SYAIR KEMATIAN
kepada segala
bayang samar dari percakapan pagi
hilang dari pergantian masa
dan tertelan paruh sunyi
kau dari sekawanan fajar
mendapuk luka pada embun
menuntun mentari salah jalan
menubuh di persimpangan
barangkali jalanmu pun samar
dan memuntahkan gelombang tak beraturan
sangat disayangkan
kau akan hilang untuk kedua
terlupa dari sekawanan
menyendiri kembali dari riwayatmu kehilangan
sebab syairmu, kematian.
Yogyakarta, 2017
ANYAMAN LUKA, PEREMPUANKU
aku berpuisi untuk perempuan pembangkang
kali ini
perempuan berduri
terlahir dari yang mati
boleh saja kau menjauh
seperti gerimis meninggalkan kemarau
tetapi
lukamu, luka berpalung
tetap utuh
sekalipun kau acuh
puisiku, perempuan anyir
sementara kau kutuk dosa
dosa selalu saja mencumbuimu dalam diam
puisiku, mengajakmu berlari
belakangi semesta
yang kau anggap manusianya pendusta
sebab darinya, ada-mu sia-sia
Yogyakarta, 2017
NYANYIAN SORE
api dan bara tak pernah
berpisah
menggandeng pelangi
pada sepotong cahaya yang sepintas
berlalu
#pantai bola matamu
merekah di antara mereka yang terpinggirkan
sekali ciut, nukik seserpihan
:jamaah tangis di negeri dongeng
lalu siapa yang akut, tuan?
memelihara saja tak cukup
sebab duli-ku terlalu mesra
bercumbu dengan angan
ceramahmu
lalu siapa yang duli, tuan?
kau atau aku, pada negeriku
Yogyakarta, 2017
Rodiyanto. mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang selalu takut saat hendak pulang kampung. Sebab baginya, Jogja-Sumenep adalah petaka yang mau atau tidak, harus dinikmati.
Ilustrasi: images.says.com