380 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on April 14, 2018

Bulan Muncul di Dada Kami

Bulan masih muda waktu itu,
sedang bintang hanya berkelip, berkedip, dan terselip
di antara puing-puing malam yang menyembunyikan sayap bidadari

Begitulah malam,
Hanya bisa merebut cahaya
Lalu bagaimana bulan bisa menari sambil menemani kami bermain halma di serambi
Malam sudah melumatnya seperti buah kesambi
dan membaringkannya di keranda bersama sunyi

Neon-neon berkampanye menjadi bulan
dari ruang tamu hingga wc
lalu menyatu seperti donat

Tapi bulan kami tak seperti itu
Bulan kami purnama dengan pancaran nur yang selalu berkelindan di segala ruang
di hati kami, hati yang membutuhkan kehangatan
kala matahari pergi ke luar kota
mata dan mulut tak pernah mengatup

“Karena kuingin selalu ada bulan di sampingku.”
kini, kami bisa tertawa geli setiap melantunkan kidung rembulan
sebab setelah itu bulan-bulan muncul di dada kami

 

 

 

 

Karena Tak Ada Oase di Dadamu

menjelang senja aku terkapar di atas pahamu
selembut puisi
sebab cakrawala terlalu silau untuk kautatap
dalam lumatan sajak-sajak Rumi

di bandara layangan ujung desa, sayapku mengepak bak capung
membawa surat bumi pada langit
tentang datangnya kapal nuh
dari laut yang dibelah dengan tongkat musa

wajahmu selalu pucat kala bulan
datang dengan sebilah arit
dan i’tikaf bintang-bintang membuatmu
tenggelam dalam permainan monopoli

sementara itu,
anak kecil telanjang saat hujan merayunya
demi melampiaskan nafsu langit
: demi senja apabila tersenyum

akan kuteguk embun di kening dan bibirmu
walau matahari meniadakannya
: tak melunasi yang lebih indah

lalu di dadamu kutanam cinta angin
yang berembus
menembus
menghunus dedaunan

saat kuterima selembar daun
dari seekor kupukupu
mataku tak lagi melihat
berembus
menembus
menghunus
karena tak ada oase di dadamu

 

 

 

DUA PERIHAL PENGANTAR TIDUR

I

Bilamana kau ucap aduh pada batu

yang membuatmu terpeleset jatuh

pastikan hatimu setulus aku

biarkan darahmu mengalir

agar daging tubuhmu menghirup udara segar

yang selalu sabar memompa uraturat nadi di jantungmu

 

teruslah memandang jauh

sampai sebuah kalimat usang tiba di kepalamu

dari masa lampau yang kau mulai lupa siapa pengarangnya

: “tak ada yang lebih tulus mencintaimu dibanding aku”

Yang tak lupa luput lelah

Memanggil pedang pencabut nyawa.

 

II

Di sebuah pigura

waktu sejenak singgah

membekukan dirinya pada senyumanmu

 

ia mulai nyanyikan kidung suka dan duka kemarin

atau segulung benang bermata pancing

yang kau urai, ke arah masa yang akan datang

kabulkanlah, meski tak semua, Tuhan

 

Lalu hujan dan angin musim

Terus menderu

Terus berderai

 

Menyaksikan sejauh apa

Ketabahanmu tumbuh dan berbuah

Permen lolypop di bibir dan lidah manisan

 

 

Bayang-Bayang yang Meneteskan Darah

Pada musim dingin yang luka

Tak terdengar lagi derai kemanusiaan

Yang nampak di depan cermin hanyalah batu-batu yang dungu

Langit seketika runtuh dalam lipatan darah

Tiada persinggahan lagi untuk menatap matahari

Kegelapan teknologi telah begitu jauh menjadi kepala ruhani zaman

Semua yang diperebutkan hanyalah asap perih yang bertiup dari kegelisahan

 

Pagi itu aku berdiri pada ketinggian salju yang panas

Kaki berhamburan bagai debu-debu Tuhan

Kuteriakkan pada awan tentang anak yang kehilangan kepalanya

Namun, ternyata suaraku hangus

Menjadi semata bayang-bayang yang meneteskan darah

 

 

*Tsaqif Al Adzin Imanulloh, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 yang merasa hidup ialah sekumpulan ambisi.