Budaya Konsumtif Tidak Sejalan Dengan Kerja Produktif

Oleh : Otorbus Niqattum*

Bekerja menjadi petani atau penggarap tanah tidak lagi menarik perhatian pemuda desa. Mereka lebih suka merantau ke kota untuk mencari uang dengan menjadi buruh ketimbang menjadi petani di desa. Fenomena urbanisasi ini sudah menjadi “life style” di desa. Hal ini mereka lakukan bukan dalam rangka untuk  memenuhi kebutuhan hidup mereka, melainkan dalam rangka memenuhi keinginan-keinginan yang sifatnya tidak begitu penting, sekalipun keinginan tersebut tidak terpenuhi toh mereka tidak akan mati.

Ironis memang, desa yang seharusnya menjadi sumber penghidupan atas perkembangan kota, dan bersinerginya antara desa dan kota karena saling membutuhkan satu sama lain, pada saat ini sudah tidak terjadi lagi. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa orang desa mencari kerja ke kota, dan orang kota mencari kekayaan di desa. Kita bisa melihat kasus-kasus yang terjadi baru-baru ini. misalnya, melambungnya harga cabai yang sampai menembus 150.000 rupiah per kg, rendahnya harga beras saat panen raya, yang lebih baru lagi adalah kasus pendirian pabrik semen di beberapa daerah yang sampai sekarang belum rampung.

Mari rehat sejenak, untuk membaca kembali kenyataan yang terjadi. Misal berkurangnya minat pemuda desa untuk menjadi petani dan memilih bekerja sebagai buruh di kota. Kenapa demikian? Salah satu alasannya adalah pandangan bahwa menjadi petani tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Jika semua orang berpandangan seperti itu, berarti ada yang salah. Pasalnya, jika diamati kembali, bukan karena untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, melainkan keinginan-keinginan mereka dalam mendapatkan gaya hidup yang glamour, keinginan mempunyai motor baru, gadget merk baru, serta barang2 yang beredar di pasar. Meminjam istilah dari salah satu kawan, pemuda desa kita sedang terkena sindrom “Life STEL” (gaya Selera Tinggi, Ekonomi Lemah). Dorongan kuat inilah yang menggerakkan mereka untuk merantau ke kota dan mengadu nasib di sana.

Kemudian, yang terjadi di desa adalah kekosongan penggarap. Adapun penggarap yang masih tersisa adalah mereka yang sudah tua, yang sudah memasuki usia empat puluh tahun ke atas. Jika hal ini dibiarkan berlanjut maka kita bisa menghitung dua puluh tahun lagi dapat dipastikan petani kita sudah tidak bertani lagi, pensiun, dan tanah yang mereka miliki di jual pada pengusaha-pengusaha kota.

Baca juga  Konsumen Film Abal-Abal Serta Dampaknya

Yang kedua adalah fenomena melonjaknya harga cabai yang menembus di atas 100.000 rupiah per kilo. Ketika kita bandingkan dengan harga daging sapi, hasilnya adalah harga cabai lebih mahal dari pada harga daging sapi. Sama seperti uraian di atas, masyarakat kita sekarang, baik di kota maupun di desa sudah terjangkiti budaya konsumtif, artinya kita merasa mampu untuk membeli, dan pada akhirnya kita akan mengalami ketergantungan. Sepintas tidak ada masalah memang, akan tetapi alangkah baiknya kita yang mempunyai lahan mampu memaksimalkan produktifitasnya. Walaupun hanya satu meter persegi luasnya. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kelangkaan sumber bahan makanan, yang salah satunya adalah cabai.

Terakhir, yang membuat miris adalah kasus pendirian pabrik semen. Mencuatnya kasus tersebut dikarenakan pemerintah tidak percaya kepada petani kita yang tidak mampu menggarap tanah, atau dari sektor pertanian tidak mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, disebabkan produktifitas pertanian yang lambat, sementara melihat kebutuhan anggaran yang besar. Maka pegambil alihan lahan ini menjadi langkah solusi yang dilakukan oleh pemerintah. Tentunya hal itu terlepas dari persaingan antara pabrik semen milik swasta dengan pabrik semen milik pemerintah (BUMN).

Minimnya kesadaran untuk berproduksi

Apa salahnya menjadi buruh? Apa salahnya setelah lulus sekolah bekerja menjadi kuli bangunan di kota? Apa salahnya setelah lulus kuliah memasukan lamaran pekerjaan dalam sebuah perusahaan? Tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika pilihan menjadi buruh tidak diimbangi dengan kesadaran berproduksi. Walau tidak besar hasilnya, setidaknya ada beberapa aktifitas yang sifatnya menghasilkan. Dengan memanfaatkan lahan atau ruang kosong di sekitar tempat yang kita tinggali. Dengan cara menanam tanaman yang tidak membutuhkan banyak tempat, seperti sayur-sayuran atau membuat kolam untuk budidaya ikan.

Mengapa demikian, karena penghasilan yang di dapat dari gaji buruh tidak cukup untuk mencukupi semua hasrat keinginan kita. Pengeluaran akan lebih besar ketimbang apa yang dihasilkan. Gaji buruh akan habis untuk membeli bahan makanan, membayar cicilan rumah, membayar angsuran motor, membeli bensin, membeli paketan internet pulsa, membayar tagihan listrik, membayar tagihan air dan lain sebagainya.

Baca juga  Konsumen Film Abal-Abal Serta Dampaknya

Dari sini, menumbuhkan kesadaran berproduksi menjadi perlu. Alasannya adalah dengan berproduksi, hasilnya mampu meminimalisir anggaran pengeluaran belanja rumah tangga (APBRT). Biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membeli sayuran atau lauk pauk, bisa dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan lain. Atau uang tersebut bisa ditabung untuk keperluan mendadak.

Lebih bagus lagi dana-dana yang tidak terserap tadi, digabungkan dengan buruh yang lain kemudia dibentuk menjadi koperasi. Model koperasinya pun bisa dibentuk menjadi koperasi simpan pinjam, koperasi sembako, atau koperasi jasa sesuai dengan situasi dan kondisi. Jika terjadi kelangkaan barang-barang sembako di pasar, tidak ada rasa khawatir lagi karena hal itu bisa ditopang melalui koperasi.

Memanfaatkan potensi desa yang belum tergarap

Masih ada  peluang, untuk dapat memenuhi keinginan-keinginan hidup dengan memanfaatkan potensi yang ada di desa. Artinya, untuk  membeli motor, gadget baru, serta barang-barang yang lain tidak perlu jauh-jauh merantau ke kota, tetapi dengan tinggal di desa dan memanfaatkan segala sumber potensi yang ada.

Hal ini bisa dimulai dengan melihat sekeliling tempat tinggal kita, masih banyak lahan produktif yang belum tergarap, atau potensi desa yang belum dimaksimalkan. Serta meningkatkan sumber daya manusia yang ada. Berangkat dari pedoman apa yang kita punya dan apa yang kita bisa menjadi kunci untuk mengembangkan serta memanfaatkan sumber daya yang ada.

Misalnya, membentuk sebuah Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM), yang diteruskan menjadi usaha rumahan (baca: Home Industry) yang didapat dari hasil pertanian. Seperti memanfaatkan hasil pertanian berupa singkong, pisang, biji-bijian, menjadi makanan olahan. Kemudian makanan olahan ini didistribusikan ke kota. Dari kota kita membeli barang-barang perkakas yang dibutuhkan oleh orang desa. Semua itu dilakukan untuk menumbuhkan perekonomian di desa. Seperti yang diamanatkan dalam konstitusi kita yaitu pasal 33 ayat 1 dimana Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

*Pemoeda desa yang merajut asa.

Iluistrasi: www.hannientour.co.id

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of