang. Aku sudah siap-siap mangkuk sendiri. Karena kalau memakai mangkuknya, aku khawatir Pak Sarimin menunggu lama. Soalnya aku makan dengan santai sambil baca-baca, makan sedikit-sedikit biar menamani bacaanku lama-lama.

Sampai jam setengah delapan Pak Sarimin belum juga lewat. Aku jadi resah. Bukan karena bisa saja aku beli nasi di warung sebelah untuk menunda lapar. Tapi aku sudah langganan setiap minggu satu kali. Yaitu tepat hari libur seperti ini. Takutnya kalau aku sudah beli nasi, Pak Sarimin baru lewat. Hal semacam itu bisa jadi membuatku agak sungkan bila tidak membeli burjonya.

Jam delapan sudah lewat. Wah, tidak seperti biasanya, gumamku dalam hati. Resahku sudah sampai ke puncak. Maka kuputuskan untuk naik sepeda menuju rumahnya. Lagipula tidak jauh jaraknya. Berkisaran setengah kilo meter.

Baca juga  Puisi Senja Akmaluddin

Dalam perjalanan itulah, aku bertemu dengan Naila. Teman sekelasku sekaligus seseorang yang aku sendiri punya perasaan dengannya. Orangnya cantik. Ia memakai kaus oblong dan celana olah raga. Nampaknya baru selesai lari-lari.

“Han!” panggilnya dari pinggir jalan, aku rada-rada gugup. Aku menujunya. Ia kemudian duduk di bawah pohon yang kebetulan ada bangkunya. Sambil mengusap keringat dengan sapu tangan, ia menyilakanku duduk. “Mau ke mana sih. Buru-buru banget kayaknya.”

Aku tidak menjawab. Aku sibuk menaruh sepeda.

“Duduk sini dulu lah.” Ia kembali menyilakanku duduk. Kelihatannya ia masih kelelahan. Napasnya agak memburu.

“Mau ke mana?” tanyanya sekali lagi ketika aku sudah duduk di sampingnya. Kalau sudah seperti itu, rasa-rasanya jadi lupa tujuanku mau apa.

“Heh, ditanya malah bengong.”

Aku geragapan. “Em, mau beli burjo.”

“Oh, burjonya Pak Sarimin?”

“Iya. Kok tebakanmu benar?” aku heran.

“Ya, iyalah. Kan aku biasa lihat kamu setiap hari minggu beli burjonya Pak Sarimin.”

“Ha?” aku benar-benar tidak tahu. Apa jangan-jangan Naila sering memperhatikanku yang membeli burjo lima ribu tanpa kembalian? Wah, bisa terbongkar rahasiaku, gerutuku dalam hati.

“Kenapa? Nggak percaya?”

“Percaya kok…”

Dadaku sedari tadi ternyata masih berdegup. Meskipun begitu, aku merasa betah duduk di sampingnya. Kalau seperti ini, tidak perlu beli bubur tidak apa-apa. Ini kan kesempatan. Tapi, tidak, tidak. Aku harus beli bubur seperti biasanya. Aku juga akan membeli dengan uang lima ribu seperti biasanya.

Baru mau bilang kalau aku akan berangkat beli burjo, Naila mendahului.

“Sekarang berangkat yuk. Sama-sama.” Katanya sambil menuju sepedanya yang sedari tadi diparkirkan di bawah pohon belakang bangku.

“Yuk.” Jawabku tanpa berpikir panjang.

Rasa-rasanya, baru kali ini aku naik sepeda berdampingan dengannya. Ini hari apa ya kok rasanya indah sekali. Kulihat wajahnya yang semakin manis. Sampai-sampai kalau ia tidak mengingatkan, rumah Pak Sarimin bisa kelewatan.

Sesampainya di tujuan, kami langsung menuju ke depan pintu rumah Pak Sarimin. Lantas memanggil-manggil. Orang tua itu berjalan menuju kami.

Baca juga  Gado-gado: Serumpun Percik Perlawanan

“Beli burjo pak,” kataku yang hampir bersamaan dengan suara Naila.

“Sudah ndak jualan lagi le…” katanya dengan suara gemetar. Kami tertegun dan saling berpandangan. Lalu mendekat ke hadapan Pak Sarimin yang kini tengah duduk di bangku di depan rumahnya. Kami ikut duduk.

“Kenapa pak?”

Pak Sarimin menghela napas panjang. Diam sejenak lalu mulai angkat bicara, “Begini le… gerobaknya itu kan pinjam. Sekarang aku sudah tidak kuat mbayar pinjamannnya. Jadi ya dikembalikan. Opo-opo sekarang podo naik. BBM naik, bahan pokok naik. Ndak untung kalau tetap jualan nganggo gerobak pinjaman. Tur kalau saumpama ndak pinjaman, tetep tidak untung seperti biasanya. Soalnya pelanggannya semakin sedikit.”

Mendengar penjelasan Pak Sarimin, kami berdua berkaca-kaca. Ternyata ini masalahnya kenapa Pak Sarimin tidak jualan lagi. Aku lihat-lihat gerobaknya sudah tidak ada lagi.

“Bukannya dapat bantuan dari pemerintah pak, kalau BBM dinaikkan?” tanya Naila.

Ndak dapat. Ndak tahu itu urusannya bagaimana. Padahal Pak Pardiman yang pengusaha lele saja dapat. Ndak tepat memberi bantuannya.”

Kami semakin tertegun. Lagi-lagi saling berpandangan. Kasihan sekali Pak Sarimin. Sudah susah hidup sendirian, kini tidak punya pekerjaan. Aku tak sanggup lagi bertanya dan berpikir jauh, dari mana Pak Sarimin bisa makan untuk hari seterusnya?

Aku membayangkan gerobak burjo itu tidak lagi lewat depan rumahku. Oh, Pak Sarimin. Malang sekali nasibmu. Naila memelukku, tangisnya pecah.

 

NB: burjo adalah singkatan dari bubur kacang ijo.

Bantul, 11 Desember 2014

 

*Penulis adalah mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Peraih anugerah cerpen dan puisi terbaik se-DIY dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016. Tulisannya pernah di Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Republika, dan lain-lain.

Ilustrasi: bluemoon313.files.wordpress.com/2012/01/063-023-orang-tua-anshori

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of