Ada Apa Dengan Pemilwa?

Oleh: Udin Akmaluddin*

Dulu aku tidak percaya ketika seorang kawan menceritakan kepadaku tentang busuknya mekanisme Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karena memang UIN adalah kampus Islam yang menjunjung tinggi nilai ke-Islaman. Itu juga terlihat dari visi dan misi UIN yang tampak religius.

Cerita dari temanku itu masih kubungkus rapi dan kuanggap itu hanyalah rumor candaan belaka. Pasalnya kulihat masjid UIN yang selalu tampak ramai orang.  Ada yang diskusi, salat berjamaah, dan membaca buku.

Cerita temanku semakin terbantahkan dengan fakta yang ada di kampus putih ini. Banyak aktivis yang selalu membawa nama rakyat. Membela hak-hak rakyat dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Tak pikir orang-orang seperti itu adalah orang yang tak gandrung akan kekuasaan. Tak memperdulikan kekuasaan, atau bahkan mereka adalah orang-orang yang anti struktural pikirku.

Bahkan aku dulu selalu terkagum kagum dengan mereka. Mereka yang rela meninggalkan kuliahnya hanya untuk mengurusi kepentingan orang lain. Bahkan banyak di antara mahasiswa UIN yang terancam Drop Out (DO) karena tidak pernah masuk kuliah. Mereka malah aktif dalam gerakan-gerakan sosial. Seperti gerakan buruh, gerakan petani, bahkan ada yang rela menjelma menjadi pemulung. Bagiku, dulu mereka adalah pahlawan yang rela berkorban. Bak Sudirman yang lahir pada era sekarang.

Semakin lama aku berada di kampus ini, semakin merasakan pula aroma politik kampus. Aroma politik yang lumayan kuat dan sengit antara ormas satu dengan yang lainnya. Tetapi, aku masih belum merasakan buruknya sistem politik di UIN seperti yang temanku ceritakan. Karena memang pemilwa saat itu masih lama dan aku pun masih semester dua.

Melihat ketegangan politik identitas di kampus, semakin penasaran aku ingin membuktikan cerita dari temenku dulu. Kini, pemilwa atau momen pesta demokrasi anak-anak UIN sudah dekat. Geliat panas dari bakal calon sudah terasa, dan kecurigaan-kecurigaan pun semakin kuat.

Dimulai dari pendaftaran Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) yang serba tiba-tiba. Tiba-tiba jadwal pendaftaran dibuka. Tiba-tiba pula jadwal ditutup. Mungkin mereka  menganggap bahwa siswa UIN adalah mahasiswa yang superior sehingga dapat dengan cepat memenuhi persyaratan yang harus diberikan.

Tak sampai disitu, ketika memasuki waktu pendaftaran, kantor sekretariat yang dijadikan untuk pendaftaran justru tutup, dibuka hanya pada waktu sore dan itupun hanya sebentar.

Baru dipemilihan KPUM saja membuatku  ingin istighfar seratus kali, bahkan seorang teman yang berniat  mendaftar KPUM bilang,” Edan sekali ya?! Aku kok nggak habis pikir dengan kelakuan mereka.”

Terbentuknya KPUM dan kapan seleksi KPUM pun lepas dari pantauan pers. Mantap sekali ya sistemnya. Seperti berada di luar angkasa saja. Orang-orang yang bisa mengetahui keindahan di dalamnya harus mengeluarkan kocek puluhan juta.

Eh,eh,eh, model demokrasi macam apa kalau kejadianya seperti ini? mungkinkah akal sehatku belum cukup untuk memikirkan konsep demokrasi yang harus  ditetapkan? Sehingga hanya orang-orang yang superiorlah yang dapat menangkap alur permainan ‘mereka’? Parahnya lagi, perubahan kebijakan yang sudah ditetapkan jadwal pendaftarannya, secara otomatis berubah dan pendaftar yang ditetapkan sebelumnya harus memperbarui persyaratannya. What?!! Gilakan ? Memang gila. Kalau nggak gila, bukan ‘mereka’! Eh, maksudnya tidak akan  ada aksi “Tolak Pemilwa” dari aliansi mahasiswa sipil di kampus.

Muncul keunikan lagi, kebijakan yang dijanjikan bisa dinego untuk diundur waktu pelaksanaan dan persyaratannya bagi calon, eh ternyata dibatalkan setelah diadakan konsolidasi yang kedua. Kamu bingungkan? Sama penulis juga bingung melihat permainan-permainan ‘mereka’!

Sebenarnya motifnya itu apa ya? Bukannya mereka semua itu tahu bahwa hidup yang abadi di akhirat  dan di dunia hanya fatamorgana. Bukannya mereka mengamini itu? Inikah yang harus dijadikan panutatan kita sebagai mahasiswa si kampus yang pada namanya ada Islamnnya?![]

*Penulis merupakan mahasiswa sipil yang tengah asik mengamati pemilwa di bawah pohon beringin Multi Purpose.

Ilustrasi: https://www.google.co.id/search?q=Karikatur+tentang+perebutan+kekuasaan

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of