Pelangi Persegi Panjang di Dunia Kubistik

Oleh: Soimun Galih*

Di dunia kubistik yang hendak saya bicarakan, tidak ada yang namanya garis lurus, permukaan melengkung, atau tonjolan-tonjolan yang menggembung padat berisi. Bentuk segala hal fisik, terdiri dari garis lurus, permukaan rata dan sudut sebagai titik pertemuan. Tidak ada yang namanya lingkaran atau bola di sana, karena kedua bentuk itu melibatkan lengkungan yang sempurna. Kemustahilan bagi keberadaan benda-benda berbentuk melengkung memang fakta, tapi seringnya dijadikan dogma yang berlebihan bagi makhluk-makhluk dunia kubistik itu. Pembicaraan tentang bentuk-bentuk melengkung menjadi tabu, dan bahkan di beberapa wilayah, dilarang keras sehingga mencetuskan konsep tentangnya saja bisa menghadapkan pencetusnya dengan hukuman penjara.

Di dunia kubistik yang sekarang sedang saya bicarakan ini, tentulah tidak ada mobil. Sebab mobil membutuhkan roda, dan pemakaian roda diharamkan oleh makhluk-makhluk dunia kubistik karena didasarkan konsep terlarang; lingkaran. Akan tetapi, toh makhluk-makhluk dunia kubistik tidak butuh mobil untuk bepergian. Mereka tinggal meluncur saja di atas permukaan datar, dan tinggal berbelok jika ada sudut tajam yang menghalangi jalan. Bepergian dengan cara meluncur di dunia itu pun terbukti lebih efektif daripada menggunakan kendaraan beroda.

Ketiadaan kendaraan beroda membuat makhluk-makhluk dunia kubistik terkesan primitif, apalagi pengetahuan mereka juga sangat terbatas. Matematika, misalnya, tidak begitu berkembang di kalangan makhluk-makhluk dunia kubistik yang sekarang sedang saya bicarakan. Mereka mengenal bilangan bulat, tapi tidak pecahan. Tidak ada setengah, sepertiga, seperempat dan seterusnya, karena mereka tidak mengenal pembagian. Pembagian adalah operasi matematis terlarang di dunia kubistik, sebab pembagian berkelanjutan akan berkaitan dengan objek-objek geometris yang melengkung secara mulus. Sekali lagi, ini adalah larangan keras di dunia kubistik.

Pada hari yang tak begitu cerah, matahari menyembunyikan wajah perseginya di balik balok-balok awan kelabu. Sinarnya terlihat memancar, menjalar menurut garis lurus untuk kemudian berlompatan di antara dedaunan berbentuk belah ketupat atau langsung menghujam tanah. Kubus-kubus kecil berjatuhan dari langit, mereka bening dan basah. Mereka turut menjadi tempat sinar matahari memantul dan terurai, sehingga menimbulkan objek semu berupa pelangi yang tentu saja tidak berbentuk melengkung. Ia berbentuk setengah persegi. Pelangi di dunia kubistik lazimnya memang berbentuk seperti itu, dua garis vertikal yang ujungnya dihubungkan oleh satu garis horizontal, semuanya berwarna-warni. Panjang garis horizontal itu sama dengan dua kali panjang masing-masing garis vertikal, itulah pelangi berbentuk setengah persegi yang ditimbulkan oleh gerimis dan cahaya matahari.

Selain pelangi persegi, di dunia kubistik ada juga pelangi berbentuk setengah persegi panjang. Berbeda dari pelangi sebelumnya, pelangi yang satu ini hanya muncul setiap dua ratus tahun sekali, dan karenanya menjadi fenomena legendaris. “Beruntunglah makhluk (penghuni dunia kubistik) yang diberi kesempatan untuk melihatnya, karena rata-rata usia kita hanya delapan puluh hingga seratus tahun saja,” ucap seorang tokoh bijak dalam dunia kubistik.

Fenomena pelangi berbentuk persegi panjang ini sedemikian langka, sehingga wartawan, sastrawan, seniman, wisatawan dan wan–wan yang lain di dunia kubistik berusaha untuk memasukkan melibatkan fenomena itu dalam kehidupan mereka. Wartawan, misalnya berusaha untuk meliput fenomena yang hanya terjadi setiap tanggal sembilan bulan sembilan pada tahun-tahun kelipatan dua ratus itu. Mengapa tanggal sembilan bulan sembilan? Karena para astronom dunia kubistik menciptakan sistem kalender yang didasarkan pada kemunculan pelangi setengah persegi panjang. Kalender tersebut, memang diatur supaya tanggal sembilan bulan sembilan pada tahun-tahun kelipatan tahun dua ratus, adalah kemunculan bagi pelangi persegi panjang itu. Kenapa begitu? Hanya para astronom itu yang tahu.

Baca juga  Puisi-Puisi Khoirul Anam: Senasi Kucing Rindu

Sementara para sastrawan membuat karya sastra dan seniman menciptakan seni, yang didasarkan pada fenomena aneh tersebut, para ilmuwan berusaha untuk merumuskan teori yang diharapkan mampu menjelaskan asal-usul munculnya pelangi persegi panjang yang menggantung di langit setiap dua ratus tahun sekali itu. Mereka berusaha menjawab pertanyaan kenapa ia berbentuk persegi panjang, alih-alih persegi seperti pelangi pada umumnya, dan kenapa hanya muncul sekali dalam dua ratus tahun. Para agamawan berbeda lagi, mereka menganggap keanehan bentuk serta waktu kemunculan pelangi persegi panjang itu sebagai tanda keberadaan Tuhan bagi makhluk-makhluk dunia kubistik. Mereka bahkan menciptakan ritual khusus yang berkaitan dengannya.

Pelangi yang tak lazim itu mengizinkan dirinya untuk dilihat oleh siapa saja, asalkan ia mau meluangkan waktu untuk menatap langit selama lima menit pada tanggal sembilan bulan sembilan pada tahun-tahun kelipatan tahun dua ratus. Tidak seperti pelangi di kota tempat Sukab tinggal, yang konon kabarnya tidak pernah pudar itu, pelangi persegi panjang di dunia kubistik ini hanya bertahan selama lima menit sebelum akhirnya lenyap dan muncul kembali dua ratus tahun kemudian. Untungnya dia bisa di lihat dari mana saja dan kapan saja, asal masih terhitung tanggal sembilan bulan ke sembilan.

Tak pelak, makhluk-makhluk dunia kubistik yang punya kesempatan untuk melihat, punya cara mereka sendiri dalam menikmati pemandangan yang disajikannya. Ada yang menikmatinya sembari menjemur diri di pantai, terlentang tanpa mengenakan selembar kain pun. Ada yang berlelah diri mendaki gunung sehari sebelum tanggal yang ditentukan untuk kemudian memandang pelangi yang berbentuk persegi panjang itu dari puncak gunung yang telah susah payah didaki. Makhluk-makhluk yang suka mendaki gunung ini biasanya akan memanfaatkan momen munculnya pelangi persegi panjang itu untuk keperluan selfie, mereka lalu mengunggah hasilnya ke media sosial untuk mendapatkan pujian dalam bentuk “klik” sebanyak mungkin.

Selain penikmat, banyak pula makhluk oportunis. Mereka adalah pemilik modal yang lebih tertarik untuk memanfaatkan fenomena langka berupa munculnya pelangi persegi panjang itu untuk melipat gandakan uang dalam kantong mereka. Mengalirnya uang ke pundi-pundi mereka lebih menarik daripada pelangi persegi panjang itu sendiri. Mereka pun mempertaruhkan uangnya untuk membangun tempat-tempat indah. Resort, villa di puncak gunung, hotel berbintang lima,atau apa saja asal dapat menarik pengunjung dengan dengan satu tujuan, yaitu menyediakan tempat terbaik untuk memandang pelangi persegi panjang. Semakin bagus tempat yang dibangun, tentu semakin mahal pula uang sewanya, dan dengan demikian potensi untuk melipat gandakan uang semakin besar. Toh pelangi yang tak biasa itu hanya muncul dua ratus tahun sekali dan tidak semua makhluk dunia kubistik punya kesempatan untuk menyaksikannya, mengapa tidak memandangnya dari tempat terbaik yang pernah ada?

Masyarakat yang gemar bermewah-mewah sangat tertarik terhadap bujukan ini. Mereka tidak peduli lagi pada uang mereka jika pun harus terkuras demi memandang pelangi persegi panjanga dari bangunan milik para investor oportunis tadi. Penyediaan fasilitas untuk menyaksikan fenomena langka itu pun menjadi komoditas yang menjanjikan.

Baca juga  Penjahit Waktu

Sementara itu, ada pula makhluk-makhluk yang berpikiran lebih sederhana, atau setidaknya terpaksa melakukan itu karena tidak punya banyak pilihan. Para buruh misalnya, usia mereka dihabiskan di tempat kerja untuk membantu menggembungkan rekening para pemilik modal. Waktu lima puluh enam jam seminggu, ditukar dengan uang yang hanya cukup untuk mengisi perut mereka saja. Jangankan untuk menyewa tempat memandang pelangi persegi panjang, untuk kebutuhan sehari-hari saja gaji mereka kadang kurang. Dengan keadaan itu, pola pikir mereka terbentuk sedemikian rupa sehingga memandang pelangi persegi panjang bukanlah tujuan hidup.

Presiden? Lain lagi. Presiden dunia kubistik bukan presiden Jebule, yang dikisahkan lahir dengan leher bengkok namun dibekali kecerdasan luar biasa oleh Yang Maha Kuasa sehingga dengan gampangnya menjadi presiden, namun sayangnya rakyat yang bodoh memberontak dan meluluh lantahkan istana negara ketika dia sedang pulang dari negeri padang pasir. Presiden di dunia kubistik juga bukan orang sakti yang bisa menumbuhkan segala macam tanaman dengan cara menganyam kesepuluh jemari yang melekat di kedua telapak tangannya. Presiden di dunia kubistik selalu mengenakan peci berbentuk persegi panjang berwarna pelangi, bukan hitam, karena secara khusus presiden ini punya ketertarikan pada pelangi persegi panjang.

Oleh karena ketertarikannya itu, dia berusaha untuk melanggengkan kekuasaannya dan berniat memandang pelangi persegi panjang dari istana negara. Pidato-pidatonya di depan khalayak selalu bersifat membujuk supaya pada pemilu selanjutnya dia terpilih kembali menjadi presiden. Dia bisa melakukannya dengan baik. Rakyat seolah tersihir dengan kata-katanya, meskipun jika dinilai kata-katanya cenderung “klemak-klemek” daripada tegas dan berapi-api.

Pada hari yang telah ditentukan, semua makhluk dunia kubistik bersiap dengan cara dan gayanya masing-masing untuk memandang pelangi persegi panjang. Namun kali ini mereka harus menelan kekecewaan begitu tanggal sembilan bulan sembilan pada tahun kelipatan tahun dua ratus itu berakhir dan sama sekali tak ada yang melihat penampakan pelangi persegi panjang.

Keesokan harinya keabsenan pelangi persegi panjang hari kemarin menjadi viral. Berbagai media sosial dibanjiri meme dan surat-surat kabar dipenuhi artikel yang mempertanyakan keabsenannya. Berita-berita di stasiun televisi segera menyiarkan pendapat para pengamat, mulai dari tokoh yang relevan seperti ilmuwan hingga tukang becak yang jelas tidak ada kaitannya dengan fenomena pelangi persegi panjang, karena terlalu putus asa. Makhluk-makhluk dunia kubistik putus asa karena pemandangan yang mereka harap-harap sejak lama tidak datang waktu itu. Para pemilik modal gulung tikar, presiden gantung diri. Hanya para buruh yang selamat dari serangan mental serempak itu.

 

*Soimun Galih adalah nama pena dari Hari Taqwan Santoso, ia berdomisili di Yogyakarta. Pernah menulis novel bertema kehidupan pesantren dengan judul “The Jadzab Boy” (Diva Press, 2012) dan antologi puisi “Teruntuk Mentari dan Rembulan” (Beebook Publisher, 2016) serta “Sajak-Sajak Rembulan Biru” (WA Publisher, 2016). Penulis dapat dihubungi lewat email : narasoma7@gmail.com

 

 

Beri Komentar

Send this to a friend