Published on April 21, 2018
*Oleh: Tsaqif Al Adzin Imanulloh
Setiap manusia pasti memiliki identitas budaya masing-masing. Identitas merupakan isu inti dari kehidupan sebagian besar manusia. Identitas terkait dengan siapa diri kita dan bagaimana orang lain berpikir tentang kita. Selain itu, identitas ialah tentang kesamaan apa yang individu miliki dengan sejumlah orang dan apa yang membedakan dengan orang lain. Identitas pada dasarnya mengacu pada perspektif reflektif orang terhadap orang lain.
Kebudayaan mencakup ruang lingkup yang komprehensif, yang wujudnya dapat berupa kebudayaan hasil rasa atau system budaya (norma, adat istiadat) hasil cipta (fisik) dan konsep tingkah laku (sistem sosial). Ada pula tujuh unsur budaya salah satunya adalah bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi. (Priandono, 2016)
Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam etnis dan budaya yang berbeda. Bahkan di suatu wilayah pun memiliki ragam budaya yang berbeda pula. Untuk itu, sangat penting bagi masyarakat untuk saling menghargai dan memahami setiap perbedaan tersebut agar terjalinnya kerukunan dan hubungan sosial yang baik.
Agar hal tersebut dapat diwujudkan, maka setiap masyarakat harus dapat menghargai setiap budaya yang ada dan tidak menganggap bahwa hanya budayanyalah yang terbaik. Karena pada dasarnya semua budaya itu adalah baik. Tidak ada budaya yang buruk. Hanya saja terkadang ada budaya-budaya yang saling berseberangan sehingga timbul salah persepsi di masyarakat. Untuk itu penting sekali bagi kita untuk mengenal budaya daerah lain agar kesalahpahaman dan perbedaan persepsi tidak terjadi ataupun berujung konflik.
Seringkali kita tanpa sadar menyamakan seseorang dengan orang lain dikarenakan berasal dari kelompok atau budaya yang sama. Hal ini dilakukan atas dasar persepsi kita terhadap suatu kelompok yang mengakar secara terus menerus.
Stereotip menjadi salah satu dari beberapa faktor yang dapat menghambat komunikasi lintas budaya. Karena stereotip tersebut dapat membuat kita terlalu cepat mengambil kesimpulan terhadap seseorang tanpa mengenal karakter orang tersebut secara individual.
Sebagai contoh, orang Suku Batak. Orang-orang seringkali mengasumsikan bahwa keturunan batak pasti mempunyai cara bicara yang garang, tempramen, dan lugas. Sehingga, orang menjadi skeptis ketika sedang berbicara dengan orang berketurunan batak. Dengan cara bicara yang keras dan apa adanya sudah menjadi ciri khas keturunan batak. Itu merupakan stereotip dalam konteks lintas budaya.
Lain halnya dengan orang berdarah jawa. Orang-orang banyak mengatakan bahwa keturunan jawa memiliki sifat yang lembut, pemaaf, dan menerima apa adanya. Sebagai contoh, ketika orang salah mengambil barangnya, maka orang jawa akan mengatakan, āMaaf, itu milik Saya.ā Ini karena orang-orang banyak mengatakan bahwa orang jawa merupakan keturunan ningrat bahkan keraton. Jadi, cara berbicara dan melakukan apa pun dengan sangat hati-hati dan lamban. Seperti dalam peribahasa jawa: Alon-alon asal kelakon atau dalam bahasa Indonesia berarti āPelan-pelan yang penting dilakukanā. Tentu dari peribahasa tersebut, sudah melekat dalam asumsi orang-orang tentang orang jawa.
Orang batak dengan orang jawa tentu bertolak belakang. Orang batak mempunyai karakteristik yang lugas dan ceplas-ceplos sangat berbeda dengan orang jawa yang dalam berbicara harus memikirkan perasaan lawan bicaranya dan menjaga tata krama. Maka dari itu orang jawa memiliki pakaian adat untuk kepala yang dinamakan Blangkon.
Banyak orang yang mengamini mengenai filosofi blangkon tersebut di mana pada bagian belakangnya ada semacam gundukan. Gundukan itulah banyak orang yang mengatakan bahwa itu merupakan isi pikiran orang jawa yang tak kuasa untuk dikeluarkan dengan alasan tak mau cari masalah, menjaga tata karma, dan menjaga sifat kelembutannya itu.
Ini tentu menjadi hambatan dalam proses interaksi lintas budaya. Orang-orang mungkin menjadi ragu ketika ingin berbicara jika lawan bicaranya adalah orang dengan memiliki latar budaya berbeda. orang-orang yang memiliki karakteristik lugas seperti orang batak mungkin akan merasa tidak enak hati ketika berbicara dengan orang jawa dengan alasan melukai hati lawan bicaranya. Sama halnya dengan orang batak yang akan merasa dirinya taka da celah atau kesalahan jika orang jawa tak mau mengkritiknya secara blak-blakan.
Berdasarkan kasus di atas, dapat memberikan gambaran bahwa manusia dalam menilai orang lain, terutama yang bukan bagian atau diluar komunitasnya, disadari atau tidak seringkali terjebak dalam stereotip dan overgeneralisasi budaya (Suranto, 2010). Inilah beberapa citra kesukuan yang seringkali menyebabkan terjadinya kekeliruan pemahaman dalam komunikasi.
Dalam lingkup komunikasi global, kita sering menghakimi bahwa orang barat sebagai manusia yang kurang sopan hanya karena, misalnya ada perbedaan nilai kesopanan dalam penggunaan tangan kiri dan kanan. Karena dalam budaya Indonesia, penggunaan tangan kiri dianggap kurang sopan, hanya tangan kananlah yang dianjurkan dalam memberikan atau menunjuk sesuatu. Hal inilah yang seringkali membuat kita terjebak dalam stereotip dan overgeneralisasi budaya, yang seringkali menghambat komunikasi atau interaksi lintas budaya bahkan berisiko terjadinya ketersinggungan budaya.
*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2017.