Olah Rasa: Padukan Kritik Sosial dengan Cerita Sekitar Kita

Olah Rasa: Padukan Kritik Sosial dengan Cerita Sekitar Kita

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Lpmarena.com – Persoalan mengenai kondisi sosial menjadi tema yang digarap oleh penulis asal Tasikmalaya, Egi Azwul Fikri. Tema itu Egi wujudkan dalam karyanya “Olah Rasa” yang diluncurkan dan dibedah  di Yayasan Kampung Halaman, Wedomartani, Selasa (25/4).

Buku Olah Rasa terdiri dari sembilan cerpen, yakni: Kiri, Luka Seorang Guru Honorer, Menara Berdiri Angkuh, Olah Rasa, Kasihan Ikannya Tenggelam, Titik Hakikat, Ksatria Tupai, Hilang, dan Malikat Rapuh. Antologi ini dibuat Egi selama tiga tahun, dari tahun 2013-2016.

Vuvut Zery Haryanto, pembedah dari Kampung Halaman mengatakan, Olah Rasa merupakan upaya membaca kondisi di sekitar kita. Dimulai dari cerita terkait hal-hal yang ada di dekat kita, dalam upaya melatih kepekaan. “Buku ini jadi referensi bagaimana mengemas cerita dari pengalaman terdekat,” katanya.

Bagi Egi, Olah Rasa merupakan caranya menyampaikan uneguneg, ketakutan-ketakutan, juga protes-protesnya secara halus melalui sastra. Tulisan menjadi medianya melakukan demonstrasi, karena dia tak selalu bisa melakukan demonstrasi secara langsung. “Aku gak bisa langsung demo,” kesalnya.

Egi secara eksplisit mengungkapkan keberpihakannya pada mereka yang ditindas (mereka yang ter-dzalimi). Menurutnya, kebaikan dan kebaikan sudah beradu, dan yang wajib dilakukan oleh penulis adalah menentukan keberpihakan. “Karena aku orang miskin juga, aku lebih bela itu,” ujar penulis yang pernah kuliah di UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Seperti terlihat dalam cerpen Luka Seorang Guru Honorer, yang terinspirasi dari temannya yang juga seorang guru. Ada pula tentang pembangunan dalam cerpen berjudul Menara Berdiri Angkuh. Di kasus itu, Egi pernah mengadvokasi massa dan melakukan penolakan terhadap pendirian tower. “Persoalan masyarakat, pada awalnya nolak, tapi dikasi uang mau. Itu juga masalah,” tuturnya.

Baca juga  UIN Sunan Kalijaga akan Buka Fakultas Baru

Metode penulisannya lebih pada membuat ide besarnya dulu. Cerpen-cerpen Egi berangkat dari imajinasi yang dimiliki setiap orang. Dia melihat imajinasi dari suatu proses. Imajinasi diendapkan dan diolah menjadi karya ketika ia ngopi di warung kopi. Beberapa penulis yang mempengaruhi Egi, di antaranya Ahmad Tohari, Chairil Anwar, Seno Gumira Ajidarma, Acep Zamzam Noor, dan lain-lain.

Buku tersebut, selain berisi cerpen-cerpen, juga dihiasi dengan ilustrasi yang dibuat oleh Novan Gharuk. Novan mengatakan, ketika membuat ilustrasi, ia membaca cerpen Egi satu per satu. Lalu membuat gambar berdasarkan penangkapannya. “Aku pas bikin ilustrasi ini agak ragu-ragu. Dia suka yang gak jelas,” katanya. “Yang menarik ketika membaca judul Ksatria Tupai, seperti main game,” lanjutnya.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Wulan

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of