189 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on April 3, 2018

 

Mencari Prasasti
*
Untuk Bayi Sasmita Devi

 

I

Tidak usah pergi ke pemakaman, Sasmi

Ibu tidak ada di sana

Di belakang ada beberapa biji kopi

Mainlah Cublek-Cublek Suweng dengan bapak

Bila sore sudah tiba, sertai  burung-burung  dara  pulang ke rumahnya

 

II

Suaramu begitu melengking

Tapi nampaknya bukan suara menangis

O,  bayi mungil…

Tidak ada yang perlu ditakutkan di malam hari

Dengarlah, bapakmu menyanyi tak lelo- lelo ledhung

Suaranya sahdu dan penuh kasih

Kamu tertawa nakal dan tidak lekas tersirap

 

III

Hari ini kamu sungguh rindu dengannya

Ibumu telah berangkat pagi-pagi buta

Menuju ladang sengon dengan rerimbunan semak belukar

Ada kau tahu Nak, seperti apa itu pohon sengon?

Ia kecil, rapih, selalu menatap ke depan dan menjulang anggun

Rawan sekali terkena guncangan angin

Tapi ia tetap berdiri anggun!

 

IV

Hari ketujuh

Perempuan yang kau rindui masih berjibaku di ladang sengon

Besok dia akan pulang

Membawa madu

Karena tahu

Kau sudah kenyang minum ASI

 

V

Semua burung dara telah pulang

Anak manis terpaku dengan perasaan marah

Anak manis menangis

Bapak  menyuruhnya menangis lagi!

Tak apa, kau memang harus menangis dengan merdeka

Dari bayi, kau  sudah dididik tegar

Menyerupai karang!

Menagislah

Asal jangan mengemis

 Menjilat

 Merampok

Tiada yang pernah mengajarimu sebegitu lemahnya

 

VII

Mengapa ibu pergi lama sekali?

Karena ibu tidak hanya membawa madu

Tapi juga prasasti dari nenek moyangmu

Nanti malam ibu bacakan ya isinya

 

 

Cermin

a

Hari sudah petang

Pasar nyaris tutup

Belum juga Nona temukan cermin?

k

Cermin-cermin di pasar hanya menampakkan riuh

Aku  mencari pantulan kemurnian

Meski hanya pantulan

 

a
Sayang, di pasar tidak dijual yang begituan

Semua cermin telah tercampuri

Menyatu bersama

Narasi kecantikan

Obat pemutih

Pil pelangsing

Pun Shampo pelurus rambut

 

K

 Sebatas itukah  cermin yang ada di pasar?

Aku tidak percaya!

Senyatanya Nelson Mandela

Telah merobohkan jurang beracun

Antar kulit hitam dan putih

Rambut keriting dan lurus

Aku tak jadi beli!

Aku tak  percaya pada cermin-cermin pasar!                       

 

Peta Bawang Merah

Pada arus ia mendayung

Pada angin ia belokkan cadik

Ia tahu kemana akan menuju

 

Peta perjalanannya seperti menyusuri bawang merah

Memutar hingga ke inti

Mencari muasal pemberangkatan diri

 

Pada inti, ia sinarkan damar

Terangi apa yang telah dianggapnya gelap

 

Ia  cintai kegelapannya

Sebagaimana ia cintai sejarahnya

Sebagaimana ia cintai ketiadaannya

Dalam ketiadaan, ia tumbuhkan kunang-kunag

Untuk   menerangi yang ada setelahnya

 

Afin Nur Fariha
Perempuan yang gembira ketika mengidentikkan diri sebagai pohon kaktus.

 

Gambar: Kompas.com