Membaca Peta Kemiskinan

Membaca Peta Kemiskinan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: M. Abdul Qoni Akmaluddin*

Kemiskinan secara definitif menurut Bagong Suyanto terbagi menjadi dua ; 1. Kemiskinan secara alamiah, 2. Kemiskinan secara buatan. Kemiskinan secara alamiah adalah kemiskinan yang terjadi karena terbatasnya faktor alam. Seperti terbatasnya jumlah produksi yang dihasilkan faktor-faktor alam. Kemiskinan seorang petani karena gagal panen. Kemiskinan seorang penambang karena semakin terkurasnya jumlah tambang. Sedangkan kemiskinan buatan adalah kemiskinan yang terjadi karena buatan manusia. Kemiskinan seseorang terjadi karena srtuktur sosial manusia. Seperti kemiskinan seorang perempuan pada sistem patriarkhi. Kemiskinan seorang buruh tani terhadap pemilik lahan. Kemiskinan seorang abdi dalem dengan kaum bangsawaan kerajaan atau Sultan.

Berdasarkan difinitif diatas Bagong Suyanto membagi masyarakat miskin menjadi dua yaitu mikin destitute dan near poor. Masyarakat yang masuk dalam kategori miskin dedutitif adalah kelompok masyarakat sosial yang mengantungkan hidupnya pada orang lain dengan upah yang minimal sehingga mereka tidak berdaya untuk melakukan sebuah pengembangan potensi diri. Kasus ini seperti yang terjadi pada buruh-buruh kasar, pengamen, pengemis, dan penjual asongan. Dalam studi kasus mereka kaum miskin destitute  mereka tidak dapat mempertahankan dirinya. Kalaupun mereka bisa mempertahankan dirinya itu pun hanya bisa digunakan untuk makan atau memenuhi kebutuhan pokoknya belum bisa untuk memenuhi kebutuhan sekunder. Masyarakat seperti ini bisa ditemukan dipinggiran sungai, pemukiman kumuh, akibat dari dampak urbanisasi.

Kelompok masyarakat yang masuk dalam kategori kemiskinan near poor biasanya terjadi pada masyarakat yang mengantungkan hidupnya pada hasil alam. Studi kasus ini melahirkan masayarakat yang tergolong di dalamnya adalah petani (baik petani sawah maupun petani garam), penambang, dan lain sebagainya. Alasan mereka masuk dalam kategori kemiskinan near poor adalah mereka masih mempunyai harapan lebih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Karena faktor yang menentukan kesuksesan mereka itu adalah alam dan mereka mengantungkan sepenuhnya pada alam. Mereka tidak dapat menentukkan sendiri seberapa besar produksi yang dapat dilakukan. Ketika alam mengalami paceklik dan mereka tidak dapat memanen hasil dari tanaman atau garamnya maka mereka menjadi masuk dalam kategori masyarakat miskin destitute.

Proses dialektika dalam membaca peta kemiskinan Indonesia

Baca juga  Lawan Konspirasi

Timbulnya masyarakat marginal kota sehingga mengakibatkan munculnya masyarakat kumuh bukan semata-mata akibat dari proses masuknya kapital dalam sistem perekonomian negara. Hal itu terjadi melalui proses yang rumit. Masyarakat marginal yang berada dalam masyakat industri sebagian besar merupakan masyarakat peralihan dari masyarakat yang mengantungkan hidupnya pada alam. Minimnya skill dan modal sehingga mereka hijrah ke kota hanya dengan bermodal nekad.

Hal itu ketika dianolgikan dengan definisi masyarakat destutif dan near poor diatas maka yang terjadi adalah hubungan kausalitas. Masyarakat near poor yang mengantungkan hidupnya pada alam. Skill yang mereka miliki hanyalah skill alam. Melakukan tindakan produksi dari alam dan memasrahkan dirinya pada alam sehingga mereka mengingkari untuk melakukan skill lain. Tingkat kesadaran atau kepekaan terhadap pengetahuan kognitif ataupun pengetahuan praktisi kurang. Sehingga masyarakat seperti itu kaget ketika mengalami gagal panen atau alam tidak bersahabat sehingga mereka gagal untuk melakukan produksi.

Efek kegagalan produksi tersebut sehingga kebanyakan dari mereka frustasi karena tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Akibatnya mereka nekad untuk melakukan urban ke kota tanpa memiliki bekal skill.

Melihat peluang seperti itu mengakibatkan kapitalis memanfaatkan peluang. Mereka diperkerjakan dengan upah yang dibawah rata-rata. Mereka menjadi pekerja kasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tidak mampu. Tenaga mereka dieksplotasi kapital. Karena mereka membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehingga mereka tidak memperdulikannya.

Dampak dari eksploitasi tenaga kerja tersebut yang mengakibatkan masyarakat yang melakukan urbanisasi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya secara berlebih. Mengakibatkan mereka hidup atau tinggal memanfaatkan lahan seadanya yang akhirnya menimbulkan masyarakat kumuh.

Tingginya angka urbanisasi dan kebutuhan akan tenaga kerja mengakibatkan terjadi persaingan dalam pekerjaan. Munculnya masyarakat yang membawa skill dalam hal ini adalah kaum terpelajar mengakibatkan posisi mereka tergantikan. Kurangnya skill juga mengakibatkan mereka semakin termarginalkan. Akhirnya mereka mempekerjakan dirinya sebagai pengamen, pengemis, pemulung, perampok, dan bahkan sampai menjual diri dan pengedar narkoba hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Baca juga  Orang Jawa Tak Merasa Benar Sendiri

Dampak dari kemiskinan tersebut bukan hanya tumbuh masyakat kumuh akan tetapi masyarakat nekad dan tidak peduli terhadap pendidikan.

Proses pengembangan dalam mengatasi kemiskinan            

Kaum marxis mengatakan bahwa perubahan atau untuk mengatasi kemiskinan itu harus dilakukan upaya untuk revolusi proletariat. Kaum buruh atau rakyat proletar harus sadar bahwa dirinya ditindas oleh kapital. Sehingga mereka melakukan sebuah gerakan untuk menumbangkan kapital.

Menurut penulis, hal tersebut masih belum cukup untuk mengatasi sebuah kemiskinan. Faktor terjadinya kemiskinan bukan hanya terjadi karena kapital menguasai proletar. Akan tetapi, kemiskinan terjadi karena rendahnya tingkat kesadaran pada masyarakat near poor yang mereka tidak tumbuh berada dibawah kaum kapital.

Teori revolusi Marx mungkin bisa diterapkan hanya pada masyarakat industri. Mengingat Indonesia sebagian masih bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan (agraris dan maritim) yang mengantungkan hidup mereka pada alam. Bukan pada jumlah produksi. Maka ketika buruh pabrik dan masyarakat proletar mengalami revolusi sehingga tercipta revolusi proletariat dan membentuk diktaktor proletariat. Tidak ada kelas sosial terjadi di dalamnya. Tapi kemiskinan akan tumbuh kembali pada masyarakat yang masih mengantungkan hidupnya pada alam. Sehingga mereka harus melakukan urabanisasi ketika jumlah produksi alamnya tidak dapat diandalkan. Ketika mereka melakukan urban tanpa bekal dan skill hal tersebut justru akan menimbulkan masyarakat komunal baru.

Perlu juga mengambilkan teori fungsionalnya Durkheim dan Marx Weber dalam membaca fakta-fakta sosial yang terjadi dengan semangat kapitalisme yang dikobarkan Marx Weber. Hal itu dilakukan sebagai metode untuk melakukan usaha pengembangan masyarakat. Membangkitkan kesadaran dan semangat mereka terutama masyarakat miskin near poor yang mengantungkan hidupnya pada alam. Masyarakat yang notabennya mereka tidak hidup dibawah naungan kapitalis. Mereka yang tidak sadar bahwa mereka ditindas atau bisa dibahasakan mereka dirampas kesadarannya. Meminjam istilah Gramschi mereka di hegemoni dengan sistem sehingg tidak melakukan perlawanan.[]

*Penulis merupakan penggiat FAD (Forum Anak Desa) dan saat ini sedang berproses di LPM Arena.

Ilustrasi: www.kbknews.id

 

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of