Home SASTRAPUISI Puisi-Puisi Muhamad Kusuma Gotansyah: Mengapa Tak Ada Musisi Jazz Di Luar Angkasa

Puisi-Puisi Muhamad Kusuma Gotansyah: Mengapa Tak Ada Musisi Jazz Di Luar Angkasa

by lpm_arena

MELIHAT PIANO MELELEH

Kau tesenyum saat All Blues kumainkan pada piano. Lima menit kemudian kau tertawa saat aku masih berimprovisasi. Menikmati kala nada-nada kromatik menyapu wajah tirusmu. Bibirmu megucap satu-dua kata pujian.

Aku terkesima dengan kesetiaan seorang penonton. Melihatmu menikmati musikku, melihatmu menjamah not-notku. Di luasnya dan mewahnya dan megahnya Carnegie Hall, kau duduk seorang diri di lantai terbawah menatap pertunjukanku.

Di antara dua ribu delapan ratus empat kursi kau dudu di salah satunya. Kau bertepuk tangan ketika aku menyemburkan frasa terakhir. Lalu kau berjalan padaku di dalam kesunyian panggung.

Kau genggam tanganku dan kitapun terpesona melihat pianoku meleleh.

 

Kuala Lumpur, 20 Februari 2017

 

SOLO TERAKHIR JONI

Ketika Joni sedang tampil di panggung

Acap kali ia dimaki dan dihujat

Sebab tak becus, sebab tak pandai

Sebab tak bisa mencapai altissimo

 

Lalu Joni mencoba bermimpi

Walau sulit, ia berkeras hati ingin mengkhayal

Ia pun bergelut dalam otak belah kanannya

Menyapa bulan, menyapa matahari

Menyapa galaksi yang tersenyum ceria

 

Joni tidak puas dengan khayalannya

Ia kembali melompat dan menggapai

Sesampainya ia di atas ia berikrar

Ikrar yang disaksikan alam semesta

“Aku berikrar, inilah solo terakhirku.”

 

Kuala Lumpur, 18 Februari 2017

 

MENGAPA TAK ADA MUSISI JAZZ DI LUAR ANGKASA

Aku melantunkan Au Privave dari saksofonku

Jernih, bersih, mulus, dan kadang kromatik

Dan yang keluar bukan not-not

Melainkan cintaku pada kita, mereka, dan yang lain

 

Dalam hampanya ruang angkasa

Dalam bunyi not yang hadir tanpa perantara

Dalam gelombang dan frekuensi yang abstrak

Dalam nada-nada yang tak henti bergerak

 

Aku berikrar dengan musikku

Di antara planet dan bintang yang tersenyum sayu

Pada bumi, matahari, galaksi, diriku, dan dirimu

Di angkasa luas, hadiah dari Tuhan yang jemu

Jemu akan hidupku yang melulu begitu

 

Dan aku pun hilang

Di angkasa yang gelap gulita dan juga terang benderang

 

Kuala Lumpur, 17 Februari 2017

 

PRA PENGEBUMIAN JONI

Tercatat Joni mati hari ini

Musisi jazz tampan dan sakti

Orang bilang musiknya dapat menggugah hati

Juga dibilang dapat membuat bunuh diri

 

Kini ia terbaring sepi

Membisu seribu bahasa, sunyi

Tak ada yang melayat, tak ada doa yang menghadiri

Tak ada musik Joni hari ini

 

Orang bilang ia bunuh diri

Dengan musiknya yang dikatakan dapat menggugah hati

Sungguh kasihan musisi jazz yang tampan lagi sakti

Dan hari ini tercatat Joni mati

 

Kuala Lumpur, 17 Februari 2017

 

PASCA PENGEMBUMIAN JONI

Seiring waktu, mataku menjamah dirimu

Waktu mengalir, seperti nafasmu yang mendesir

Lalu kau lari, menghirup udara yang sunyi

Namun aku tetap disini, berharap ada yang kembali

 

Tetapi siapa aku dan siapa engkau

Engkau yang mulia nan suci

Aku yang hina nan sepi

Lagi-lagi kau bertanya, “Siapa aku dan siapa engkau?”

 

Kini kau tak lagi sunyi

Kini kau leluasa; menari, bersyair, dan menyanyi

Kini aku pun tak lagi sunyi

Kini aku bebas; bermusik, menulis, dan bermimpi

 

Namun kita kembali, masih, dan akan terus bertanya

“Siapa aku dan siapa engkau?”

 

Kuala Lumpur, 17 Februari 2017

 

KUCURI SEBUAH PARTITUR

Sekali waktu pernah kucuri sebuah partitur

Partitur berisi rumus yang telah diukur

Diukur oleh komposer yang kini dikubur

Dikubur sehingga kini lagunya gemar kabur

 

Pada malam hari setelah kucuri sebuah partitur

Kududuk di depan piano, menjamah tuts-tuts yang kian hancur

Seketika hadir di depanku puisi alam yang subur

Nada merdu turut hadir dengan tangan yang terulur

 

Dan kusadari yang kucuri sebuah partitur

Maka kulanjutkan menjamah piano yang sejenak mendengkur

Ia pun tertawa dan kembali bernyanyi dengan makmur

Lagu ikut menari dan tak jadi berjamur

 

Akhirnya polisi pun tahu telah kucuri sebuah partitur

Mereka hadir dan menggusur

Mereka buat piano babak belur

Mereka kubur aku disamping komposer yang kini telah kabur

 

Kuala Lumpur, 18 Februari 2017

Muhamad Kusuma Gotansyah, seorang gitaris muda penggemar jazz kelahiran Tangerang yang berambisi untuk membuka mata dunia dengan musiknya. Penampilan debutnya adalah di selamatan sunat anak tetangga.

Ilustrasi: pixabay.com