12 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Published on July 7, 2018

Oleh: Afin Fariha*

“Pada akhirnya, kita hanyalah tiruan yang menatap sebuah tiruan, pada tiruan dan tiruan,” pada suatu siang, saya menemukan sebaris kalimat itu di akun instagram salah satu sahabat saya, disertai sebuah foto sosok seorang perempuan yang sedang menatap kamera. Bidikan kamera itu berfokus pada sebuah cermin yang juga menampakkan bayangannya.

Saya tertarik untuk merenungkan kembali sebaris kalimat yang saya baca tersebut. Hingga setelah proses merenung usai, kesimpulan saya berakhir bahwa saya menyetujui; barangkali kita hanyalah sebuah tiruan dari mana-mana, sebuah konstruksi dari berbagai iklan yang ditawarkan oleh para produsen. Lalu, tersembunyi dimanakah diri kita yang oetentik?

Belum genap dua minggu saya kembali ke Jogja, setelah hampir satu bulan mengisi liburan di kampung halaman bersama keluarga. Masih terbayang segar diingatan saya, tentang keponakan-keponakan yang rata-rata masih duduk di Sekolah Dasar, juga paman, bibi, kakek, nenek, rupanya kami sering berkumpul di ruang TV. Keponakan saya sering tiba-tiba merajuk kepada ayah dan ibunya untuk dibelikan makanan, kosmetik, mainan, alat mandi, yang sesuai dengan iklan-iklan yang ditawarkan di TV. Itu membuat paman dan bibi saya lumayan sering merasa jengkel, padahal barang-barang tersebut tidak benar-benar mereka butuhakan.

Kesadaran Konsumerisme

Berbagai iklan yang ada di TV, secara tidak langsung dan sangat halus, mengkonstruk kesadaran kita untuk memiliki atau membeli barang sesuai dengan yang ditawarkannya itu.  Iklan pandai sekali membuat sebuah mitos bahwa seolah-olah kita  membutuhkan barang-barang tersebut.  Manusia modern semakin diarahkan untuk konsumtif.

Dalam bukunya : Masyarakat Konsumsi, Jean Baudrillard, menarik sebuah analisis tentang gerak kapitalisme yang semakin pandai menyesuaikan diri dengan zaman. Jika Karl Marx berasumsi kapitalisme akan runtuh dengan sendirinya karena terjadi over produksi, sementara para buruh tidak dapat membeli produk perusahaan yang berlimpah itu, maka perlahan-lahan kapitalisme akan memudar dengan sendirinya.

Namun, di sini Baudrillard membaca hal lain, yang ternyata over produksi itu juga harus diimbangi dengan over konsumsi, sehingga gerak perputaran modal akan tetap sehat.

Ia menyebutkan proses monopoli tidak hanya terjadi di wilayah produksi, tetapi juga monopoli di wilayah konsumsi. Tingkat konsumsi seseorang akan membawanya pada tingkat kelas sosial. Kemudian seseorang akan berbangga dan diakui berdasarkan barang-barang yang mereka konsumsi.

Pengakuan kedirian seseorang tidak lagi dominan di wilayah jasa atau karya, tetapi dari barang-barang yang mereka konsumsi. Hal tersebut menyederhanakan  pola pikir kita sebagai seorang pemuda, yang hanya diarahkan untuk berorientasi materialis, sehingga kadang kita menjadi tutup mata terhadap masalah-masalah sosial di sekitar.

Sementara tidak bisa dipungkiri, di berbagai wilayah desa, rata-rata media informasi masyarakat adalah televisi. Di sisi lain, televisi adalah distributor yang paling ampuh untuk menjajakan berbagai macam produk. Kesenjangan sosial terbentuk dari hegemoni iklan dan kemampuan untuk membeli barang-barang tersebut.

Televisi dan Tayangan Bias Gender

Selain iklan, program acara di Tv juga banyak yang berbau bias gender dan tidak mendidik. Program Karma adalah salah satunya, yang mana dalam program tersebut, kesedihan dan kesengsaraan seorang perempuan sering kali dieksploitasi demi kebutuhan rating. Partisipan program Karma rata-rata adalah seorang perempuan yang terkena konflik dan kekerasan rumah tangga. Dalam konteks ini, Tv membentuk dan mempertontonkan sebuah narasi tentang kekerasan-kekerasan yang dialami seorang perempuan.

Tidak jarang pula, kalimat caci makian menggema diucapkan oleh sang aktor. Realitas semu yang diproduksi oleh Tv, lama-kelamaan dan tidak menutup kemungkinan akan ditiru dan diproduksi berulang-ulang pada kehidupan nyata oleh masyarakat. Seolah-olah penganiyaan, penghinaan dan kekerasan adalah hal yang wajar. Seolah-olah perempuan adalah mahluk yang lemah dan biasa teraniaya.  Tentu hal ini sangat bertentangan dengan cita-cita humanis dan emansipatoris. Bahkan, dapat perlahan-lahan merusak mental bangsa.

Tayangan-tayangan berbau kekerasan kental sekali kita temui pada berbagai chanel program Tv, hal ini sekaligus mendegradasi jati diri masyarakat Nusantara, yang mana terkenal dengan berbudi luhur dan berhati lembut.

Ironinya,  sebagaian besar masyarakat kita masih berkiblat pada Tv, bahkan menjadikan Tv sebagai media primer dalam mendapatkan informafi. Sekalipun demikian pelik, saya masih punya optimisme, bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki nurani yang kuat dalam melawan gempuran-gempuran hipperealitas yang diciptakan oleh Tv.

 

*Penulis adalah mahasiswi Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.