78 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on March 31, 2018

Perjalanan Penyair

*disebabkan Putu Oka Sukanta

 

/1/

Dari Kebumen ke Madiun

Berjibaku di Yogyakarta

Banyak orang mengecap aku pemberontak

Di bawah kendali jagal-jagal lama, kesadaran mereka sirna

Kata orang, “Ketika jurnalisme dibungkam : sastra harus bicara!”

Tetapi ruang-ruang budaya dan sastra telah bengkok pula!

 

Penyair ditendang ke ruang sepi

Sedikit dari mereka kembali dan menggugat kata-kata telah istirahat!

Sementara penyair-penyair tua kaki tangan jagal-jagal lama membangun poros jalur lupa

Lupa bahwa di negeri ini kita semua bukan turis!

Lupa bahwa kemerdekaan adalah cinta yang mesra dan menebar pada setiap mata pengemis

Lupa bahwa saudara setanah air kita disikut dari ruang hidup

dan bukan main tanggung dengan intimidasi, teror, kekerasan bahkan kalau perlu dibikin mampus!

 

Penyair muda kau duduk dimana?

Penyair muda kau tunduk pada siapa?

 

/2/

Jika aku ke Jakarta, tidak akan kukencingi pusat pemerintahan yang duapuluh dua tahun silam menyudutkan Ibu dan aku pada ambang batas kematian

Tetapi, akan aku tulis kesaksian mereka yang dilumpuhkan

dan kubaca keras-keras di depan muka kepala negara

 

/3/

Telah muak aku saksikan pembangunan ekonomi dan amanat UUD kerap diingkari

Tanah air dikapling-kapling, ditanami modal asing

dan penggusuran tinggal menunggu antrian

 

/4/

Maka kutegaskan kepadamu, perjalananku bukan perjalanan penyair!

Perjalananku, perjalanan anak semua bangsa merajut harkat kemanusiaannya

Dengan jalan manapun!

 

Yogyakarta, 24 Maret 2018

 


Yogyakarta, 22 Maret 2018

 

Kekasihku

Datang

Bersaksi

Pergi

Meninggalkan kesaksiaannya

yang tenggelam dalam kepalaku :

Di kerongkongan majiakannya yang brengsek, ada tangga menuju ke bawah

Liang kemanusiaanmu hilang

Di kerongkongan kepala penjara, ada tangga menuju ke bawah

Kandang karibmu mendekam dan pemerasan uang dibenarkan

 

Yang bergejolak dalam kepalaku :

Jangan harap kumpulan sajak penyair picisan tentang pengalaman onaninya yang laku diburu di toko-toko buku itu!

 

Rumah

*buat Muhammad Arifuddin Adli

 

Apakah kita punya rumah?

Sampai tak ada satu cerita bahkan satu katapun yang mewakili sekelumit kesaksian!

Apa kita masih punya kesaksian untuk dibicarakan?

 

Apa kita ini memang sebatang kara?

Kakek dan Nenek cuma sepasang kijang kencana?

Mamak dan Bapak cuma roda sepeda tua?

Tetangga? Oh ya, biarlah! Kesaksian mereka biar Indonesianis bergelar saja yang tulis!

 

Rumah?!

Apa benar kita pernah punya?

Kita tercerabut

Kita melongo

Lihat! Rombongan turis itu menikmatinya!

 

Yogyakarta, 28 Maret 2018

 

 

Tulislah Kesaksianmu!

*buat Fika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yogyakarta, 22 Maret 2018

 

Eko Nurwahyudin, lahir di Kebumen pada 11 Januari 1996. Besar di Madiun. Aktifitas utama belajar di Yogyakarta. Aktifitas sambilan berdiskusi meluruskan stigma negatif beberapa mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terhadap para perantau asal Madiun.

 

Foto: Ni’am